“Tuhan mencari hati yang rela”: Sr. Hilde Fatin, FdCC Suster Canossian

God is looking for willing hearts… God has no favourites. You do not have to be special, but you have to be available (Winkie Pratney)

Ketika membaca kutipan Winkie Pratney, saya dibawa kembali kepada pengalaman menjadi seorang misionaris. Tidak pernah terlintas di benak saya kalau Australia akan menjadi lahan misi bagi saya. Pertanyaan yang muncul ketika saya mendapat tugas perutusan ini adalah why me? Apa yang dapat saya berikan kepada umat-Mu Tuhan? Tidak ada yang istimewa dari saya yang dapat saya persembahkan kepada-Mu.

Akan tetapi kutipan ini kembali meneguhkan saya bahwa “Tuhan mencari hati yang rela … Tuhan tidak punya favorit. Saya tidak harus spesial, tetapi saya harus siap sedia ”.

Kalimat inilah yang mendorong dan memotivasi  saya. Memang benar bahwa Tuhan mencari hati yang rela, yang mau memberi diri tanpa menimbang apa yang akan dihadapi nantinya. Kenapa saya harus khawatir? Kemudian saya kembali ditegarkan dengan sabda-Nya

“Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mateus 6:25:34).  

Tuhan sudah mengatur segalanya.Tuhan akan menyediakan segalanya jika saya dengan iman yang teguh percaya bahwa Dia akan memberi yang terbaik kepada saya. Dengan bekal iman dan pengharapan yang teguh, saya pun menerima tugas perutusan ini dengan penuh keiklasan. Dalam hidup bermisi tentunya setiap orang dihadapkan dengan pengalaman suka dan duka. Keduanya adalah kunci dalam meraih sebuah kesuksesan.

Pengalaman suka mengajarkan kepada saya untuk selalu bersyukur dan memberi yang terbaik kepada Tuhan. Pengalaman duka memberi saya pelajaran untuk tidak pernah give up, belajar dari kesalahan untuk bisa menjadi lebih baik.  Bekal yang saya petik dari pengalaman bermisi khususnya di Australia adalah belajar nilai-nilai kebersamaan. Australia adalah negara multikultural; orang-orang dari budaya yang berbeda berkumpul untuk merayakan dan berbagi tradisi mereka yang berbeda.

Dalam kerangka hukum, warga Australia memiliki hak untuk mengekspresikan budaya dan keyakinan mereka dan berpartisipasi dengan bebas dan leluasa dalam kehidupan nasional Australia. Setiap penduduk Australia diharapkan untuk menjunjung tinggi prinsip dan nilai-nilai bersama yang mendukung life style Australia. Nilai-nilai ini termasuk: menghormati martabat dari setiap individu, setiap orang diberi kebebasan untuk berbicara, kebebasan beragama, kesetaraan di bawah hukum, kesetaraan antara laki – laki dan perempuan dan yang terakhir kesetaraan kesempatan. Kesempatan selalu ada bagi mereka yang mau mencoba.

Kepedulian yang besar dari setiap individu kepada para pendatang merupakan nilai yang paling menonjol dari budaya Australia. Mungkin nilai inilah yang membuat setiap orang menjadi betah dan kerasan bila berkunjung ke Australia. Gaya hidup mereka yang lay back; easy going, rileks, atau menciptakan suasana kasual membuat setiap orang merasa bebas untuk berekspresi.

Hal yang sangat memprihatinkan di dalam bermisi di negara Australia adalah kurangnya minat orang-orang muda untuk mengembangkan iman mereka khususnya bagi yang beragama Katholik. Orang–orang muda jarang menghadiri misa pada hari Minggu, ataupun aktivitas-aktivitas gereja yang digelar oleh keuskupan. Mereka lebih mementingkan hal-hal yang menyenangkan. Kalau diberi pilihan antara menonton Rugby/Football atau konser dengan gereja, mereka pasti akan memilih olahraga atau konser.

Tuhan selalu menjadi pilihan kedua atau tidak sama sekali. Tapi inilah tantangan bagi religius untuk bisa memberi kesaksian hidup yang nyata di tanah misi. Untuk itu, seorang misionaris harus sekreatif mungkin dalam menyampaikan pesan Injil kepada orang-orang muda. Tidak harus dengan cara yang luar biasa tapi dengan hal-hal sederhana yang dapat menyentuh nurani anak-anak muda.

Kebetulan saya berkarya dalam bidang pendidikan, khusus di sekolah-sekolah Katolik masih ada aktivitas yang berkaitan dengan pengembangan iman anak. Akan tetapi, di sekolah-sekolah milik pemerintah, kurang atau sama sekali tidak ada. Hal lain juga yang saya temukan dalam bermisi di negara Kanguru adalah banyaknya single parents, tingkat penceraian yang tinggi di kalangan masyarakat sehingga menimbulkan kurangnya rasa cinta dari ayah atau ibu terhadap anak-anak mereka. Anak-anak merasa kehilangan figur ayah atau ibu. Perasaan cinta yang seharusnya mereka peroleh dari kedua orang tua tidak mereka dapatkan sepenuhnya.

Sebagai seorang religius muda terkadang saya merasa bimbang dan ragu untuk melangkah. Apa yang dapat saya berikan kepada anak-anak ini agar merekapun bisa merasakan kalau Tuhan mencintai mereka? Karya Roh Kudus memang luar biasa. Ketika saya bersandar kepada-Nya seakan beban yang begitu berat menjadi sangat ringan. Melalui pelayanan yang sederhana kepada mereka di paroki atau di sekolah tanpa saya sadari anak-anak ini merasa adanya perhatian dan cinta dari para suster.

Sungguh karya Tuhan sangat nampak ketika saya ikhlas memberi waktu dan diri kepada mereka yang sangat membutuhkan. Kata penutup dari refleksi singkat ini adalah “You are where God wants you to be at this very moment. Every experience is part of his Divine plan”.

By Sr. Hilde Fatin, FdCC Suster Canossian yang berkarya di Brisbane-Australia