Tuali: Mau Mendata Umat atau Mendata Maut?

“Kunjungan pastoral selama dua hari selain mendata umat, kami pun mengisinya dengan kegiatan doa rosario setiap malam. Cukup banyak umat datang meski mereka sendiri belum fasih berdoa rosario dan doa-doa dasar lainnya”

Pada tahun 2017, Keuskupan Jayapura mencanangkan program pastoral berbasis data. Dalam usaha untuk mewujudkan program ini, Paroki St. Bonifasius Ubrub-Dekenat Keerom mulai melakukan pendataan umat di stasi-stasi.

Dari Paroki Bonifasius, Bapa Yakobus Pull, Bapa Agus Pull, Rani Pull dan saya diutus untuk mendata umat di Kombas (Komunitas Umat Basis) St. Matius Tuali. Kami berangkat pada tanggal 18/10/2017.

Tauli adalah salah bagian dari Stasi Sta. Maria-Semografi. Kombas St. Matius Tuali ini terdiri atas 14 KK. Letaknya  jauh di titik batas Republik Indonesia (RI) – Papua New Guine (PNG).

Kami pun memulai perjalanan dari Semografi menuju Tatakra – Tuali dan Jember sebelum kembali lagi ke Semografi. Bekal kami seadanya. Kami berjalan bersama menyusuri sungai, memanjat gunung menuruni tebing sekaligus berkarang. Ini menjadi pukulan keras bagi langkah keberanian kami.

Setelah berjalan sejauh dua jam dari Semografi, kami pun tiba di Tatakra. Kami berempat memilih menginap di rumah petugas pastoral di Tatakra sebelum besok pagi melanjutkan perjalanan ke Tuali.  “Kita tidur di Tatakra besok pagi baru kita lanjut…” Bapa Agus angkat bicara.

Keesokan harinya, tepat pukul 08.00, kami melanjutkan perjalanan. Aneka cerita tentang persoalan hidup umat, tanya jawab tentang kehidupan menggereja, turut jadi santapan selama perjalanan kami. Rani, yang punya luka di kaki, tetap enteng melangkah. Bapak Agus terlihat sabar menuntun langkah lambatku, sedangkan Bapak Yakobus ceria bercerita tentang masa-masa mudanya dulu. “Dulu saya tinggal di Tuali…bersama umat di sana…”

Perjalanan ini akan melewati gunung Tual Pangle. Tempat ini terjal dan berkarang. Bagi saya tempat ini menakutkan. “Pak Guru nanti kita panjat gunung Tual Pangle..” Bapa Agus mengingatkan. Saya kaget dengan diksi “Panjat”. Kata “Naik” gunung tidak berlaku untuk Tual Pangli. “…Apa saya bisa memanjat?”

Setelah dua jam perjalanan, kami tiba juga di kaki gunung Tual Pangle. “Kita panjat ini gunung Pak Guru…” Bapak Yakob memberi semangat. “Ah…pak guru bisa…” jawabku dengan yakin. Keyakinan ini membuatku aman, setidaknya tidak gugup saat memulai langkah pertama.

Selama kurang lebih 10 menit masing-masing kami berusaha menyelamatkan diri dari maut. “Pak guru…hati-hati…” kata adik Rani yang meski lincah mendahului tapi belum juga tiba di puncak gunung.

Konon para tentara yang sering beroperasi di titik batas negara, sering disusahkan oleh terjalnya gunung ini. Selama kurang lebih 10 menit berjuang, kami pun tiba di puncak. Di puncak gunung Tual Pangle kami beristirahat sejenak. Rani dan saya memilih duduk diam, Bapa Yakob dan Agus mengisap Sabok (rokok daun) meski ada beberapa bungkus rokok Surya 16. Barangkali Sabok lebih menghibur dan menyenangkan ketika berada di puncak gunung seperti ini.

Kami pun tak mau berlama lama berada di puncak gunung. Kami pun mengambil langkah untuk turun, melintas dengan penuh hati-hati terjalnya gunung ini.

“Kalau su sampai puncak, nanti tong turun…turun…turun...sampeeeeeeee…..turun…” kata Bapa Ketua Bamuskam Kampung Tatakra. ‘Turun sampai Turun’ Kalimat ini menantang…dan mungkin membosankan. Tak biasa anggota umat mengeluarkan deretan kalimat semacam itu. Baru kali ini saya dengar.

Menuruni tubuh gunung Tual Pangli yang terjal menjadi tangan berikutnya. “Ini kita mau mendata umatatau mau data maut?” Sungutku dalam hati. Betapapun terjalnya gunung ini,  Rani, Bapak Yakob dan Agus menganggapnya enteng saja saat mereka turun…

“Pak guru cara turun yang baik begini,” kata bapa Agus. Ia mengajariku bagaimana menuruni gunung seterjal ini tanpa tali pelindung: menuruni tubuh gunung seperti posisi saat turun dari pohon.

Kurang lebih lima menit dengan penuh hati-hati kami pun  bisa melintas turun bagian tubuh gunung yang terjal. Setelah menuruni  bagian yang terjal  perjalanan masih harus dilanjutkan selama 3 jam lebih, di atas bebatuan karang. Benar apa yang dikatakan…turun…turun…sampeeee turun…terasa sekali…seperti perjalanan yang tak berujung.

Tepat pukul 16.00 kami pun tiba di sungai Tuali. Sejenak kami beristirahat sebelum berjalan melanjutkan perjalanan ke perumahan umat yang letaknya tidak jauh dari daerah aliran sungai.

Kedatangan kami memang tak diketahui dan tak terduga. Meski demikian ketika mengetahui bahwa kami datang dari utusan paroki, serentak mereka pun mulai berkumpul. Beberapa menit kemudian ketua kombas Marius Plum datang menyambut kami dan kami tinggal di situ untuk beberapa hari.

Selama dua hari keberadaan kami di sana, saya selaku guru agama diminta untuk mendampingi anak-anak sekolah khususnya untuk mengajari mereka berdoa, khusus doa- dasar. Pada siang-sore hari kami mulai mendata umat. Satu hal yang mengejutkan saya ialah data umat kombas ini begitu rapi tertulis dalam buku umat kombas. Dengan data ini kami tidak kewalahan dalam mengumpulkan data. Selain itu pada malam hari kami berkumpul di rumah tempat kami tinggal untuk berdoa rosario, sebatang lilin menerangi malam doa kami.

Secara umum, Kombas Tuali ini merupakan salah satu dusun terpencil di paroki ini. Kehidupan mereka seluruhnya ditopang oleh kebaikan alam yang memberi dengan penuh kelimpahan. Dusun yang terdiri atas 14 KK ini memang menyimpan kelimpahan yang nyaris tak ada habisnya; Gaharu, Masohi, binatang buruan dll, melimpah. Barangkali faktor kelimpahan inilah yang mendorong anggota masyarakat untuk menetap di sini.

Meski mereka hidup dalam kelimpahan Alam, pendidikan anak anak tak mereka abaikan. Hal ini terlihat dengan inisiatif masyarakat untuk meminta bantuan ke negara tetangga untuk mendapat tenaga guru.

Pendididkan anak-anak kemudian seluruhnya diajarkan dengan bahasa Inggris. Hal ini mendapat tanggapan serius dari pihak orangtua dan anak-anak. Selain itu, mereka pun sangat mendambahkan kehadiran guru agama seperti tahun-tahun sebelumnya di mana mereka dilayani Guru David dan Simon yang kini telah pulang. Keduanya didatangkan dari paroki Yidam-keuskupan Vanimo-Papua (PNG).

Sebagaimana biasa di daerah-daerah pedalaman, pola hidup sehat selalu menjadi masalah. Umumnya para anggota masyarakat belum mengetahui bagaimana pentingnya hidup sehat: babi-babi dibiarkan berkeliaran di halaman-halaman rumah, kotoran babi pun memenuhi halaman-halaman rumah. Bagi mereka hal semacam ini biasa. Konsep mereka tentang sakit selalu dipahami sebagai akibat dari kemarahan alam atau orang lain dalam bentuk praktik black magic bukan karena pola hidup.

Meski jarang dikunjungi, denyut kehidupan beragama tetap terjaga. Pada hari Minggu mereka tetap setia mengunjungi gereja. Meski doa-doa dasar gereja dalam bahasa Indonesia tidak fasih mereka ucapkan.

Kunjungan pastoral selama dua hari selain mendata umat, kami pun mengisinya dengan kegiatan doa rosario setiap malam. Cukup banyak umat datang meski mereka sendiri belum fasih berdoa rosario dan doa-doa dasar lainnya.

Kunjungan pastoral dan pendataan umat ini barangkali merupakan sapaan bagi mereka bahwa institusi gereja tetap memberi perhatian. Keuskupan melalui pastor dan guru-guru agama berusaha sedapat mungkin mengusahakan pertumbuhan gereja/umat tak hanya sebagai organisasi tetapi juga sebagai sebuah organisme yang hidup sebagaimana dikatakan Uskup Leo Laba Ladjar OFM. (Gody Usnaat)