Trauma dan Tradisi Pesta di Timor Leste

Seiring bergtimor leste5antinya nama, daerah ini pun didera tragedi beruntun. Ketika Bumi Lorosae berganti nama menjadi Timor Portugis, terjadi pertempuran yang mengorbankan sekian banyak rakyat sipil, demikian pula ketika Timor Portugis menjadi Timor-Timur terjadilah perang panjang. Konflik berdarah tidak dapat dielakkan lagi ketika Timor-Timur berubah nama lagi menjadi Timor Leste saat menanggapi opsi yang ditawarkan B.J Habibi, Presiden RI waktu itu: memilih merdeka atau bersatu dengan Indonesia. Dari total 450.000 pemilih, 78,5 % warga Timor-Timur memilih menolak otonomi dan lahirlah sebuah negara baru, Timor-Leste. Tragedi demi tragedi melahirkan Trauma akan perang dan militer yang mengendap di bawah alam bawah sadar kolektif mereka, termasuk yang dialami umat Katolik.

“Di sini kalau menyebut kata, ’bapa’, umat tidak terlalu suka. Kata ‘bapa’ selalu mengembalikan kenangan masyarakat akan peran tentara Indonesia waktu itu, yang bagi mereka, kasar dan melukai hati. Untuk doa ‘Bapa Kami’ pun kami menggunakan bahasa Tetun-Portugis,” demikian komentar Pastor Wendelinus Jebatu, SVD, misionaris asal Manggarai-Flores ini.

Sejak ditabiskan menjadi imam (tahun 2013) Pastor Wendelinus Jebatu, SVD dipercayakan melayani umat di paroki St. Antonius Balibo- Timor Leste. Di tempat misi yang baru, sang pastor menjumpai dua pengalaman istimewa, trauma akan perang dan kuatnya tradisi pesta.

“Di sini masyarakat masih sangat kental memelihara kebudayaan mereka dalam bentuk ritual-ritual adat. Budaya pesta sangat kuat, tentu dengan mengorbankan hewan peliharaan mereka. Selain pesta, juga perayaan pada saat kematian. Di sini kematian dirayakan. Untuk orang meninggal umat bisa mengorbankan lebih dari 10 ekor sapi untuk dimakan bersama. Bisa baca di Warta Flobamore tentang Kore-Metan.”

Apakah upacara adat berdampak juga pada kehidupan menggereja?

“Upacara adat, itu hal pertama yang didahulukan sehingga upacara adat bisa membatalkan perayaan ekaristi. Sebaliknya perayaan ekaristi tidak dapat membatalkan upacara adat. Nah itu uniknya kalau upacara adat terjadi pada hari Minggu. Umat bisa tinggalkan gereja lalu ikut upacara adat. ”

Pastor Wendelinus Jebatu, SVD memandang kebudayaan ini dalam satu kesatuan yang utuh yang bisa mempengaruhi segala lini kehidupan. Untuk itu ia tidak menggunakan pola pastoral, struktural, memaksa umat untuk segera mengubah kebudayaan mereka, tetapi lebih menggunakan pendekatan fungsional, datang kepada umat, mengalami kebersamaan bersama mereka lalu secara perlahan-lahan memberi masukan kepada mereka tentang pentingnya memperhatikan aspek lain, selain urusan adat, misalnya menyiapkan tabungan untuk pendididikan anak.   “Saya tidak berambisi mengubah kebudayaan masyakat sekarang ini juga, karena itu bisa berakibat fatal. ”

Pastor Wendelinus Jebatu, SVD memahami bahwa kebudayaan masyarakat menjadi satu wilayah yang sensitif karena melibatkan seluruh cara berpikir, cara menyakini, cara mengimani, dan cara bertindak dan hal ini ditenun dalam rentang waktu yang panjang. Pada sisi lain tradisi kebudayaan juga telah menjadi jembatan untuk memulihkan kembali relasi yang tercerai-berai karena perang, menyatukan kembali masyarakat yang sebelumnya terlibat konflik yang membawa serta pengalaman traumatis. Untuk itu pendekatan pastoral pun mesti mempertimbangkan aspek-aspek ini.

Meskipun demikian hal itu tidak berarti bahwa Pastor tidak dapat berbuat apa-apa. Kebudayaan masyarakat tidak terganggu tetapi diolah. “Umat di paroki ini pelan-pelan kita arahkan untuk menjadi umat yang mandiri dari aspek ekonomi. Ini hal penting yang sedang kita galakkan di paroki,” Pastor Wendelinus Jebatu, SVD menambahkan. (Bill)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *