Renungan Hari Minggu 13 Maret 2016:Tenang Menghadapi Dan Mengatasi Masalah-(Renungan Minggu 13 Maret 2016 )

Oleh P.Alfons Betan, SVD  (Dosen Kitab Suci STFK Ledalero)

yoh-8-gambar-lainDalam hidup, kita hampir selalu berhadapan dengan pelbagai masalah, baik yang datang dari dalam diri kita sendiri maupun yang datang dari luar.

Pertanyaannya adalah bagaimana usaha kita agar masalah-masalah itu bisa dihadapi dan diatasi dengan baik? Bagaimana  usaha kita agar  kita bisa  memiliki ketenangan batin sehingga dalam ketenangan itu kita dengan bijaksana dapat mengambil keputusan atau jalan keluar yang baik.?

Ketenangan batin itu dimiliki oleh Yesus seperti yang ditampilkan oleh penginjil Yohanes dalam Yoh.8:1-11.  Pada waktu itu, para pemimpin Yahudi (ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi) menghadapkan kepada-Nya seorang perempuan yang menurut mereka kedapatan berzinah.

Musa dalam hukum Taurat memerintahkan mereka untuk melempari perempuan yang demikian. Mereka meminta pendapat Yesus tentang masalah ini. Yesus tahu maksud mereka, yaitu mau menjebak dan mempersalahkan-Nya.

Apa yang dilakukan Yesus? Penginjil memberitakan bahwa Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Hal itu dilakukan-Nya dua kali (Yoh.8.6.8). Rupanya para para pemimpin itu tidak mengerti tentang maksud perbuatan-Nya itu. Karena itu ketika mereka melihat-Nya ‘membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah’ untuk kali pertama, mereka terus-menerus bertanya dan mendesak-Nya agar Ia cepat memberi jawaban.

Atas desakan mereka itu, Ia pun bangun dan  berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh.8:7). Sesudah berkata demikian, Ia membungkuk dan menulis lagi di tanah (Yoh.8:8).

Kata-kata itu Ia ucapkan dari ketenangan batin-Nya. Dengan ‘membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah’ Ia bermaksud mengajak mereka agar bermawas diri.

Penginjil Yohanes tidak menceritakan tentang apa yang ditulis Yesus. Tetapi dengan menulis (diandaikan Ia menggunakan telunjuk-Nya) di tanah, Ia mengajak mereka yang menuding perempuan itu agar melihat ‘tanah’ sebagai simbol kefanaan; bahwa baik perempuan maupun diri mereka sendiri adalah manusia biasa yang diciptakan Tuhan dari tanah, dan mereka semua akan kembali menjadi debu tanah apabila mereka mati nanti.

‘Tanah’ juga menjadi lambang kerapuhan dan keberdosaan. Jadi baik perempuan itu maupun mereka semua adalah orang-orang berdosa. Kini mereka semua berada di hadirat Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu yang  mewahyukan Diri-Nya dalam diri Yesus, Putera-Nya.

Yesus mengajak mereka untuk bermawas diri: “Apakah saya layak dan berhak menuding perempuan itu?” Bedanya dosa perempuan itu, menurut mereka, ia kedapatan berzinah, tetapi apakah orang-orang ini sungguh-sungguh tidak berdosa ? Mungkin dosa mereka ada dan jauh lebih besar, tetapi tidak / belum diketahui publik?

Barangkali masyarakat biasa pada waktu itu merasa segan dan tidak berani berbicara untuk membongkar dosa mereka karena mereka adalah para pemimpin? Atau karena sebagai pemimpin dan berkuasa mereka bisa saja membungkam mulut orang (dengan uang) agar tidak membongkar kemesuman dan penyelewengan mereka ?

Dengan ‘membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah’ sebetulnya Yesus mau mengajak mereka  untuk menjawab pertanyaan ini:”Apa yang seharusnya kamu sebagai pemimpin lakukan agar perempuan ini tidak kedapatan berzinah?”“Apakah adil dan  benar, menuding dan menghakiminya tanpa laki-laki yang berzinah dengannya ?”

Kenyataannya, mereka yang meminta pendapat Yesus, mereka sendirilah yang menjawabnya, bukan dengan kata-kata melainkan dengan tindakan, yaitu kepergian mereka, mulai dari yang tertua. Mereka meninggalkan Yesus dan perempuan  yang tetap berada di tempatnya.

Kepergiaan mereka semua, setelah mendengar kata-kata Yesus (Yoh.8:7) menunjukkan bahwa mereka juga adalah orang-orang berdosa yang tidak layak dan tidak berhak menghukum perempuan itu. Perempuan itu luput dari hukuman mati.

Sesudah mereka pergi, Yesus bangkit berdiri dan berdialog dengan perempuan itu. Ia bertanya: “Hai perempuan, di manakah mereka ? Yesus menyapanya dengan ‘perempuan’ : sebuah sapaan yang simpatik dan memperlihatkan rasa hormat (cf.Yoh.2:4; 19:26; 20:13.15). Perempuan itu menjawab: “Tidak ada Tuhan.” Apakah Yesus harus menghukumnya ?

Hanya orang yang sungguh-sungguh tidak berdosa bisa menghakimi dan menghukum orang berdosa. Yesus sebagai Putera Allah tidak berdosa. Karena itu sebetulnya Ia berhak dan bisa menghukum. Namun dalam peristiwa ini, Ia tidak menghukum.

Hal itu Ia nyatakan bukan saja karena  tujuan kedatangan-Nya ke dunia, yaitu menyelamatkan yang ‘hilang’ atau berdosa, tetapi juga karena ungkapan iman perempuan itu sendiri. Ia menyapa Yesus: “Tuhan.”

Sebagai Putera Allah dan yang memiliki ketenangan batin, Yesus bisa merasakan penderitaan dan harapan perempuan itu. Perempuan itu mewakili kaum lemah dan mereka yang tidak bersuara. Dalam masyarakat Yahudi mereka diperlakukan tidak sewajarnya sebagai manusia.

Atas pertanyaan Yesus, “…Tidak adakah seorang yang menghukum engkau ?” Perempuan itu menjawab : “Tidak ada Tuhan.” Sekarang bagaimana keputusan-Mu ? Jawaban Yesus: “Aku tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berdosa lagi mulai dari sekarang.”(Yoh.8:11).

Ketenangan batin Yesus membuahkan hasil. Ia berhasil menyadarkan para pemimpin Yahudi tentang dosa-dosa mereka dan karena itu mereka tidak boleh seenaknya menghakimi dan menghukum sesama.

Karena merasa dibebaskan Yesus, perempuan itu menyapa-Nya dengan ‘Tuhan,’ Seperti Israel mengimani Tuhan sebagai Pembebasnya (Yes.43:16-21), dan seperti rasul Paulus mengenal Tuhan dan mengimani-Nya lewat pengalaman hidup, khususnya dalam penderitaan (Flp.3:10), begitu juga  perempuan ini. Baginya, Yesus adalah Pembebas dan Penyelamatnya. Ia membebaskannya dari hukuman mati tetapi sekaligus menyadarkannya agar tidak berdosa lagi.

Ketenangan batin Yesus berhadapan dengan masalah berat terletak pada persatuan-Nya dengan Bapa-Nya.  Persatuan itu menjadi kekuatan utama bagi-Nya dalam melaksanakan karya-Nya sekaligus menjadi sumber  keberhasilan-Nya.

Kita belajar dari Yesus yang tenang ketika berhadapan dengan masalah. Ketenangan mengandaikan adanya kedewasaan pribadi. Kedewasaan ini diperoleh lewat kebiasaan berhadapan dengan masalah. Misalnya Ia dicobai Iblis (Mat.4:1-11/parl;  ditolak oleh orang-orang-Nya sendiri (Mrk.6:1-6/parl), tidak dimengerti baik oleh keluarga (Mrk.3:21-22), oleh orang banyak (Yoh.6:14-15), maupun oleh para murid-Nya (Mrk.8:31-33). Ia  dibenci dan diancam untuk dibunuh (Yoh.5:18; 10:22-39) dan akhirnya dibunuh (Mrk.15:20b-41/parl).

Seorang anak  dalam keluarga yang sudah biasa atau dibiasakan oleh orangtuanya untuk bersikap ‘tenang’ berhadapan dengan masalah mulai dari hal-hal  kecil, akan terbiasa juga untuk bersikap tenang ketika  berhadapan dengan masalah-masalah berat.

Sang anak akan membuat keputusan yang tepat setelah membuat pertimbangan yang matang dan bila perlu berdialog dengan orang lain tentang masalah yang sedang ia hadapi. Tentu  saja, sebagai orang beriman, ia akan terlebih dulu berdialog dengan Tuhan sebagai sumber kekuatan dan kebijaksanaan. Ia percaya bahwa daripada-Nya, ia memperoleh inspirasi untuk menempuh jalan keluar yang baik.

Apabila kita tenang seperti Yesus, maka kita pun akan berusaha menyadarkan saudara/i kita akan dosa-dosanya, dan tidak seenaknya menghakimi orang lain. Mungkin sekali dosa mereka jauh lebih besar daripada dosa orang yang sedang mereka tuding.

Kita  pun berdosa karena mungkin sering berlaku seperti para pemimpin Yahudi atau perempuan yang ditunding berzinah itu. Kita berdosa juga karena sering  tidak tenang ketika berhadapan dengan masalah. Hal itu disebabkan karena  kita berjuang sendiri-sendiri tanpa berdialog dengan Tuhan dan sesama. Kita merasa diri ‘mampu’ padahal sebetulnya tidak.

Karena itu keputusan yang kita ambil justeru merugikan, baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Kita yakin Tuhan yang Maharahim mengampuni kita, namun Tuhan berfirman, “Jangan berdosa lagi mulai dari sekarang.”

Kita berusaha untuk bersikap tenang seperti Yesus.  Kita mohon  bantuan-Nya agar  Ia selalu menyadarkan kita untuk menjalin relasi personal yang harmonis dengan-Nya dan membiasakan diri untuk bersikap tenang berhadapan dengan masalah mulai dari hal-hal kecil dan sederhana. (baca renungan minggu)

Ledalero- Maumere, Flores, NTT

Sumber gambar: https://sangsabda.files.wordpress.com/2010/03/yoh-8-gambar-lain.jpg