Suamiku Mogok Bicara!

Pater Thoby Muda Kraeng, SVD, counsellor keluarga

Pater Thoby yang baik dan bijak memahami gejolak rumah tangga. Nama saya Vincentia. Ketika membaca ‘Rubrik Konsultasi Keluarga’, asuhan Pater, saya begitu tertarik dengan ulasannya yang menggugah pikiran dan perasaan untuk mencermati  alasan mengapa masalah-masalah semacam itu sampai meledak. Saya mengalami kesulitan dalam relasi dan komunikasi dengan suami. Setiap kali saya ajak bicara, dia tidak pernah mengeluarkan satu kata pun, cuma angguk-angguk kepalanya, entah tanda setuju atau tidak setuju. Saya tidak mengerti. Tetapi saya sadar dan boleh mengakui bahwa saya lebih banyak bicara ketimbang dia, karena saya orang ekstrover dan dia introver. Akan tetapi aneh! Mengapa dia tidak mau berbicara dengan saya sebagai pasangannya? Saya jadi bingung. Mohon kiranya Pater Thoby bisa membantu menjelaskannya. Terima kasih atas waktu dan perhatiannya.

Wasalam  Vincentia.

Bu Vincentia yang baik.

Orang bijak mengatakan ‘Diam itu emas!’ Suami ibu mogok bicara. Sangat boleh jadi, dia sedang menikmati kata bijak di atas bahwa diam itu emas. Dia tenang dan relaks dan bukan mogok. Bisa juga dia sudah capek mendengarkan ibu, yang sangat jarang memberi kesempatan kepada suami untuk berbicara.

Saya boleh berpendapat bahwa suami ibu pasti senang berbicara dengan ibu, tetapi tidak harus berbicara sepanjang waktu kan? Ibu mengajak dia untuk berbicara, karena ibu sungguh mencintai dia. Dia juga sama bu, mau mendengarkan ibu yang sedang berbicara karena dia sungguh mencintai ibu.

Saya mau bertanya kepada ibu, ‘Mengapa ibu tidak menghormati keinginannya untuk diam?’ Suami ibu adalah tipe lelaki yang suka akan ketenangan dan kedamaian untuk menjernihkan nurani dan kepalanya dari aneka masalah yang menumpuk. Dia memberi dirinya kesempatan berpikir, berproses diri dan mencoba mencari solusi atau jalan keluar yang baik dari aneka kesulitan yang dihadapi.

Bagi ibu Vincentia, berbicara itu berharga dan penting! Mengapa? Karena berbicara dari muka ke muka, dari hati ke hati sebagai pasangan adalah jalan yang paling singkat untuk menjalin relasi yang lebih dekat, akrab dan intim. Suami ibu, tentu mau berbicara, jika memang harus berbicara atau ada tujuannya.

Sebagai masukan bagi ibu, saya boleh mengatakan bahwa semakin stres seorang laki-laki, ia semakin memerlukan ketenangan. Ibu mendampingi suami untuk menolong, tetapi bagi suami, menolong itu berarti hadir diam-diam mendukung suami tanpa banyak omong.

Bagi seorang istri, menolong berarti membicarakan sesuatu yang menjadi sebab-musabab stresnya. Dan ini yang tidak diinginkan suami. Saya kira setelah semuanya beres, ia akan membicarakannya dengan ibu, karena mungkin bagi dia sekiranya membicarakan semuanya kepada ibu, malah menambah beban pikiran dan tekanan. Bagi kaum perempuan, berbicara itu perlu ketika sedang stres. Karena itulah caranya yang paling baik untuk memecahkan masalah hidupnya. Mendiamkan stres itu hanya akan menambah stres.

Suami ibu mogok bicara, kurang komunikatif. Dan sering dianggap tidak mau berkomunikasi. Dan ini justru membuat ibu takut nanti suami tidak perduli pada relasi berdua sebagai pasangan.

Saya sering ditanya, “Bagaimana caranya supaya suami saya mau berbicara dengan saya?” Saya berpendapat bahwa dengan bertanya seperti ini seorang istri  tidak ingin menyudutkan suami dan memaksa dia berbicara. Seorang istri ingin tahu apa yang ada di hati suami. Karena dia ingin memecahkan sikap diam suami dan memperoleh kembali semua cinta yang dinikmati bersama sejak masa pacaran sampai saat mereka  berdua membangun rumah tangga.

Ada ibu yang membuat peryataan ketika berbicara dengan saya perihal macetnya komunikasi dan dialog dengan pasangannya, “Sekiranya suamiku sungguh mencintai saya, dia pasti senang sekali berbicara dengan saya.”

Kalau mau jujur, laki-laki kadang-kadang diam, karena diam itu memberi dia lebih banyak kuasa. Jika seorang perempuan semakin mendorong laki-laki untuk berbicara, penolakannya akan semakin kuat, sehingga mendukung kedudukan suami yang berada di atas angin. Jenis diam yang ‘pasif-agresif’ ini dapat merusak relasi, membuat istri merasa tidak nyaman dan cemas.

Akan tetapi para istri juga hendaknya berhati-hati menuduh suami tentang hal ini, karena jika tidak benar, bisa saja suami lebih ekstrim – justru ia terdorong untuk  lebih diam lagi bahkan menjauh. Dia akan menutup pintu hatinya bagi istri dan mendorong istri lebih jauh, membuat dia merasa ditolak, diabaikan atau tidak dihargai.

John Gottman – pendiri Gottman Institut, dalam bukunya “Why Marriages Succeed or Fail” menemukan bahwa 85 persen suami mendiamkan istri mereka selama terjadi konflik. Hal ini dilakukan dengan alasan yang positif yaitu menenangkan diri agar tidak meledak atau mengucapkan sesuatu yang berakibat fatal.

Akan tetapi akibatnya sering terjadi lingkaran sikap diam yang kurang positif; istri mengeritik lalu suami diam lagi dan seterusnya. Saya kira akar dari dilema ini berawal dari perkembangan ketika kita masih kanak-kanak. Kita tidak dibiasakan untuk berbicara secara berani dan mandiri untuk menyelesaikan masalah secara baik dan bijak.

Suami menginginkan ketenangan dan kedamaian, sedangkan istri hanya ingin berkomunikasi dengan suami. Maka dengan memperhatikan kebutuhan suami akan ketenangan dan kebutuhan istri akan relasi yang intim, saya kira tidak ada bimbingan yang lebih baik daripada nasehat David Clarke yang bijak tetapi tajam: Laki-laki  : berbicaralah.

Perempuan   : jangan terlalu menuntut suami.

Jalan untuk mencapai komunikasi yang berhasil baik adalah suami dan istri harus belajar ‘berterus terang’. Diam dan mendengarkan secara timbal-balik dalam dialog merupakan sebuah pola komunikasi yang baik dan benar.

Untuk segala sesuatu ada masanya:……ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara” ( Pengkhotbah 3:1,7). *****

Sudah diterbitkan di Majalah Warta Flobamora edisi April 2014