Siapa yang Akan Diselamatkan?

jalan-yang-benar

Renungan Hari Minggu 21/08/2016

Bacaan: Yes. 66:18-21; Mzm. 117:1,2,; Ibr. 12:5-7,11-13; Luk. 13:22-30.

“Bejuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Lukas 13:24).”

Jawaban Tuhan yang diplomatis ini diungkapkan untuk menjawab pertanyaan, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Tuhan Yesus tidak menyebut seberapa banyak pintu yang sesak itu, tetapi Tuhan malah mempertegas pernyataan-Nya dengan membuat perumpamaan, tentang tuan rumah yang bangkit dan menutup pintu. Siapa saja yang berada di luar pintu, tidak akan diizinkan masuk, malah mereka yang tertinggal di luar, diperintahkan untuk pergi. “Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Lukas 13: 28)

Teks injil ini membahas dengan jelas kerja sama yang konkrit antara Tuhan dan manusia. Injil Lukas menyebut kata ‘diselamatkan’ bukan ‘menyelamatkan’ itu menandakan bahwa keselamatan adalah anugerah dari Tuhan. Selanjutnya, anugerah ini diberikan kepada mereka yang berjuang masuk melalui pintu yang sesak, mereka ini adalah orang-orang yang berjuang dan mengisi hidupnya dengan perbuatan baik. Mereka menghindari segala bentuk kejahatan.

Tentang orang-orang yang diselamatkan, Tuhan berfirman, “Aku mengenal segala perbuatan dan rancangan mereka, dan Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaanKu.” (Yes 66:18) Jika Tuhan mengenal dengan tepat manusia secara personal, maka segala bentuk negosiasi di luar pintu yang sesak, tidak berlaku. “…Aku tidak tahu dari mana kamu datang…” (Lukas 13: 27)

Sebaliknya, orang yang Tuhan kenal secara personal, disebutnya sebagai anak. “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperintahkanNya karena kasih Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak” (Ibrani 12: 5-7). “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian, ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibrani 12: 11)

Anda lebih memilih untuk tetap tinggal di luar rumah atau masuk ke dalam pintu yang sesak itu? Anda lebih memilih untuk disebut sebagai ‘anak’ ataukah memilih untuk mendapat perintah yang keras, “Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan.”

Firman Tuhan hari ini mengajak kita sekalian untuk berjuang dengan penuh ketekunan, berjuang dengan sungguh-sungguh mulai dari rancangan di pikiran bahwa apa yang kita rencanakan adalah perbuatan baik dan benar, serta apa yang akan kita lakukan adalah perbuatan baik dan benar.

Mari kita memeriksa isi rancangan kita, ‘apakah kita sedang merancang untuk menyelamatkan orang lain atau menyusahkan orang lain? Membantu orang lain atau merugikannya? Menyelamatkan orang lain atau menyesatkannya? Membebaskan orang lain atau membelenggunya? Menunjukkan yang benar atau menyesatkannya? Melalui profesi yang sedang kita jalani, apakah kita sudah dan sering merancang hal yang baik atau hal yang jahat?

Pilihlah jalan yang benar, rancangkanlah hal yang baik dan benar dan bertindaklah demikian. Orang yang selalu memilih jalan yang baik dan benar sangat paham bahwa tindakan ini sering mendapat tantangan bahkan tantangan yang menyakitkan. “Tetapi  kemudian, ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai…” (Ibrani 12: 11) (Bill Halan)

Sumber gambar: https://eikavio.files.wordpress.com/2015/06/jalan-yang-benar.jpg

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *