Saya Dirampok… Saya Disiksa… Saya Terlahir Baru

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html pater yanto bersama anak-anak

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html pater Kristianto,SVD bersama anak-anak

Ini pengalaman pribadi saya. Saya hanya ingin membagikan pengalaman ini. Saya tidak melebih-lebihkan apa yang saya alami. Saya mengingat kembali semuanya; menghidupi kembali teror itu. Saya menulis pengalaman ini dengan rasa sesak di dada. Saya menolak lupa. Ini juga bagian dari katarsis. Pemurnian. Saya ingin kembali meraih kebebasan batin saya. Terima kasih sudah mau membaca…

Salam kasih…

P. Kristianto Naben, SVD

(Misionaris NTT yang berkarya di Brasil)

***

Rabu, 8 Maret 2016.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19:30. Saya baru saja menyelesaikan aktivitas pastoral. Saya mendengarkan pengakuan pribadi dua umat dalam sakramen pengakuan di gereja paroki. Ini adalah paroki kecil yang terletak di sebuah pulau kecil di bagian selatan negara bagian São Paulo, Brasil, Ilha Comprida namanya. Nama pulau sekaligus nama kabupaten. Pulau ini dibatasi dengan sungai Rio Ribeira de Iguape dan laut samudera Atlantik. Begitu dua umat itu pergi, saya masuk rumah paroki. Terali dan pintu depan saya kunci. Begitu juga pintu di depan tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas. Rumah parokiku berlantai dua.

Malam itu saya sendirian. Rekan kerja saya, Padre Danilo, berada di São Paulo untuk urusan kesehatan. Maklum dia sudah tua, berumur 85 tahun. Saya panaskan makanan untuk santap malam. Lalu, duduk di depan TV. Saya putar saluran kesukaan saya, NatGeo. Cerita petualangan dan liputan tentang binatang liar adalah kesukaan saya.

Cuaca malam itu agak panas. Gerah. Saya biarkan pintu yang menghubungkan dapur-kamar makan dengan teras lantai atas terbuka. Setelah makan malam saya cuci piring dan kembali nonton saluran kesukaan saya. Kali ini sambil berbaring di sofa. Lampu di ruang TV saya matikan. Hanya di lorong tengah yang saya biarkan menyala. Sambil nonton saya kutak katik HP. Saya asyik betul menikmati kesendirian malam itu.

Waktu terus berjalan. Sudah setengah sepuluh malam lewat. Cerita petualangan di NatGeo terus berlanjut. Tiba-tiba saya melihat gerakan bayangan orang di belakang saya. ¨Kok Padre Danilo sudah pulang dari São Paulo tanpa kasih kabar terlebih dahulu?¨ pikir saya dalam hati. Spontan saya bangun, menoleh ke belakang. Tak disangka, dua tamu tak diundang sudah ada di belakang saya. Entah dari mana mereka masuk. Yang satu tinggi, berjaket coklat mudah. Yang satu perawakannya kecil, setinggi saya dan berbaju biru. Keduanya berkulit sawo matang.

Yang tinggi langsung mengeluarkan pistol dari saku jaketnya. Ia todongkan pistol ke arah saya. “Diam saja di situ. Jangan bergerak,” perintah dia dengan suara pelan. Saya menurut. “Aduh Tuhan, saya sudah dirampok.”

Yang kecil langsung mengambil HP di tangan saya. Berjalan ke arah jendela dan melihat ke luar. Yang tinggi mendekati saya. Menunjukkan pistol di tangannya. Membuka silindernya dan menunjukkan peluru. Iya yakinkan saya kalau pistol yang ada di tangannya itu bukan mainan. Belakangan saya tahu itu revolver kaliber 38.

“Sudah lihat?” tanya dia. Saya mengangguk diam. Jantung saya berdegup kencang.

Yang kecil langsung bergerak ke laci lemari arsip. Rupanya dia sudah tahu kalau di situ kami simpan uang. Yang tinggi perintahkan saya untuk tiarap di lantai. Saya menurut lagi. Pasrah sudah. Sepintas saya lihat dia ke kamar saya. Dia kembali dengan kabel mikrofon di tangannya. “Kita ikat dia saja,” katanya. Tangan saya dipelintir ke belakang punggung lalu diikat. Kaki saya juga demikian.

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html kaki Pastor Kristianto, SVD yang dilukai

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html kaki Pastor Kristianto, SVD yang dilukai

Saya coba angkat kepala melihat-lihat situasi di sekeliling saya. Si kecil muncul dan …. prakkk… Sebuah tendangan telak di kepala. Kaca mata terlepas dan terbuang ke kolong meja. “Jangan lihat muka saya!” Si kecil berkata dingin. Saya diam menahan sakit. Sejak saat itu saya tidak lagi memandang ke arah dua tamu tak diundang itu. Hanya suara pelan mereka yang saya dengar.

Kumpulan kunci mereka ambil. Saya dengar bunyi pintu di dekat tangga dibuka. Barangkali juga pintu dan terali di depan dibuka. Sudah pasti anggota gerombolan mereka yang lain ikutan masuk. Mereka mulai beraksi dan mencari apa saja yang berharga untuk dibawa.

Salah satu dari meraka mendekati saya. Dia bertanya di mana saya simpan uang. Saya hanya menjawab tidak ada lagi, hanya itu yang kami punya. Mereka tidak mempercayai jawaban saya. Sekali lagi kepala saya ditendang. Saya hanya bisa menahan sakit. Ditanya lagi. Saya berikan jawaban yang sama. Lagi-lagi saya ditendang. Kali ini bagian rusuk kiri.

Seorang dari bertanya di mana rekan pastor saya. Saya bilang dia tidak ada. Rupanya mereka sudah mengamati rutinitas kami dan tahu pasti berapa orang penghuni rumah paroki ini. Dengan suara pelan dan dingin dia bilang akan bunuh saya kalau tidak tunjukkan di mana saya simpan uang. Saya persilahkan dia mencari di kamar-kamar. Ada tiga kamar tidur di lantai atas. Lalu, ikatan di kaki saya dilepas. Saya digiring ke kamar saya dalam keadaan kepala tertunduk. Saya buka laci lemari pakaian. Tunjukkan satu tas tangan. Ada uang di dalamnya. Tas diambil. Saya dipaksa untuk tiarap lagi. Kepala saya ditutupi dengan celana pendek yang mereka temukan di tempat tidur.

Seorang bertanya pelan di telinga saya. “Di mana kamu sembunyikan brankas uang. Dulu saya lihat di kolong tempat tidur kamar sebelah. Sekarang tidak ada lagi. Di mana brankas itu?” Rupanya mereka ini yang Desember tahun lalu menyatroni pastoran ini. Makanya dia tahu betul seluk beluk pastoran. Saya hanya menjawab singkat. “Kami tidak punya brankas. Hanya uang itu yang kami punya.”

Dia mulai marah. Dia todongkan moncong revolver di bagian belakang kepala saya. Tidak puas dengan itu, moncong revolver dimasukkan ke mulut saya. Saya makin ketakutan. Saya diancam akan dibunuh. Kepala saya ditendang lagi. Berkali-kali. Bagian rusuk juga jadi sasaran empuk kaki mereka. Punggung saya juga diinjak. Saya sempat susah bernapas.

Saya hanya mendengar suara gaduh ketika kamar-kamar lain diobrak-abrik. Mereka mencari keberadaan brankas juga barang-barang berharga lainnya.

Tidak puas dengan apa yang ditemukan, seorang kembali mendekati saya. Dia mendesak sekali lagi supaya saya mengaku di mana brankas disembunyikan. Saya tetap berikan jawaban yang sama. Dan kepala saya tetap jadi sasaran empuk kaki mereka. Sudah sekian kalinya kepala saya ditendang.

“Saya ini pastor. Sumpah demi Tuhan. Saya sudah bilang yang sebenar-benarnya. Tidak ada brankas.” Mereka tidak percaya.

“Saya potong jarimu. Saya cabut kukumu.” Kata seorang dari mereka. Seketika saya merasakan sakit di jarí kelingking kanan. Saya merasakan sayatan pisau. Sekuat tenaga saya menahan sakit. Hanya bisa mengerang kesakitan. Lalu saya ditendang lagi. Tutupan kepala saya disingkap. Seorang memasukkan kaos kaki di mulut saya. Dia bertanya lagi di mana brankas itu berada. Saya tidak bisa menjawab.

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html bagian tangan pastor Kristianto yang dilukai

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html bagian tangan pastor Kristianto yang dilukai

Mereka makin brutal. Saya merasakan ada besi panas menempel di lengan kanan saya. Sakitnya luar biasa. Saya dicekoki dengan pertanyaan yang sama. Saya tidak punya jawaban lain. Lagi-lagi mereka tidak mempercayai jawaban saya. Siksaan pun berlanjut. Kali ini kaki kiri saya yang merasakan pisau panas. Dua sayatan besar di paha kiri belakang dekat lipatan kaki. Saya hanya bisa mengerang kesakitan.

Mereka bertanya lagi. Saya tidak bisa berikan jawaban yang lain selain bahwa memang tidak ada brankas. Mereka tetap tidak puas. Dan makin beringas. Kelingking kiri saya kembali jadi sasaran empuk. Setelah disayat-sayat, kini dijepit dengan tang. Saya merasakan sakit yang luar biasa. Tidak puas dengan itu, pisau panas didekatkan ke mata saya. Saya pejamkan mata. Menahan panas dari pisau yang hanya berjarak beberap milimeter dari bola mata saya.

Siksaan dan penganiayaan ini makin menjadi-jadi. Saya sudah tidak mampu bertahan. Putus asa. Rasanya ingin menangis. “Tuhan, kapan mereka akan keluar dari sini?” Saya mulai berdoa.

Seorang mendekat lagi. Ia bertanya, apakah di gereja ada brankas. Saya persilahkan mereka mencarinya sendiri di gereja. Kunci saya tunjukkan. Mereka pun ke gereja yang hanya berjarak beberapa meter dari pastoran. Saya tetap telungkup di lantai. Seorang dengan revolver di tangan tetap menjaga saya. Dia bertanya sekali lagi di mana brankas saya sembunyikan. Saya diam saja. Dia menginjak kepala saya. Lalu dia pukulkan popor revolver itu tepat di ubun-ubun. Panggg… Telinga saya terasa tuli. Mata berkunang-kunang. Saya balikkan kepala saya. Saya rasakan ada tetes darah yang mengalir. Pelipis mata kanan saya ternyata sudah sobek dan berdarah.

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html pelipis Pastor Kristianto yang dilukai

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html pelipis Pastor Kristianto yang dilukai

Di gereja, para perampok itu masuk ke sakristi. Dua piala misa diambil. Pikir mereka piala-piala terbuat dari emas. Tabernakel, tempat penyimpanan hosti kudus, pun dicabut lalu dibawa ke pastoran. Pintu tabernakel dicungkil paksa. Sibori berisi hosti diambil. Hosti kudus dihamburkan ke lantai, lalu siborinya diambil. Tindakan penodaan yang biadab.

Brankas yang dicari tetap tidak ditemukan. Bebarapa barang berharga sudah mereka ambil. Kamera Canon kesayanganku, laptop milikku dan paroki dan dua HP saya juga mereka gasak. Dari kamar rekan pastor saya mereka ambil satu kalung emas pemberian mamanya waktu dia ditahbiskan lima puluhan tahun lalu.

Setelah sekian lama dalam genggaman para bajingan ini, saya mendengar suara bisik-bisik di antara mereka. Lalu, bunyi langkah menuruni tangga. Dan hening. Hanya saya sendirian di kamar dalam keadaan tertelungkup dan terikat. Kurang lebih lima menit lamanya saya terus dalam keadaan seperti itu.

Dengan susah payah saya bangun. Sempoyongan dan nyaris terjatuh. Saya berusaha lepaskan ikatan di tangan. Cukup kuat juga ikatannya. Saya berhasil longgarkan ikatan. Saya menuju pintu. Dengan tangan masih terikat, saya tutup dan kunci pintu kamar saya. Saya duduk sebentar di tempat tidur. Tarik napas panjang. Saya masih hidup. Lalu, saya buka jendela untuk minta bantuan tetangga. Jendela terbuka sedikit. Tapi kemudian saya lihat ada telepon wireless di atas meja komputer. Saya ambil dan mulai menekan nomor telepon rumah salah satu umat paroki, Elzio Moraes. Telepon saya tidak diambil. Sudah lewat tengah malam. Mereka pasti sudah tidur. Saya ulangi sekali lagi. Kali ini, Neidy, istrinya Elzio, yang terima. “Saya Padre Cristiano. Panggil Elzio. Saya dirampok. Segera lapor polisi dan cepat ke sini tolong saya.”

Neidy membangunkan Elzio. Kira-kira sepuluh menit berselang, belum juga ada yang datang. Saya telepon Neidy sekali lagi. Dia bilang, Elzio dan Sebastião Ferreira, dalam perjalanan ke pastoran. Benar. Beberapa saat berselang mereka berdua tiba. Tangis saya pecah. Syukur Tuhan datang bantuan. Ikatan tangan saya dibuka. Selang beberapa saat, polisi dan ambulans tiba. Saya segera dibawa ke rumah sakit. Elzio dan Sebastião membuat laporan polisi.

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html paroki tempat Pastor Kristianto, SVD berkarya

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html paroki tempat Pastor Kristianto, SVD berkarya

Dua hari setelah kejadian paling tragis dalam hidup saya ini, polisi menciduk tiga tersangka. Saya mengenali dua di antaranya. Ternyata mereka masih tergolong anak di bawah umur. Mereka pun ditahan. Hukum Brasil tidak membolehkan polisi menahan anak di bawah umur lebih dari lima hari. Tetapi setelah diproses, mereka tetap ditahan selama 45 hari untuk kemudian disidangkan.

Hampir sebulan setelah kejadian perampokan ini, saya tengah berjuang untuk memulihkan diri. Luka-luka bakar sudah mengering. Juga sobekan di pelipis mata sudah sembuh. Saya hanya masih merasakan sensasi yang aneh di jarí kelingking kanan akibat jepitan tang. Rusuk kiri saya pun masih terasa sakit hingga sekarang.

Hal terparah dari pengalaman tragis ini adalah trauma. Saya masih dibayang-bayangi ketakutan akan terulang lagi kejadian yang sama. Bertemu pemuda jalanan saja saya sudah takut. Barangkali mereka juga penjahat, pikir saya. Sebagian dari kebebasan saya ikut terampas.

Saya butuh waktu untuk memulihkan mental saya. Karena itulah, dengan berat hati saya harus tinggalkan paroki tempat saya bekerja setahun terakhir ini. Saya baru memulai aktivitas misioner di tempat baru ini. Belum seumur jagung berkarya, saya harus tinggalkan hanya karena ulah mereka yang tidak berhati.

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html

http://kabarmisionaris.com/saya-dirampok-saya-disiksa-saya-terlahir-baru.html

Saya mengalami peristiwa naas ini minggu terakhir sebelum pekan suci. Ada makna spiritual di baliknya. Saya bisa mengalami sedikit dari pengalaman salib Yesus. Dan setelah pengalaman salib, selalu datang kebangkitan. Saya terlahir baru lagi. Memaknai hidup dan karya misioner saya dalam peristiwa salib dan kebangkitan Yesus. Bermisi di tengah dunia yang sakit. Itu tantangan. Itu salib.

Saya ingat nas kitab suci ini: Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya. (1 Kor 10, 13). Saya sudah berhasil melewati satu fase pencobaan. Tuhan akan memberikan saya kekuatan untuk memulihkan diri untuk kembali menjadi alat-Nya mewartakan damai dan cinta. Saya percaya sepenuhnya pada Tuhan. Karena, “Tuhanlah yang Menopang Aku” (Mzm 54:6).

sumber gambar Yesus: https://marudutsihombing.files.wordpress.com/2013/07/942624_541533569244423_251909087_n.jpg