Sari Firman: PESTA ST. MARIA DIANGKAT KE SURGA

Pater Leo Kleden SVD

 

Bacaan: Why 12: 1-6a.10b. Luk 1: 39-56

1. Keagungan Bunda Maria dilukiskan Kitab Wahyu dalam lambang “Seorang perempuan berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dua belas bintang di atas kepalanya”. Tapi dia yang agung itu jualah yang telah menderita sakit melahirkan anaknya sambil berjuang melawan setan, “naga merah berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh”, dengan semata mengandalkan kekuatan Allah.

2. Elisabet memuji keagungan Maria: “Terberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

3. Maria menerima salam Elisabet tapi langsung meneruskan pujian itu kepada Allah dalam madah Magnificat: “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira krn Allah Juruselamatku”.

4. Maria telah membiarkan Allah melakukan karya agung dalam dirinya tatkala ia mengucapkan Fiat pada Kabar Malaikat: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”. Ia tetap setia pada nazarnya ini dan mengikuti Yesus Sang Sabda sampai ke kaki Salib. Dengan demikian seluruh hidup Maria merupakan sebuah Magnificat, madah pujian bagi Tuhan.

5. Kini ketika kita menghormati Bunda dalam kemuliaan surgawi, Maria dalam kerendahan hatinya tetap menyanyikan madah pujian hingga keabadian bagi Tuhan, yang telah melakukan karya agung dalam dirinya.

 6. DOA

+ Bunda Maria doakanlah kami anak-anakmu dan jadikan hidup kami juga sebuah Magnificat, madah pujian bagi Tuhan: “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” + Amin