Sari Firman Minggu Biasa 25

Pater Leo Kleden SVD

  1. Kitab Kebijaksanaan 2:12.17-20 melukiskan persekongkolan orang-orang jahat menentang orang baik: “Marilah kita menghadang orang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita.”  “Jika orang yang benar itu anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia “.   “Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati yang keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.” Umat kristiani membaca nas ini sebagai nubuat tentang sengsara dan kematian Kristus. Tetapi peristiwa semacam itu masih terjadi hari ini, khususnya dalam ajang percaturan politik di tanah air.

  2. Mrk 9:30-37 : Sesudah peristiwa transfigurasi di Tabor, ini kedua kalinya Yesus berbicara tentang sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Tetapi murid-murid belum mengerti bahwa Almasih harus menempuh jalan pengurbanan diri untuk mengalahkan kejahatan manusia dengan kasih-Nya dan dengan itu Ia mencapai kemuliaan-Nya.

  1. Sedang Yesus berbicara tentang sengsara yang akan ditanggung-Nya, murid-murid justru bertikai karena ambisi pribadi dan mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

  2. Yesus menegur mereka dan berkata: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah dia menjadi yang terakhir dan menjadi pelayan dari semuanya. ” Yesus memberikan contoh pelayanan itu dengan mengurbankan diri sampai mati di salib.

  3. Lalu Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah mereka sebagai wakil dari semua orang kecil yang harus dilayani dan berkata: “Barangsiapa menerima seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menerima Aku”.

  4. DOA

+ Tuhan, lindungilah bangsa dan tanah air kami dari persekongkolan orang-orang jahat, dan tuntunlah semua murid-Mu untuk melayani seluruh umat dengan rendah hati, khususnya orang-orang kecil yang sangat Kausayangi + Amin