Saling Membantu dan Bekerja Sama (Renungan untuk hari Minggu Biasa XIV, 3 Juli 2016)

murid yesus

Teks bacaan:

Yes.66:10-14c; Mzm.66:1-7,16.20; Gal.6:14-18;

Luk.10:1-12.17-20

Oleh P. Alfons Betan SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

Ada kegembiraan dalam hidup bermasyarakat apabila kita mempunyai teman yang bisa saling membantu dan bekejasama. Ada orang yang kaya tetapi tidak mempunyai teman karena ia sering meremehkan orang lain. Sebaliknya, ada orang yang sederhana namun ia bergembira karena ia mempunyai banyak teman karena ia tahu menghargai mereka, mendengarkan mereka dan bisa berkerjasama dengan mereka.

Penginjil Lukas menyajikan cerita tentang perutusan tujuh puluh murid oleh Yesus. Ia mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Maksud Yesus berbuat demikian adalah supaya mereka bisa saling membantu dan bekerjasama, saling meneguhkan dan menghibur di kala menemukan kesulitan dalam karya, saling belajar dan melengkapi. Kelebihan atau keunggulan yang satu bisa menjadi contoh bagi yang lain; kekurangan yang satu bisa dibantu dan dilengkapi oleh keunggulan yang lain. Yesus mengutus mereka pergi berdua-dua.

Angka dua merupakan angka genap, masudnya agar mereka sungguh-sungguh menjadi rekan perjalanan dan rekan yang bisa saling menolong demi keberhasilan karya pewartaan mereka.  Dengan berbuat demikian, seperti yang diungkapkan oleh nabi Yesaya, mereka akan diberkati Tuhan. Dia akan membantu mereka mengalirkan keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa  seperti batang air yang membanjir (bdk.Yes.66:12).

Mereka yang diutus itu disadarkan-Nya pula bahwa  mereka adalah manusia biasa, punya kelemahan dan kekurangan. Mereka adalah utusan yang harus melaksanakan kehendak Dia (Tuhan) yang mengutus. Karena itu, untuk memperoleh keberhasilan mereka tidak boleh mengandalkan kekuatan atau kehebatan pribadi, melainkan harus berdasarkan relasi personal yang baik dengan Tuhan yang mengutus mereka (bdk.Luk.10:2). Tanpa dasar ini mereka akan ‘jatuh’ dan  mengalami kegagalan.

Yesus menyadarkan mereka juga bahwa mereka akan mengalami tantangan, baik yang menyangkut tempat atau daerah maupun yang berkaitan dengan pribadi orang-orang yang sikap dan perilakunya seperti serigala yang kelaparan, siap untuk menerkam dan memangsa mereka (bdk.Luk.10:3). Oleh sebab itu mereka harus selalu berwaspada dan menyiapkan strategi yang baik untuk menjinakkan serigala-serigala itu. Mereka harus menjalin kekompakan di antara mereka, lalu membuat pendekatan pribadi dan berdialog dengan serigala-serigala tersebut. Dengan demikian, mungkin sekali serigala-serigala itu juga akan berubah menjadi ‘domba-domba’ yang setia kepada tuannya. Mereka yang semula berperan sebagai oposan, kini bisa berubah menjadi mitra kerja yang baik.

Sebagai rekan kerja yang saling membantu, mereka hendaknya juga saling menolong dalam usaha untuk ‘bersikap lepas-bebas,’ maksudnya melepaskan diri dari segala keterikatan termasuk keterikatan dari kenikmatan duniawi  (materi) dan dari orang-orang tertentu ( Luk.10:4) agar bisa dengan leluasa mewartakan Kerajaan Allah di mana saja mereka diutus  (lihat renungan saya, hari minggu, 26 Juni 2016).

Mereka hendaknya membawa damai sejahtera di rumah mana saja yang mereka kunjungi (Luk.10:5). Keluarga yang menerima mereka akan merasakan adanya damai Tuhan lewat kedatangan atau kehadiran mereka apabila mereka sendiri setia berdoa atau mempunyai kehidupan rohani yang baik dan apabila mereka sendiri saling mengasihi, menerima, membantu  dan  bekerjasama. Tanpa dasar itu, mereka tidak bisa membawa atau gagal mewartakan damai sejahtera karena mereka sendiri tidak menghayatinya.  Pihak keluarga yang menerima mereka akan merasakan hal itu lewat sikap, kata-kata dan perbuatan  mereka.

Yesus juga menyadarkan para murid itu  tentang realitas bahwa mungkin ada orang yang menerima mereka; tetapi barangkali juga ada orang yang menolak mereka (Luk.10:6). Oleh sebab itu mereka harus menyiapkan diri  untuk menghadapi dan menerima kenyataan ini dengan lapang hati. Apabila mereka mengalami penolakan, maka mereka harus saling menghibur dan meneguhkan. Mereka harus tetap bersatu dan bersaudara dalam setiap situasi, baik  dalam untung maupun malang, baik dalam suka maupun duka, baik dalam kesuksesan maupun  kemalangan.

Yesus memperingatkan mereka agar mereka tidak boleh berpindah-pindah rumah (Luk.10:7;bdk.ay.8). Maksud peringatan ini adalah agar mereka tidak boleh bermental suka cari yang enak-enak, misalnya keluarga yang mereka datangi adalah keluarga yang miskin sekalipun keluarga itu amat senang menerima kedatangan atau kehadiran mereka. Jangan hanya karena keluarga itu miskin, maka mereka lebih suka berpindah ke keluarga yang kaya agar menikmati kekayaan keluarga kaya itu. Mereka harus tinggal di keluarga miskin itu, berusaha membantu dan menyenangkan keluarga tersebut. Mereka harus berbuat baik di situ, dan Roh Tuhan yang  berkarya dalam diri anggota keluarga miskin itulah yang akan memberi mereka makan, minum dan memenuhi  kebutuhan hidup mereka. Dia akan membuat mereka bersyukur atas cinta dan karya-Nya lewat cinta dan perhatian tuan rumah (bdk.Mzm.66:2-4). Oleh sebab itu mereka tidak usah cemas tentang jaminan hidup mereka.

Sebelum mengutus mereka, Yesus memberi mereka kuasa untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir setan-setan dan mewartakan Kerajaan Allah (bdk.Luk.9:1-2). Kuasa itu harus mereka gunakan untuk melayani siapa saja tanpa pamrih (bdk.Mat.10:8)  dan tanpa membeda-bedakan.

Kalau orang-orang yang mereka bantu itu sembuh dari penyakit, maka mereka tidak boleh mengklaim diri sebagai penyembuh. Yang menyembuhkan adalah Tuhan, bukan mereka. Mereka hanya berperan sebagai ‘penyalur’ kuasa dan kasih Tuhan bagi orang-orang yang sakit dan menderita.

Mereka harus tetap bersikap rendah hati agar mereka tahu menempatkan diri sebagai utusan-utusan Tuhan yang senang melayani sesama. Kalau mereka berbuat demikian, maka siapa pun yang menerima mereka dan yang mereka layani akan memperoleh kebahagiaan. Itulah wujud nyata hadirnya Kerajaan Allah bagi mereka yang bisa mereka rasakan dalam kebersamaan.

Dalam arahan Yesus bagi para murid itu, Ia juga menyadarkan mereka bahwa mungkin yang menolak mereka bukan saja orang orang-orang sederhana yang tinggal di desa-desa (bdk.Luk.10:6) tetapi juga yang tinggal di kota-kota (Luk.10:10-12). Penolakan itu bisa terjadi di mana saja. Seperti  Dia mengalami  penolakan (bdk.Luk.4:16-30/parl), mereka pun akan mengalami hal yang sama. Seperti rasul Paulus, mereka harus bersedia menerima ‘salib’ demi Kristus (bdk.Gal.6:14-15). Ungkapan “mengebaskan debu”  yang dipakai penginjil Lukas ini (Luk.10:11) merupakan peringatan bagi orang-orang yang menolak mereka agar bertobat. Kalau tidak, mereka akan mengalami kebinasaan. Dalam hal ini, saling membantu dan bekerjasama di antara mereka yang diutus Tuhan yang harus mereka wujudkan adalah bagaimana mereka  berusaha agar tidak  mengutuk atau membalas dendam (bdk.Luk.9:51-56). Mereka  harus berusaha  memberi peringatan kepada pihak yang menolak mereka itu supaya  bermawas diri dan bertobat agar mereka tidak mendapat hukuman Tuhan.  Masih ada kesempatan untuk bertobat. Oleh sebab itu, pihak yang menolak diharapkan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Saling membantu dan bekerjasama amat penting dalam hidup demi keberhasilan karya kita. Hal ini hendaknya dipupuk sejak dini. Yesus menyadari hal ini. Itulah sebabnya, Ia membina para murid-Nya agar saling membantu dan bekerjasama. Dengan  itu juga suasana persaudaraan dan persatuan bisa semakin diperkuat.

Orang yang suka single-fighter (berjuang, bekerja sendiri) dan sukar memberi kepercayaan kepada orang lain untuk melakukan tugas-tugas tertentu pada umumnya tidak disukai. Seorang pastor kepala paroki yang suka single-fighter biasanya tidak disukai pastor rekan. Karya pastoral akan berjalan dengan baik apabila ada kesediaan untuk saling membantu dan bekerjasama baik di antara para pastor di paroki maupun di antara pastor dan umat atau Dewan Pastoral Paroki.

Kesediaan untuk membantu dan bekerjasama tidak terlepas dari tindakan memberi teguran atau kritikan yang positif. Namun hal ini pun harus diberikan dengan cara yang baik, misalnya lewat pendekatan pribadi dan dialog. Baik pastor maupun umat atau Dewan pastoral Paroki hendaknya bersikap terbuka untuk menerima  dan mendengarkan teguran atau kritikan tersebut, lalu berusaha untuk melaksanakannya.

Saling membantu dan bekerjasama hendaknya dilaksanakan juga dalam keluarga, komunitas religius, KUB (Komunitas Umat  Basis), KBG(Komunitas Basis Gerejani), lembaga pendidikan dan masyarakat. Namun hal ini sebetulnya harus sudah mulai dilakukan dalam pendidikan dasar di dalam setiap keluarga.

Dalam hal ini peranan orangtua sangat penting. Mereka hendaknya bijaksana mendidik anak-anak mereka agar bisa saling membantu dan bekerjasama. Untuk itu, anak-anak hendaknya dididik untuk bersikap terbuka terhadap orang lain, tahu menghargai, dan mendengarkan sesama.  Mereka hendaknya dibina untuk sejak dini menyingkirkan sifat ingat diri, sikap apatis terhadap orang lain dan kecenderungan meremehkan sesamanya. Kalau anak-anak dididik seperti ini, maka mereka pun rela membantu orangtua terutama dalam setiap situasi terutama dalam penderitaan, misalnya karena sakit, mengalami kelumpuhan dan kelemahan fisik. Mereka tidak akan melupakan atau mengabaikan orangtua. Tanpa disuruh pun, mereka sudah tahu apa harus mereka lakukan demi kesehatan, kekuatan dan  kebahagiaan orangtua.

Suami istri hendaknya saling membantu dan bekerjasama dalam melestarikan cinta di antara mereka. Namun untuk itu, keduanya harus saling menumbuhkembangkan keterbukaan hati dan kejujuran terhadap yang lain. Selain itu, hendaknya ada kesediaan untuk saling menegur dan memperbaiki serta ada kerelaan juga untuk menerima teguran tersebut. Dalam hal ini perlu diperhatikan agar teguran itu pun harus disampaikan dengan cara-cara  yang baik. Hendaknya diusahakan juga kemauan untuk saling mengampuni.

Saling membantu dan bekerjasama sangat dibutuhkan ketika kita berada dalam keadaan tidak berdaya mengatasi penderitaan kita. Namun kebaikan kita yang sudah kita berikan kepada orang lain bisa mendorong  mereka datang membantu sekalipun kita tidak memintanya.

Kiranya Yesus, tokoh panutan kita menggerakkan kita untuk senantiasa mencintai suasana saling membantu dan bekerjasama karena hanya dengan demikian, kita bisa bertahan dalam perjuangan meraih cita-cita luhur, kita bisa berhasil dalam karya dan kita pun bisa menemukan makna hidup.

sumber gambar:

http://1.bp.blogspot.com/-Y-KnQhCL-qQ/VlMxtgHuqxI/AAAAAAAAB5c/rXS4J5rQ6C8/s1600/bigstock-Teamwork-48863816%2B%25281%2529.jpg

https://sangsabda.files.wordpress.com/2013/02/yesus-mengutus-murid-murid-pergi-berdua-dua.jpg?w=570