Resensi Buku Abundant Life: Hidup Berkelimpahan

Resensi Buku Abundant Life – Fritz Meko SVD

 

 

Penulis : Fritz  Meko, SVD, Jumlah halaman : 320 halaman,

Tahun terbit : 2016, Penerbit : Pohon Cahaya

 

 Revolusi dalam bidang teknologi telah menyumbang perubahan yang signifikan dalam bidang kebudayaan: mulai dari pola pikir hingga cara bertindak. Dunia komunikasi – salah satu unsur dari kebudayaan, tampak begitu adaptif terhadap sistem yang disiapkan oleh alat komunikasi (hasil revolusi teknologi). Sistem itu terkait erat dengan rules– aturan-aturan yang perlu dipatuhi. Kepatuhan terhadapnya membuka kemungkinan untuk terbentuknya cara-cara baru dalam berkomunikasi – di sana para pengguna alat komunikasi saling memahami pesan yang disampaikan.

Patut diakui bahwa penyesuaian terhadap sistem dalam komunikasi tidak sulit, tetapi kesiapan untuk memberi bobot terhadap komunikasi bukan perkara mudah, tak semudah menyesuaikan jari pada ponsel baru. Buku Abundant Life adalah salah satu wujud dari kemampuan penulis –Fritz Meko, SVD menyesuaikan diri dengan sistem teknologi serentak memberi bobot terhadap komunikasi. Pater Fritz Meko, SVD, menyebut bahwa uraian-uraian dalam buku ini adalah kumpulan tulisan yang ia paparkan di wall face book miliknya sejak tahun 2014-2016. Media sosial, baginya adalah “sarana ampuh untuk menggelindingkan ide-ide berbobot bagi sesama” (hal.197).

Buku berjumlah 320 halaman ini berisi 252 refleksi pendek – diawali dengan prolog dan ditutup dengan epilog. Refleksi-refleksi di dalam buku ini pun dikategorikan dalam dua bagian besar, yakni (1) Memaknai peristiwa sekitar dan (2) Memaknai peristiwa spiritual. Pengkategorian ini umumnya tidak luput dari kesulitan, terlebih ketika kualitas refleksi atas tiap peristiwa terhubung langsung dengan pengalaman spiritual ataupun sebaliknya. Buku Abundant Life, tampaknya melewati kesulitan ini dengan baik.

Ditinjau dari urgensitas kehadiran buku ini, Abundant Life hadir pada waktu yang tepat – saat: masyarakat terjebak dalam arus berpikir yang dangkal, sibuk memindahkan obrolan dari meja kerja ke media sosial, abai memperhatikan etika dalam berkomunikasi dan terseret dalam banjir informasi. Buku Abundant Life hadir dengan ajakan untuk memberi bobot pada hidup. Dalam memperjuangkan agenda ini, Abundandt life tidak berhenti menjadi sharing pengalaman tetapi juga ajakan bagi pembaca untuk ‘sadar’ saat berhadapan dengan pengalaman hidup.

Kesadaran itu terkait erat dengan pengakuan bahwa diri sendiri adalah tuan atas seluruh tindakan (hal. 79-80), termasuk saat berhadapan dengan arus besar globalisasi yang hadir seperti Juggernaut – meminjam istilah Giddens – yang menegaskan tentang ketidakpedulian perubahan terhadap akibat yang ia bawa. Arus deras globalisasi itu hadir seperti mesin yang menggilas apa pun yang ada di hadapannya. Dalam situasi seperti ini- otonomi diri dengan penekanan bahwa aku yang menentukan ke mana kaki melangkah, sangat dibutuhkan.

Pater Fritz menulis, “Selamat tidaknya diri Anda di hari baru ini, tergantung pada ayunan langkahmu dan bisikan nuranimu. Bila Anda mengayunkan langkah dengan benar karena tulus mendengar bisikan nuranimu, maka keselamatan dan sukacita akan tetap berpihak padamu” (hal. 73). Anjuran Pater Fritz untuk mendengar bisikan nurani, umumnya lebih mudah dipahami, diterima dan dipraktikkan oleh mereka yang terbiasa melakukan hal itu, misalnya para biarawan/wati atau rohaniwan/wati. Namun, hal ini akan menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka yang biasa terjebak dalam kebisingan – terlebih telinga yang lebih mudah bereaksi terhadap informasi yang sensasional dan provokatif. Mereka, bahkan tidak hanya bereaksi terhadap informasi, tetapi juga bereaksi terhadap reaksi orang lain. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa kesadaran untuk menciptakan keheningan batin perlahan berkembang di kalangan masyarakat dan hal itu menjadi kekuatan tersendiri untuk berkarya.

Di balik kesediaan untuk mendengarkan dan menjalankan bisikan nurani terkandung kerendahan hati untuk belajar dan bersedia dituntun. “Saya kira, saya ini yang paling hebat. Eh ternyata ‘keheningan’ telah mengatakan padaku bahwa, ‘saya ini bukanlah apa-apa. Saya hebat karena ada orang lain di sekitarku” (hal. 81). Ibarat sebuah wadah yang kosong, proses pembelajaran itu diawali dengan kesadaran akan kekosongan di dalam diri. Orang yang merasa bahwa hidupnya sudah penuh, apa pun yang masuk kepadanya akan tumpah keluar. “Jadi ternyata kosong itu penting. Dan merasa ‘kosong’ itu lebih penting” (hal. 135).

Jika memang merasa ‘kosong’ itu penting, mengapa judul buku ini, Abundandt life – hidup berkelimpahan? “Abundant life, tentu bukanlah kitab suci, tetapi hanya semacam sebuah nota bene” (Latin:catatan penting/berguna) (hal.317) yang mengingatkan pembaca bahwa orang bisa menjadi pribadi  bernas, berguna dan berarti hanya karena ia dibentuk oleh kisah dan pengalaman-pengalaman hidup. Agar bisa dibentuk seseorang perlu merasa ‘kosong’ dan belajar dari tiap pengalaman. Orang yang merasa ‘kosong’ akan dengan mudah melihat kelimpahan anugerah yang hadir di dalam diri serta yang hadir di dalam diri sesama.

Apakah Anda juga ingin mengalami kelimpahan dalam hidup? Kisah-kisah dalam buku Abundant life akan sangat bermanfaat untuk membantu Anda dalam melihat setiap pengalaman hidup Anda. Buku ini layak untuk dibaca publik lebih khusus lagi bagi mereka yang ingin memberi bobot pada pengalaman hidupnya. Selama membaca. (Bill Halan, [email protected] – No hp 081233414757)  Keterangan – Naskah ini sudah dimuat di Warta Flobamora Edisi April 2017