Renungan Hari Sabtu: Minta Pembuktian

Minta Pembuktian

Renungan Hari Sabtu: Minta Pembuktian http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-sabtu-minta-pembuktian.html

Teks: ( Mark  16:9-15),

Oleh Baltazar Asa

Dulu, ketika masih menjadi seminaris, saya tinggal selama 3 tahun di unit Arnoldus Jansen – Nita (satu dari beberapa rumah tinggal untuk para frater Seminari Tinggi St Paulus – Ledalero).

Di unit ini,  kami memiliki satu kebiasaan unik ketika ada seseorang anggota unit yang merayakan ulang tahun, yakni meminta pembuktian. Istilah ‘pembuktian’ erat kaitannya dengan kewajiban dari rekan yang berulang tahun untuk bisa menyiapkan makanan dan minuman yang lebih istimwa bagi anggota unit lainnya.

Selain ‘pembuktian’, rekan yang berulang tahun diberi kesempatan untuk menceritakan tentang dirinya, keluarga, kenalan dan panggilannya. Biasanya sharing pengalaman ini ditutup dengan pertanyaan demikian dari teman-teman, “siapa itu Yesus bagi anda?”

Pengalaman ini terjadi berulang-ulang dan pembuktian dan sharing pengalaman mempertegas atau menjelaskan bahwa hari itu seseorang anggota unit merayakan ulang tahun. Jadi kalau Anda singgah di tempat ini dan menyaksikan peristiwa ini, Anda sudah memahami peristiwa ini.

Injil hari ini menceritakan hal yang hampir sama. Para rasul dikagetkan dengan pemberitaan Maria Magdalena tentang kebangkitan Yesus Kristus. Mula-mula para rasul tidak percaya, mereka juga butuh pembuktian. Apakah benar Yesus bangkit? Hati dan pikiran masih tinggal dalam suasana duka. Mereka tidak percaya akan kesaksian Maria Magdalena. Mereka menginginkan agar Yesus juga menampakan diri kepada mereka. Dan apa yang terjadi?

Ketika para rasul sedang makan, Yesus menampakan diri kepada mereka. Pristiwa penampakan ini menjadi satu ‘pembuktian’ akan perkataan Maria Magdalena tentang kebangkitan Yesus  dan perkataan Yesus sendiri tentang kebangkitannya pada hari ke tiga. Dengan pristiwa ini para rasul yakin bahwa Yesus sungguh bangkit dan semua perkataan Yesus itu benar dan tidak perlu di buktikan lagi. Tugas selanjutnya adalah para rasul mulai mendapat perutusan untuk menyampaikan injil (kabar gembira) kepada semua makhluk.

Dari kisah ini ada beberapa hal yang bisa kita pelajari:

1.Tepati janji

Dalam kehidupan kita, ada sekian banyak orang yang hebat dalam pembicaraan. Mereka merencanakan segala sesuatu. Dengan retorikanya mereka meyakinkan begitu banyak orang. Namun,terkadang rencana tidak terlaksana dengan baik sehingga  untuk menutupi kesalahannya, ia mulai membuat pembelaan terhadap dirinya sendiri. Orang yang demikian, menciderai kepercayaan public atas dirinya, sehingga tidak heran jika orang tidak lagi mempercayainya.

 Menepati janji dari sebuah pembicaraan itu penting. Karena dengan hal itu kita bisa membuktikan apa yang telah kita bicarakan.  Kita perlu meneladani Yesus teristimewa dalam perkataan dan perbuatan. Ia pernah berujar bahwa setelah tiga hari dalam kubur Ia akan bangkit lagi dan hal itu benar! Dengan pristiwa penampakan ini, Yesus mau menegaskan pertanggungjawaban perkataan-Nya kepada publik. Ia berbicara lalu berbuat ! sebuah sentilan untuk kita, sudahkah anda dan saya berbicara dan berbuat atau hanya sekedar membual semata?

2. Buktikan diri dalam tugas dan panggilan

Kita sebagai orang Kristen yakin bahwa Yesus adalah Putra Allah yang diutus ke dunia. Kedatangannya ke dunia dalam rangka menjalankan misi keselamatan manusia. Ia meyakinkan publik bahwa Ia adalah anak Allah, Yesus membuat berbagai mukjizat (mentahirkan orang kusta, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dll). Puncak dari segala mukjizat adalah kebangkitan dan penampakan kepada para rasul. Dengan demikian, kita tidak perlu ragu lagi akan ke-Allahan Yesus.

Kitapun perlu belajar dari Yesus tentang sebuah pembuktian diri dalam tugas dan panggilan: Jika saya sebagai seorang guru, apakah saya sudah menjadi guru yang baik dan benar? Atau menjadi guru hanya untuk memperoleh ucapan “ selamat pagi pak/ibu”? Jika saya sebagai seorang pemimpin agama, apakah perkataan dan perbuatan saya sesuai dengan tugas dan panggilan saya? Ataukah saya hanya berpura-pura berkotbah yang menarik tapi perilaku saya sama seperti orang Farisi? Jika saya sebagai seorang politisi, apakah saya sudah menjadi seorang politisi yang baik dan benar, yang selalu berbicara tentang kesejahteraan umum? Ataukah saya menjadi politisi karena untuk mendapat beberapa lembar rupiah? Dll.

3.Membangun budaya pewartaan yang baik.

Pristiwa penampakan adalah puncak pembuktian identitas Yesus. Para murid tercengang akan pristiwa ini! Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bangkit lagi dari kubur? Atau pertanyaan untuk kita apakah kita tidak tercengang jika nenek moyang kita bangkit lagi dari kubur ….! Ada satu hal yang menarik adalah setelah para rasul menyaksikan mukjizat ini, ada sebuah gejolak untuk bercerita kepada orang lain. Mereka mau bercerita tentang Yesus yang bangkit. Dan semangat pewartaan ini tidak terhalangi oleh apapun.

Hal-hal ini mengajak kita untuk mewartakan segala hal yang baik bagi sahabat, rekan dan kenalan serta kaum keluarga. Hati Kita harus bergejolak untuk mewartakan keunggulan-keunggulan yang ada pada saudara-saudara kita. Mari kita singkirkan prasangka buruk terhadap sesama kita. Mari kita membuktkan setiap perkataan dan janji kita. Mari kita buktikan…..!

Sumber gambar:

http://cdn.gresnews.com/showimg.php?size=view&imgname=2014916165941-kasus%20perdata.jpg