Renungan Hari Sabtu (09/04/2016) Rindu Akan Pelabuhan Yang Teduh !

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-sabtu-09042016-rindu-akan-pelabuhan-yang-teduh.html

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-sabtu-09042016-rindu-akan-pelabuhan-yang-teduh.html

 oleh:  Baltasar Asa

Bacaan Yoh 6:16-21

Pada tanggal 24 Januari 2014, saya  berlayar dari pelabuhan Lorens Say/ Maumere  menuju pelabuhan Tanjung Perak/Surabaya. Rasa penat, bosan, takut akan gelombang yang begitu besar bercampur rasa rindu akan teman-temanku yang masih berada di bukit sandar mata hari, semakin menyelimutiku.

Dalam situasi seperti itu, muncul rasa rindu akan sebuah pelabuhan yang teduh agar saya tidak terusik lagi dengan gelombang lautan dan tiupan angin kencang yang mengguncang jantungku.

Rupanya kerinduan ini bukan kerinduanku semata, melainkan kerinduan semua penumpang. Ketika pulau Jawa mulai samar-samar terlihat, para penumpang secara spontan belari ke bagian depan kapal Umsini untuk melihat dan membenarkan. Gumanku dalam hati” rupanya mereka juga bosan berlama-lama di atas kapal. Raut wajah ceria nampak ketika pulau Jawa makin kelihatan”.

Pada injil hari ini diceritakan bahwa setelah peristiwa memberi makan lima ribu orang, Yesus mengundurkan diri ke gunung, sedangkan para murid-Nya menyeberang ke Kapernaum. Yesus tidak hadir bersama para murid dan di tengah pelayaran itu, para rasul berhadapan dengan laut yang sedang bergelora karena angin kencang.

Sebagai manusia rapuh, para murid merasa ketakutan. Takut karena tidak ada satu pijakan yang pasti dalam berhadapan dengan situasi ini sebab Yesus yang menjadi pemimpin rombongan tidak hadir bersama mereka. Namun, dalam situasi ketakutan ini, Yesus hadir secara ajaib di hadapan mereka. Ia berjalan di atas air untuk menjemput mereka. Ketika mereka mau menaikkan Yesus ke dalam perahu, seketika itu juga mereka sudah sampai di daratan.

Pengalaman di atas kapal Umsini dan pengalaman para murid dalam injil hari ini bisa membantu kita untuk menarik pesan yang bermakna bagi hidup kita.

  1. Hidup itu bagaikan membuat pelayaran.

Ketika kapal melepaskan tali dari pelabuhan, maka ia akan mulai masuk pada sebuah pelayaran. Dalam pelayaran itu orang bisa meramalkan cuaca yang baik dengan bantuan alat yang canggih. Namun mereka tidak bisa memastikan secara akurat bahwa semua  akan “aman”.  Cuaca bisa berubah secara tiba-tiba dan bahkan bisa terjadi di luar kendali manusia.

Demikianlah juga sebuah pelayaran kehidupan. Dengan bantuan naluri manajemen yang bagus orang bisa memastikan tentang kesuksesan masa depan. Namun kita perlu belajar dari para pelaut bahwa selain meramalkan tentang masa depan yang indah, selebihnya harus ada jiwa petarung/fight spirit untuk berhadapan dengan gelora kehidupan. Tanpa menghidupi jiwa petarung kita tidak bisa tiba pada pelabuhan hidup yang teduh.

  1. Yakin akan kehadiran Tuhan.

Semua orang rindu akan sebuah pelabuhan kehidupan yang teduh atau singkatnya berada dalam zona nyaman. Namun terkadang gelora kehidupan membuat orang tidak melihat arah menuju pelabuhan itu. Mereka hanya meratap penderitaan yang dialami. Bahkan ada yang tidak segan-segan berkata bahwa Tuhan itu jahat, Tuhan tidak mempunyai hati untuk dirinya. sikap ini merupakan salah satu ekspresi, bagaimana manusia itu tidak percaya akan kehadiran Tuhan dalam hidup.

Kita mesti selalu ingat kisah injil hari ini. Para murid Yesus sangat ketakutan ketika laut bergelora karena angin kencang. Namun dalam situasi yang bersamaan Yesus hadir. KehadiranNya disertai dengan sebuah mujizat, Ia berjalan di atas air. Ketika mereka hendak menaikan Yesus ke dalam perahu tetapi tiba-tiba mereka sudah sampai pada tempat tujuan.

Pesan injil ini mengajarkan kita agar kita menjadi optimis ketika menghadapi gelora kehidupan. Optimis bahwa Tuhan akan hadir tepat pada waktunya. Ia tidak meninggalkan kita sendirian. Oleh karena itu, bukalah mata hatimu untuk melihat campur tangan Tuhan dalam setiap gelora kehidupan. Dengan demikian, Tuhan akan mengantar kita ke pelabuhan yang teduh. “jangan pernah lelah mendayung di arus, Tuhan akan selalu bersama menuju pelabuhan yang teduh”. Salam Dalam Sang Sabda.

sumber foto: https://meltingpotofliteracy.files.wordpress.com/2011/12/dermaga1.jpg

http://kristushidup.org/wphidup/wp-content/uploads/2015/06/Asal-bersama-Yesus.jpg