Renungan Hari Minggu Pentakosta (Minggu 15 Mei 2016): Mengajarkan Segala Sesuatu

 

 

pentecost-2

Oleh P.Alfons Betan SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero 

 

‘Mengajar’ merupakan salah satu tugas orangtua bagi anak-anak di rumah, misalnya bagaimana harus berdoa. Seorang guru di sekolah mengajar anak-anak didiknya tentang pelbagai ilmu pengetahuan. Dia bukan saja mengajar tetapi juga mendidik mereka menjadi orang-orang yang mempunyai karakter yang baik.

Pada hari raya Pentakosta, kita merayakan peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas para rasul (Kis.2:1-11). Dalam peristiwa itu, kita disadarkan tentang bagaimana peran Roh Kudus sebagai pengajar segala sesuatu. Hanya Dia sajalah yang bisa melakukannya.

Dalam peristiwa Pentakosta itu,  Roh Kudus memenuhi Petrus dan teman-temannya serta mengajar mereka segala sesuatu, misalnya bagaimana harus berbicara dalam pelbagai bahasa. Dia membuat mujizat yang mustahil terjadi menurut pemikiran atau kemampuan manusia. Namun, tidak ada yang mustahil bagi-Nya (bdk.Luk.1:37).

Para rasul adalah nelayan-nelayan sederhana, tidak punya pendidikan formal yang tinggi tetapi bisa tampil meyakinkan, bisa berbicara tentang Kristus dengan berani dan bijaksana. Itulah yang menimbulkan kekaguman di hati banyak orang.

Roh Kudus membuat para rasul juga bersedia menanggung konsekuensi dari karya pewartaan mereka:  ditangkap, dibelenggu, dipenjarakan (Kis.2 dst). Sekalipun demikian, Roh Allah  itu  tetap setia menyertai mereka. Karena itulah,  mereka tidak bisa mendiamkan begitu saja apa yang telah mereka lihat dan dengar dari Yesus.

Mereka lebih bersedia untuk taat kepada Allah daripada taat kepada pimpinan Yahudi (bdk.Kis.4:18-20). Roh itu memberi mereka hidup, dan kalau mereka tetap setia beriman pada Yesus dan setia melakukan kehendak-Nya sampai akhir hidup mereka, maka mereka akan dibangkitkan-Nya (Rm.8:11).

Roh itu membantu mereka taat melaksanakan Firman Tuhan. Dia yang menginspirasi dan membantu orang-orang tertentu untuk menulis Kitab Suci dalam bentuk seperti yang kita miliki sekarang, Dia juga akan membantu para murid Yesus untuk setia membaca, merenungkan, menghayati dan melaksanakannya serta mewartakannya kepada orang lain. Ia mendorong mereka untuk ‘berguru pada sang Sabda’ (bdk.Luk.10:38-42), maksudnya bersikap rendah hati dan terbuka untuk mendengarkan-Nya sebelum berkarya.

Itu berarti mereka harus menyiapkan cukup banyak waktu untuk berdialog dengan Dia. Untuk itu mereka membutuhkan suasana hening, dan dalam keheningan mereka diharapkan untuk mendengarkan Dia berbicara kepada mereka: apa yang harus mereka lakukan demi kemuliaan-Nya dan demi kesejahteraan bersama. Kalau mereka berbuat demikian, maka Dia juga akan membantu mereka dalam melaksanakan kehendak-Nya itu. Karena biasanya kehendak-Nya adalah untuk kepentingan bersama, maka sikap berguru pada sang Sabda menyadarkan mereka untuk mewujudkan ‘kemuliaan Tuhan’ lewat usaha nyata mensejahterahkan kehidupan  bersama.

Cinta para murid tidak hanya diekspresikan lewat kata-kata saja tetapi juga harus dibuktikan dalam perbuatan baik terhadap-Nya dan terhadap sesama tanpa membeda-bedakan. Hal ini harus ditunjukkan misalnya, baik lewat kesetiaan melakukan kegiatan-kegiatan rohani maupun lewat perbuatan-perbuatan amal kepada sesama.

Para murid harus berperan seperti terang dunia (bdk.Mat.5:14-16). Namun untuk bisa berperan seperti itu, mereka harus  berdialog dengan Dia sebagai Terang itu sendiri. Mereka harus setia mengikuti-Nya, karena hanya dengan demikian, mereka memperoleh terang hidup (bdk.Yoh.8:12).

Dengan mengikuti Dia dan bersatu dengan Dia mereka akan tahu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Hal yang baik  itulah yang mereka harus pilih dan lakukan; sedangkan yang tidak baik, mereka harus dengan tegas menolaknya.

Para murid harus berwaspada  terhadap ‘dunia yang tidak baik’  dan tidak boleh bersikap kompromistis terhadap dunia itu. Tidak jarang, ‘dunia yang tidak baik’ itu berpenampilan menarik dan mempesonakan. Mereka akan menampilkan tawaran-tawaran yang kelihatannya menarik tetapi dengan maksud untuk menjerat dan menjatuhkan.

Sekalipun demikian, apabila para murid selalu berguru pada sang Sabda dan dikuatkan oleh Roh Tuhan, maka mereka akan kuat dan dengan tegas akan menolak semua tawaran  itu (bdk. Luk.4:1-13/parl). Mereka menjadi kuat karena Allah tinggal di dalam diri mereka (bdk.Yoh.14:23). Kuasa dan kekuatan-Nya jauh lebih besar daripada kuasa dan kekuatan dunia kejahatan serta segala macam tawarannya.

Dengan berguru pada Sang Sabda, para murid akan dibantu untuk menyadari bahwa Roh Tuhan baru hanya bisa dirasakan kehadiran dan karya-Nya dalam keheningan. Dalam suasana itu, mereka diingatkan akan Firman yang pernah diucapkan Yesus. Dengan mengingat Firman itu, mereka pun secara tidak langsung  ‘menghadirkan’ pribadi Yesus. Dia yang tidak kelihatan bisa menjadi nyata dalam keheningan itu. Justru itulah yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.

Kehadiran-Nya memberi kekuatan, peneguhan, sukacita batin bagi mereka untuk melanjutkan karya pewartaan. Tugas itu akan mereka laksanakan dengan kesadaran, motivasi yang ikhlas dan kebahagiaan. Kalau suasana batin mereka sudah diliputi kebahagiaan, maka mereka pun akan bisa mendatangkan kebahagiaan bagi sesama yang menerima pewartaan mereka.

Menyadari betapa besarnya kuasa Roh Kudus, maka  kalau kita mau supaya bisa menemukan kebahagiaan dan bisa berhasil dalam karya, maka kita hendaknya ‘setia berguru pada sang Sabda.’ Kita hendaknya mencari dan menyiapkan waktu yang cukup banyak untuk berdialog dengan Dia dalam keheningan. Dengan penuh iman dan kerendahan hati, kita memohon kehadiran dan bantuan Roh Kudus. Dengan bantuan-Nya, kita  akan senang membaca, dan  merenungkan Sabda-Nya dalam Kitab Suci.

Kalau hal itu sudah menjadi kebiasaan kita maka perlahan-lahan kita akan merasakan bahwa Dia menyadarkan kita untuk senantiasa mendahulukan dan mengutamakan kehendak Tuhan.  Kita disadarkan untuk berperan sebagai utusan-Nya yang bertugas melaksanakan apa yang Dia kehendaki baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.

Dia akan membimbing jalan hidup kita; memberi awasan bila ada hal-hal yang harus kita waspadai agar kita tidak mudah terjebak dan tergoda; mendorong kita untuk senantiasa melakukan kebaikan dan menolak yang jahat; selalu mengambil inisiatif untuk melakukan suatu perubahan demi kebaikan bersama dan bersedia menanggung konsekuensinya; mengambil keputusan secara bertanggung jawab setelah membuat pertimbangan secara matang; menghargai kehidupan sesama karena sadar bahwa kehidupan berasal dari Tuhan (bdk.Kej.2:7; Mzm.104:30);

Roh Kudus akan membuat kita berani dan bijaksana mengoreksi sesama yang bersalah dengan mempertimbangkan motivasi yang baik, cara yang baik dan waktu yang baik untuk memberi koreksi tersebut; terbuka juga untuk menerima teguran atau kritikan sesama dan dengan ikhlas berterima kasih kepada mereka; tidak begitu saja  menilai sesama secara negatif, tetapi berusaha berdialog dengan mereka. Dengan demikian, pandangan yang negatif bisa berubah; tidak ada lagi sekat pemisah di antara kita tetapi kini hanya ada tali persahabatan atau pesaudaraan.

Roh Kudus itu  tidak kelihatan secara fisik. Sekalipun demikian, Dia ada dan menjadi Pribadi Ilahi yang amat penting bagi hidup kita dan karya kita. Tanpa Dia kita tidak bisa hidup, tidak bisa berkarya dan sulit untuk berhasil. Bagi-Nya tidak ada yang mustahil. Karena itu, sebagai para pengikut Yesus, kita hendaknya melibatkan Dia dalam perjuangan kita.

Roh Kudus itu hadir juga dalam diri sesama kita yang berbeda latarbelakang budaya, suku bangsa, agama, status sosial dan bahasa (Kis.8:26-40; 10-11). Karena itu, penting bagi kita untuk menghargai, menerima dan memperlakukan mereka dengan baik. Hendaknya kita mengusahakan pendekatan pribadi dan berdialog dengan mereka.

Dialog itu bisa dilakukan dengan kata-kata, dengan kehadiran dan karya kita bersama mereka demi kepentingan bersama. Kita bisa ‘memberi’ dan bisa ‘menerima atau belajar’ banyak hal yang baik  dari mereka.

Roh Kudus itu menyadarkan kita untuk menanggalkan keangkuhan pribadi dan mendorong kita untuk memperlakukan mereka dengan baik. Dengan demikian, bisa diharapkan terjalinnya keharmonisan dan kerjasama yang baik dalam bermasyarakat.

Karena Roh Kudus itu adalah Roh Cinta Allah Bapa dan Putera (Yesus), maka Roh Kudus itu adalah Roh Pemersatu. Oleh sebab itu, Roh ini juga mengajar dan mendorong kita agar mengusahakan persatuan di antara kita.

Dia memberikan karunia khusus  kepada orang-orang tertentu, tetapi juga  menyadarkan mereka bahwa karunia itu diberikan  bukan demi kepentingan pribadi, melainkan semata-mata demi  demi karya pelayanan bagi sesama. Mereka yang ‘mempunyai karunia lebih banyak’ hendaknya ‘membantu sesama yang berkekurangan.’ (bdk.1Kor.12:1-31).

Roh itu pun menyadarkan mereka bahwa karunia diberikan dengan cuma-cuma, maka penerima karunia harus memberikannya kepada sesama juga dengan cuma-cuma. Kalau orang sakit yang mereka doakan bisa sembuh, maka mereka tidak boleh mengklaim dirinya sebagai penyembuh; mereka  hanyalah penyalur kuasa dan cinta Tuhan. Penyembuhnya adalah Tuhan sendiri. Roh Kudus menyadarkan mereka  agar tetap rendah hati dan menjalin relasi pribadi dengan Tuhan dalam doa.

Kita bersyukur kepada Tuhan atas anugerah Roh Kudus yang diberikan-Nya kepada kita. Ia mengajarkan  segala sesuatu. Berbahagialah orang  yang dengan keterbukaan dan kerendahan hati membiarkan dirinya  diajarkan dan dibimbing oleh Roh Kudus. Dia tidak hanya saleh tetapi juga punya kepekaan sosial dan bersedia mewujudkannya dalam karya nyata demi kebahagiaan sesama.

Ledalero, Maumere, Flores, NTT

Sumber gambar:

http://bukitzion.com/v3/wp-content/uploads/2015/05/Hari-raya-Pentakosta.jpg

https://pendoasion.files.wordpress.com/2013/05/pentecost-2.jpg