Renungan Hari Minggu Paskah 27 Maret 2016: Dia Harus Bangkit

Oleh P.Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

Renungan Hari Paskah

Renungan Hari Paskah: Yesus Bangkit-Kubur Kosong

Agar bisa memperoleh hasil ujian yang baik, seorang  yang beriman harus mempunyai komitmen atau tekad yang kuat untuk bisa belajar dengan tekun, atau berusaha dengan cara- cara yang baik agar bisa berhasil.

Agar bisa bangkit dari antara orang-orang mati dan dengan itu memperoleh kemuliaan Paskah dan memperkuat iman para pengikut-Nya, sejak kedatangan-Nya ke dunia, Yesus sudah mempunyai komitmen yang kuat, yaitu melaksanakan kehendak Bapa yang telah mengutus-Nya dengan setia. Kehendak Bapa-Nya adalah menyelamatkan semua orang. Melaksanakan kehendak Bapa-Nya, itulah makanan-Nya (Yoh.4:34).

Melaksanakan kehendak Bapa-Nya itu, tidak mudah. Dalam karya perutusan-Nya, Ia harus berhadapan dengan pelbagai tantangan, misalnya ditolak oleh orang-orang-Nya sendiri (Mrk.6:1-6/parl), tidak dimengerti baik oleh keluarga-Nya (Mrk.3:21-22), oleh orang banyak (Yoh.6:14-15) maupun oleh para murid-Nya sendiri (Mrk.8:31-33/parl).

Ajaran dan karya-karya penyembuhan yang dilakukan-Nya menarik perhatian banyak orang. Dari pelbagai penjuru mereka datang untuk mendengarkan ajaran-Nya. Mereka juga memohon kesembuhan dari pelbagai penyakit dan pembebasan dari belenggu-belenggu roh-roh jahat (bdk.Kis.10:38). Yang Ia utamakan adalah keselamatan  manusia, sekalipun untuk itu Ia dituduh oleh pimpinan agama Yahudi, melanggar kekudusan hari Sabat. Bagi-Nya, “Hari Sabat diadakan  untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” (Mrk.2:27-28).

Hari Sabat yang  merupakan hari Tuhan atau hari di mana orang-orang Yahudi memuliakan Tuhan sebetulnya bukan saja dengan berdoa, tetapi harus disertai dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik bagi sesama yang menderita. Kepada mereka yang menantang-Nya, dengan tegas dan terus terang Ia menampilkan jati diri-Nya sebagai Putera Allah.

Allah adalah Bapa-Nya dan Dia hidup atau berada dalam satu persatuan dengan Bapa-Nya itu. Ia adalah pewahyu Bapa-Nya. Barang siapa melihat-Nya, melihat Bapa. Begitu juga barang siapa menerima-Nya, menerima Bapa yang telah mengutus-Nya (Yoh.14:8-11). Karena pewartaan-Nya inilah Ia dituduh sebagai penghujat Allah,  maka Ia pun dibenci dan diancam untuk dibunuh (Yoh.5:18; 10:22-39).

Sekalipun dihadang oleh pelbagai macam tantangan itu, Yesus tidak takut sedikit pun. Kepercayaan yang mendalam akan cinta Bapa yang tulus bagi-Nya dan persatuan yang harmonis dengan Bapa, itulah yang menjadi sumber kekuatan bagi-Nya. Penginjil Yohanes menampilkan Yesus yang setia dan taat kepada Bapa-Nya. Ia yakin akan cinta Bapa dan penyertaan-Nya, di Getsemani.

Yesus  tampil  dengan berani  dan berhadapan dengan sesama-Nya bangsa Yahudi yang datang hendak menangkap-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari ? Mereka menjawab: “Yesus dari Nazaret. Itu terjadi dua kali. Pada kali kedua, Ia menjawab:  “Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” (Yoh.18:4-8). Maksudnya jika Dia yang dicari, maka Ia mohon supaya para pengikut-Nya dibiarkan pergi dengan baik; tidak ditangkap dan disengsarakan.

Menyadari semua tugas perutusan yang telah dipercayakan Bapa kepada-Nya sudah dilaksanakan dalam segala kesempurnaan, maka menurut penginjil Yohanes, sebelum wafat-Nya di salib, Yesus berseru: “Bapa, sudah selesai.! Penginjil Yohanes memberitakan bahwa sesudah itu, “Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh.19:30).

 Kematian Yesus di salib merupakan puncak perwujudan cinta-Nya kepada Bapa dan kepada semua pengikut-Nya. Dialah biji gandum yang harus jatuh ke tanah dan mati; dan karena itulah ia menghasilkan banyak buah (Yoh.12:24). Menghasilkan banyak buah dan yang berkualitas, itulah keselamatan  (bdk.Yoh.12:32).  Ia yang tidak berdosa, merelakan diri-Nya diperlakukan sebagai orang berdosa, supaya dengan itu, kita yang seharusnya dihukum karena dosa-dosa kita, diselamatkan. Ia mati supaya kita yang berdosa ini, bisa selamat.

Karena sengsara dan kematian-Nya merupakan jalan yang Ia harus tempuh supaya kita bisa diselamatkan, maka dengan sendirinya Ia dibangkitkan oleh Allah yang Mahakuasa yang telah mengutus-Nya (bdk.Kis.10:40). Ia harus bangkit karena kuasa Allah jauh lebih besar daripada kuasa setan dan kejahatan serta kematian.

Kebangkitan-Nya memperlihatkan kemenangan kuasa Tuhan. Barangsiapa yang setia beriman kepada-Nya dan mewujudkannya baik dalam hidup rohani maupun dalam karya-karya sosial tanpa membeda-bedakan orang, ia akan  berhasil. Ia akan tampil sebagai pemenang mengalahkan ‘yang jahat’; dia juga akan dibangkitkan oleh Tuhan dan memperoleh hidup sejati.

Kristus harus bangkit karena Ia telah setia mewujudkan cinta Allah sampai akhir hidup-Nya. Komitmen-Nya ia wujudkan bukan hanya lewat kata-kata, tetapi dengan perbuatan-perbuatan baik sampai Ia mengorbankan nyawa-Nya sendiri.

Kita pun harus bangkit. Namun untuk bisa bangkit, kita hendaknya mencontohi Yesus, khususnya dengan memiliki ketekadan yang kuat untuk melaksanakan kehendak-Nya, yaitu mewujudkan hukum kasih-Nya, mengasihi sesama seperti Ia mengasihi kita (Yoh.13:34).

Itu berarti, kita pun hendaknya rela berkorban demi kebahagiaan orang lain atau kebahagiaan bersama. Cinta sejati tidak hanya diucapkan lewat kata-kata, tetapi harus dibuktikan dengan kesediaan untuk berkorban dalam perbuatan-perbuatan baik.  Dalam perwujudan cinta sejati, yang diutamakan bukan lagi kepentingan pribadi kita melainkan semata-mata kepentingan orang lain atau bersama. “Demi dia atau demi mereka, saya rela berkorban.”

Seperti  Yesus, agar bisa bangkit, maka kita pun ditantang untuk setia dalam panggilan hidup kita masing-masing baik sebagai kaum rohaniwan/ti, maupun kaum awam. Seperti Dia yang hidup dalam persatuan yang kuat dengan Bapa, maka kita pun, kalau mau supaya  bisa setia sampai akhir hidup, harus menjalin persatuan yang kokoh dengan Tuhan sendiri. Selain itu, kita pun hendaknya berusaha setia memelihara relasi personal yang baik dengan sesama, mulai dengan anggota keluarga kita masing-masing.

Cinta sejati antaranggota keluarga merupakan hal yang amat fundamenal bagi keutuhan dan persatuan keluarga itu. Tantangan atau masalah apa pun yang dihadapi keluarga, hal itu hendaknya tidak membuat mereka goyah, tetapi semakin mendorong mereka agar lebih setia saling mencintai.

Kita diajak untuk setia beriman kepada Tuhan sekalipun kita mengalami tantangan atau penderitaan.  Keberhasilan atau kebahagiaan akan kita capai apabila kita setia beriman pada-Nya dan setia dalam karya dan perjuangan kita.  Kita berusaha mencapai tujuan lewat cara-cara yang halal. Tidak dibenarkan, seorang pengikut Yesus menghalkan segala cara (termasuk cara yang jelek/jahat) untuk mencapai tujuan.

Kristus harus bangkit, maka kita pun harus bangkit ! Dalam iman kepada-Nya, tokoh kebangkitan, tokoh pembebas dan penyelamat kita, kita bertekad untuk bangkit dari segala yang jelek: dari kemalasan, sifat ingat diri, kelobaan, dan dari keangkuhan.

Kita harus bangkit dari ketakutan menampilkan identitas kita sebagai pengikut-pengikut Kristus bagi sesama yang belum mengenal-Nya dalam hal-hal yang baik. Kita harus bangkit dari sifat suka cari gampang dan tidak rela berkorban bagi sesama, khususnya sesama yang menderita.

Kita harus bangkit dari kecenderungan untuk membalas dendam, atau mempersalahkan sesama sebagai sumber kesalahan padahal sebetulnya kita sendirilah yang menjadi penyebab kesalahan. Kita harus bangkit dari keengganan kita  memaafkan / mengampuni orang dan dari  ketidakjujuran. Kita harus bangkit dari semua ‘yang jelek.’ Karena ‘kejelekan’ kita itu, sesama, bahkan orang-orang yang sangat dekat dengan kita atau berjasa bagi kita, menderita.

Kristus telah memberi contoh yang baik bagaimana harus bangkit. Kebangkitan harus bermula dari kita sendiri. Kalau kita bangkit dari segala yang jelek itu, maka kita menjadi pemberi contoh yang baik bagi sesama. Bersama Yesus yang bangkit, marilah kita wujudkan ‘kebangkitan’ kita  dalam perbuatan-perbuatan baik, mulai dari hal-hal kecil dan sederhana dengan kemurninan hati (bdk.1Kor.5:8). Hendaknya ‘kebangkitan kita itu,’ kita wujudkan dalam hidup bersama  di tengah  keluarga atau komunitas kita masing-masing.

Semoga Kristus yang bangkit itu membantu kita untuk mewujudkan ‘kebangkitan’ kita agar kehidupan kita bersama orang lain menjadi lebih baik.

Selamat Pesta Paskah, 27 Maret 2016.

Ledalero, Maumere, Flores, NTT

Sumber foto: https://gkjwsby.files.wordpress.com/2013/04/christ_empty_tomb.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *