Renungan Hari Minggu (10/04/2016): Mengikuti Dia Yang Setia

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-minggu-10042016-mengikuti-dia-yang-setia.html

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-minggu-10042016-mengikuti-dia-yang-setia.html

Oleh P. Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

 

Salah satu kebajikan  yang bisa menjadi sumber sukacita dalam hidup bersama namun yang tidak mudah juga untuk diwujudkan yaitu ‘kesetiaan.’Penginjil Yohanes menampilkan Yesus yang setia. Dia menampakkan diri-Nya di pantai danau Tiberias (Yoh.21:1-14) dan berdialog  dengan Petrus (Yoh.21:15-19).

Dalam dua perikop ini, tokoh Petrus secara khusus ditampilkan. Hal itu bisa kita lihat juga dalam beberapa perikop injil, misalnya Mrk.1:16-20/parl; Luk.9:28-36.

Dalam Mat.16:13-20/parl, Yesus memberi kuasa kepadanya (Petrus) sebagai wadas Gereja (kata Aram: kepha;  kata Yunani: petra = wadas,  batu karang)  dan kunci kerajaan Surga. Kita juga bisa menemukan peran Petrus dan kegiatannya seperti yang ditulis oleh penginjil Lukas  dalam Kisah Para Rasul (Kis.2-15).

Dalam Yoh.21:1-14, Simon Petrus mengambil inisiatif untuk memberitakan kepada teman-temannya bahwa ia mau pergi  menangkap ikan. Kemudian mereka pun pergi bersamanya.

Petrus jugalah yang diberitakan penginjil ini bahwa begitu mendengar ungkapan: “Itu Tuhan” dari murid yang dikasihi Yesus (Yoh.21:7a), ia langsung terjun ke dalam danau dan berenang menuju Yesus (Yoh.21:7b).

Dia jugalah yang setelah mendengar perintah Yesus untuk membawa beberapa ekor ikan yang barusan mereka tangkap, langsung naik perahu, lalu menghela jala ke darat, penuh dengan ikan-ikan besar (Yoh.21:11).

Kepada Petrus, tiga kali Yesus mengajukan pertanyaan yang sama: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini ?” (Yoh.21:15a.16a). Ia menjawab: “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” (Yoh.21:15b.16b). Setelah mendengar jawabannya Yesus berkata kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yoh.21:15c.16c). Rupanya Yesus  mau mengetahui  keikhlasan hati Petrus.  Karena itu, Ia mengajukan pertanyaan ketiga dengan formulasi yang sama.

Setelah mendengar pertanyaan ketiga, diberitakan bahwa Simon Petrus merasa sedih. Kemudian dia pun menjawab: “Tuhan, engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” (Yoh.21:17ab). Sesudah itu, Yesus menjawab: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yoh.21:17c).

Kesedihan Simon Petrus berkaitan dengan peristiwa penyangkalannya (Luk.22:54-62/parl). Ia takut menderita dan mati. Penyangkalannya jelas menunjukkan ketidaksetiaannya mengikuti  Yesus.

Kasih kepada Yesus harus  dibuktikan lewat kesediaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Yesus adalah Gembala yang baik, yang mengenal domba-domba-Nya, yang memanggil mereka dengan namanya masing-masing. Mereka pun mengenal Dia dan mendengarkan suara-Nya. Mereka mengikuti Dia karena mereka percaya pada-Nya sebagai Gembala yang baik dan yang mengisihi mereka. Ia menuntun mereka ke luar kandang menuju padang rumput yang hijau (Yoh.10:1-10; bdk.Yeh.34:11-16;Mzm.23:1-6).

Sebagai Gembala yang baik, Yesus selalu berinisiatif untuk datang kepada mereka, berada bersama mereka dan ‘berdialog’ dengan mereka. Ia menerima dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih. Ada kedekatan batin di antara mereka. Untuk  kehidupan, kebahagiaan  dan keselamatan mereka, Ia bersedia memberikan ‘yang terbaik’ bahkan nyawa-Nya sendiri (Yoh.10:11-15; 15:13).

DIA memanggil Simon Petrus untuk mengikuti-Nya. Itu berarti Simon Petrus harus menjadi gembala bagi semua pengikut-Nya. Menjadi gembala berarti menjadi pemimpin, dan menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan. Karena itu, mengikuti Yesus  sebagai Gembala  atau Pemimpin yang baik berarti menjadi pelayan yang baik (Mrk.10:45; Mat.20:28).

Dia hendaknya tidak hanya mengajar tetapi mengajar berdasarkan contoh yang baik (Yoh.13:1-7). Karena  Yesus bukan hanya Gembala yang baik tetapi  terutama Gembala yang setia sampai akhir, maka Simon Petrus pun harus menjadi pelayan yang bersedia menderita demi Yesus (bdk.Kis.5:41)dan setia mengikuti-Nya sampai akhir hidupnya. Dia harus bersedia mati demi keselamatan para pengikut Yesus.

Yesus  setia mencintai Petrus dan teman-temannya sekalipun mereka tidak setia mencintai-Nya. Mereka yang tidak setia itu meninggalkan-Nya karena takut menderita bersama-Nya. Namun ketika mereka sedang berada dalam ketakutan dan kecemasan, Ia datang meneguhkan mereka (Yoh.20:21.26) dan menampakkan diri secara khusus kepada Tomas (Yoh.20:27-29).

Kini, ketika mereka sedang  mengalami kegagalan, Ia datang dengan maksud baik agar mereka bisa berhasil menangkap ikan. Mereka  pun segera melakukan perintah-Nya, dan memperoleh keberhasilan yang luar biasa (Yoh.21:21:6.10-11).

Yesus yang setia itu  mengambil inisiatif untuk mengunjungi mereka di pantai, di tempat kerja mereka sebagai nelayan (Yoh.21:1-14). Berdasarkan apa yang dilakukan Yesus ini, maka kita pun hendaknya mengambil inisiatif untuk  mengunjungi  sesama  di rumah atau secara khusus di tempat kerja mereka.

Dengan berbuat demikian, kita dapat mengetahui bagaimana sesama kita berjuang mencari nafkah: ada suka-duka, kesuksesan- kegagalan yang mereka alami. Kita berdialog dengan mereka, mendengarkan mereka, dan kemudian berusaha membantu mereka agar mereka bisa berhasil.

Yesus  menyiapkan makanan bagi  para murid, dan mengajak mereka untuk makan bersama sebagai ungkapan persatuan dan persaudaraan. Ia juga menerima dan mengargai hasil karya mereka. Dia bukan saja menyiapkan makanan jasmani biasa, tetapi terutama memberi nyawa-Nya sendiri – tubuh dan darah-Nya sebagai santapan rohani bagi mereka dan bagi kita para pengikut-Nya. Ekaristi merupakan sakramen cinta-Nya yang paling luhur.

Dalam sakramen itu, kita dipersatukan oleh-Nya, menjadi saudara/i dalam iman yang satu dan sama. Mengikuti Dia berarti berpartisipasi dalam sakramen cinta-Nya itu. Sebagaimana Dia yang satu dan sama ‘memecah-mecahkan diri-Nya’ bagi kita semua, maka sebagai pengikut-pengikut-Nya kita pun diajak untuk ‘memecah-memecahkan diri’- membagi cinta  dalam karya pelayanan kita bagi sesama.

Persatuan dan persaudaraan tidak hanya berakhir dalam perayaan Ekaristi (atau perayaan liturgis lain), tetapi harus dilanjutkan dalam karya pelayanan  bagi semua orang  khususnya mereka yang menderita dan sangat membutuhkan bantuan kita. Kita ditantang untuk tidak hanya menyiapkan ‘makanan jasmani’ tetapi terutama diri kita  sendiri dalam perjuangan bersama mereka agar mereka bisa memperoleh rejeki secukupnya.

Kita  hendaknya  terus mewujudkan persaudaraan ini:  memberi makan (dan minum) kepada yang kelaparan, kehausan  atau yang sulit memperoleh rejeki yang pantas, atau kepada sesama yang sekalipun mempunyai kehidupan ekonomis yang baik, namun  tidak bisa menikmatinya karena sakit. Kita juga hendaknya memberi makan (dan minum) kepada sesama yang lapar dan haus akan perhatian dan kasih-sayang,  akan kesetiaan, kerukunan dan keharmonisan dalam hidup bersama.

Mengikuti Yesus  yang setia itu, tidak mudah, karena kesetiaan menuntut kesediaan untuk berkorban demi kebahagiaan orang lain. Dalam kenyataan, kita bukan mengikuti Yesus tetapi mengikuti Petrus dan teman-temannya yang tidak setia.

Dalam hidup berkeluarga, suami  tidak berusaha memelihara ketulusan cintanya  terhadap isterinya, tetapi lebih mengikuti keinginan pribadi dalam relasinya dengan perempuan lain. Begitu pun sebaliknya.

Orangtua yang seharusnya setia mewujudkan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya, tetapi tidak mempunyai waktu yang cukup banyak  untuk berada bersama mereka. Anak-anak yang seharusnya setia mendengarkan, menghargai dan membantu orangtua (terutama di kala mereka  sakit dan amat lemah), tetapi lebih sering menyibukkan diri dengan pelbagai urusannya dan akhirnya tidak mempedulikan orang tua mereka.

Kaum rohaniwan/ti yang  mungkin sudah sekian tahun mengikuti Yesus, tetapi yang diikuti  bukan kehendak-Nya, melainkan kehendak sendiri.

KehendakNya  adalah agar kita bersedia melayani siapa saja, tetapi yang kita layani dan utamakan adalah kepentingan diri kita sendiri, atau  ‘orang-orang yang dekat, yang sepaham, yang sedaerah dan yang mengasihi kita,’ sedangkan sesama yang tidak seperti itu, terutama yang sering mengeritik atau yang menjadi ‘duri dalam hidup bersama’ kita  kesampingkan. Mengikuti Dia yang setia sampai akhir berarti bersedia memberi kasih tanpa membeda-bedakan.

Apabila seorang ibu rumah tangga setia berdoa, setia dan bertanggung jawab mengatur segala kebutuhan keluarga atau seorang ayah setia  mencari nafkah  untuk keluarganya atau seorang anggota biara setiap hari setia dan bertanggung jawab melakukan tugasnya di asrama pembinaan anak-anak panti asuhan, maka mereka sebetulnya sudah mencontohi Yesus yang setia.

Seperti Yesus, mereka pun ‘berwibawa’ (bdk.Luk.4:32). Mereka mungkin orang-orang  yang sederhana, tidak mempunyai pendidikan formal yang tinggi dan tidak pandai berbicara, namun hal itu ‘tidak memudarkan kewibawaan mereka.’ Mereka berbicara bukan lewat kata-kata verbal, tetapi terutama lewat kesaksian hidup dan perbuatan mereka yang simpatik (bdk.Yoh.13:1-17).

Yesus  mengajak kita agar kita senantiasa mewujudkan kasih dalam  karya pelayanan  bagi semua orang terutama sesama yang miskin yang tidak bisa membalas kebaikan kita dengan harta benda duniawi. DIAlah yang  akan membalas kebaikan kita (bdk.Why.5:11-14) dan itu jauh lebih berharga daripada permata yang termahal atau trilunan rupiah sekalipun.

Kiranya DIA yang kita ikuti dan Pribadi yang menjadi Panutan Kesetiaan itu  membantu  kita agar kita bisa mewujudkan kesetiaan ini, mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana.

Ledalero,  Maumere, Flores, NTT

sumber foto:

https://melangkahmeraihcita.files.wordpress.com/2012/04/tuhan-yesus-sayang-kepadaku.jpg

http://1.bp.blogspot.com/-mk06ESdJGyA/UGJ4Qgo6UDI/AAAAAAAAFaA/TStBheicPKs/s1600/Setia.jpg