Renungan Hari Minggu (08 Mei 2016): Agar Dunia Percaya

yang percaya pada Yesus

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-minggu-08-mei-2016-agar-dunia-percaya.html

Oleh P.Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

Dalam hidup harian, ada hal-hal tertentu yang harus  kita lakukan  agar orang-orang lain bisa percaya. Seperti Tomas dalam Yoh.20:24-29, mereka itu baru  bisa percaya kalau sudah melihat bukti.

Dalam renungan saya hari Minggu, 3 April 2016 yang lalu tentang “berbahagia karena percaya,’ saya menekankan bahwa sekalipun kita tidak melihat bukti bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit seperti yang dituntut oleh Tomas, namun kalau kita betul-betul percaya kepada-Nya sebagai Tuhan yang hidup dan bangkit serta setia menyertai kita, maka kitalah yang berbahagia, malah jauh lebih berbahagia dari pada Tomas (bdk.Yoh.20:29).

Renungan saya kali ini berdasarkan Yoh.17:20-26, dan saya memfokuskan refleksi saya pada doa Yesus bagi para murid-Nya agar mereka bersatu seperti Dia dan Bapa dan Roh-Nya adalah satu.

Penginjil Yohanes memberitakan bahwa persatuan Allah Tritunggal yang dilandasi oleh cinta sejati hendaknya menjadi dasar persatuan para pengikut Yesus. Karena mereka akan melanjutkan karya perutusan-Nya di tengah ‘dunia’ yang membenci dan menolak mereka, maka persatuan mereka atas dasar cinta sejati seperti yang telah Yesus berikan kepada mereka harus sungguh-sungguh mereka hayati dan wujudkan.

Menyadari betapa pentingnya persatuan dalam perjuangan meneruskan karya-Nya, maka penginjil Yohanes, di akhir pemberitaannya tentang wejangan perpisahan Yesus bagi para murid-Nya, menyajikan perikop tentang doa Yesus bagi persatuan mereka.

Mereka hanya bisa sungguh-sungguh bersatu, hanya apabila Bapa-Nya sendirilah yang menjaminnya. Sekalipun mereka sudah termasuk kelompok para pengikut-Nya, namun mereka bukan malaikat; mereka tetap manusia biasa yang punya kelemahan dan kekurangan. Justru karena itulah, peranan kuasa Bapa-Nya amat dibutuhkan.

Roh Bapa dalam cinta-Nya kepada Putera-Nya itulah yang akan membantu mereka mewujudkan persatuan di antara mereka. Kuasa cinta Allah Tritunggal amat kuat, jauh lebih kuat daripada kuatnya pengaruh kemanusiaaan mereka dengan segala kelebihan dan kelemahan. Dia juga jauh lebih kuat ketimbang kuatnya kebencian dan penolakan yang datang dari pihak ‘dunia’  yaitu  baik mereka yang tidak mengenal Allah maupun  yang sungguh-sungguh  tidak mau mengenal-Nya.

Orang  ‘dunia’ itu hidup dalam kebencian terhadap Yesus dan para pengikut-Nya, dan puncak dari kebencian itu adalah pengejaran dan penganiayaan terhadap mereka (Yoh.15:18-25). Yesus dengan terus terang mengatakan hal itu agar mereka sungguh-sungguh menyiapkan segala kemungkinan yang bakal mereka alami. Seperti Yesus pernah ditolak, dibenci dan akan dibunuh, mereka pun akan mengalami hal yang sama.

Mereka hendaknya tidak cemas atau tidak takut menghadapi semuanya itu, karena Roh Cinta, Peneguh dan Penghibur akan setia menyertai mereka. Dialah yang akan membuat mereka bersatu dan memampukan mereka untuk memberi kesaksian tentang kebenaran Ilahi.

Kebenaran itu berkaitan dengan kejujuran, dan kejujuran berkaitan dengan penyelewengan yang harus  mereka wartakan agar ‘dunia’ yang sudah terbiasa dengan penyelewengan dan memandangnya sebagai hal yang normal, bisa sadar dan bertobat.

Berkat doa Yesus bagi persatuan para murid-Nya dan berkat penyertaan Roh Cinta Allah itu, mereka  diharapkan agar mewujudkan kesetiaan dalam iman sampai akhir hidup mereka. Seperti Yesus  Guru mereka, mereka  harus  bersedia untuk menderita dan wafat demi keselamatan banyak orang. Dia akan mengganjari mereka, yang sekalipun ditekan oleh situasi penolakan, kebencian, pengejaran dan penganiayaan, tetap setia memelihara persatuan di antara mereka (bdk.Why.22:12-13).

Doa Yesus kepada Bapa-Nya itu hendaknya menyadarkan para murid  bahwa apabila mereka  dibenci karena kebenaran yang mereka wartakan maka mereka harus membalasnya dengan berusaha untuk beryukur dan bersukacita karena mereka bisa merasakan kehadiran-Nya di tengah situasi kebencian itu (bdk.Mzm. 97:12).

Apabila mereka ditolak, mereka hendaknya membalasnya dengan berusaha untuk menerimanya dengan sabar.

Apabila mereka tidak dimengerti, mereka hendaknya membalas dengan berusaha untuk mengerti; apabila mereka dicemooh, dihina atau diludahi, mereka hendaknya membalasnya dengan usaha bersikap tenang.

Apabila karena Yesus, mereka dikejar, dianiaya dan dibunuh seperti Stefanus (Kis.7:55-60), mereka diharapkan agar rela mengampuni, dan  berusaha untuk tetap bersatu baik dengan Dia sendiri maupun di antara mereka.

Bersatu dalam penderitaan demi Yesus punya ‘kekuatan khusus’ untuk mengalahkan ‘dunia’ itu.  Cepat atau lambat, ‘dunia’ itu akan bertobat dan percaya bahwa Yesus itulah yang diutus Bapa. Bapa yang tidak kelihatan menjadi kelihatan dalam diri Yesus, dan Yesus yang kini tidak kelihatan secara fisik itu pun menjadi kelihatan dalam diri para murid-Nya yang bersatu dalam cinta sejati sekalipun harus  menderita.

‘Dunia’ itu akan sadar dan percaya bahwa penolakan, kebencian, tipu daya, manipulasi, kelobaan demi uang atau kepentingan pribadi, kekerasan fisik atau senjata  dan pembunuhan, tidak akan mampu membuat para murid Yesus takut. ‘Dunia’ itu akan sadar bahwa ada TUHAN sebagai sumber kekuatan utama yang bisa membuat para murid itu tetap kokoh dalam persatuan  dan  ada satu  nilai hidup yang ingin mereka perjuangkan dan peroleh, yaitu kebahagiaan atau keselamatan. Itu  hanya bisa diberikan oleh DIA sendiri.

Belajar dari doa dan harapan Yesus bagi persatuan para murid Yesus itu maka kita sekarang pun diharapkan menggalang persatuan di antara kita baik dalam keluarga, komunitas religius dan masyarakat.

Persatuan itu hanya bisa terjadi apabila semua anggota mempunyai cinta yang ikhlas. Namun cinta itu pun harus diminta dari Tuhan dalam doa yang dilaksanakan dengan penyerahan diri secara total kepada-Nya.

Hal itu disebabkan karena hanya Tuhan sajalah yang mempunyai cinta sejati. Dia memberikan yang terbaik bagi kita dalam diri Yesus, Putera-Nya. Dari Yesus, kita belajar bagaimana harus menghayati dan mengamalkan cinta bagi sesama, khususnya supaya dengan saling mencintai itu, kita bisa hidup dalam persatuan.

Yang menantang persatuan di antara kita itu datang ‘baik dari dalam kebersamaan kita’  maupun yang datang ‘dari luar.’ Orang yang hidup seperti ‘dunia’ cenderung lebih mengutamakan kepentingan  pribadinya daripada kepentingan sesama.

Orang ‘dunia’ juga akan lebih suka bermental suka enak, tidak mau berkorban demi kepentingan orang lain yang menderita. Dia sukar untuk melepaskan ‘kenyamanan’ pribadi dan mau beralih ke  situasi baru yang menuntut pengorbanannya. Dia  enggan   menyesuaikan diri dengan situasi baru, karena ia tidak mau menderita demi menikmati suatu nilai hidup yang lebih luhur bersama orang lain yang menderita.

Dengan caranya yang licik, ia berusaha untuk menolak orang-orang yang lebih beriman, lebih berprestasi atau lebih dermawan. Tidak jarang ia membenci tanpa alasan yang jelas. Ia berbuat demikian, karena ia tidak mampu untuk menghayati dan mewujudkan cinta Yesus. Tidak jarang ia menjadi sumber percecokan atau masalah dalam hidup bersama. Sekalipun demikian, ia enggan sekali untuk mengakui kekurangannya, bahkan cenderung mengkambinghitamkan orang lain.

Berusaha untuk mempertobatkan orang ‘dunia’ dan membuatnya percaya kepada Yesus yang diutus Bapa, tidak mudah. Orang bertipe seperti itu sering tidak suka mendengarkan pewartaan tentang pentingnya mawas diri dan pertobatan. Dari pewarta dibutuhkan kekokohan iman, kesabaran, kerendahan hati dan penyerahan diri secara total kepada Tuhan agar Dia sajalah yang membantu proses pertobatan orang ‘dunia’ itu.

Berhadapan dengan tantangan dari orang ‘dunia’ ini, kita hendaknya setia berusaha, berguru pada Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan keberhasilan. Kita mau mendengarkan apa kehendak-Nya yang harus kita lakukan.

Berguru pada-Nya menyadarkan kita agar selalu rendah hati, dan dengan demikian kita menjadi kuat. Sedangkan dialog dengan Tuhan menyadarkan kita juga untuk mau berdialog dengan sesama kita, terutama dengan anggota keluarga atau komunitas religius kita. Kita berdialog tentang apa yang harus kita lakukan demi persatuan di antara kita.

Kalau ada persatuan di antara kita maka kita pun akan siap sedia menghadapi pelbagai macam tantangan atau masalah, termasuk apabila karena iman kita akan Yesus, kita harus menderita karena perilaku orang ‘dunia’. Namun, kebersamaan dan persatuan kita dalam merasakan penderitaan karena iman kita kepada Tuhan itu, membuat kita semakin saling mengenal dan mencintai. Itulah salah salah satu kekuatan kita untuk mengalahkan ‘dunia’ yang tidak percaya kepada Tuhan.

Semoga karena iman dan cinta kita kepada Yesus, apabila kita difitnah oleh orang ‘dunia,’ kita bisa merasakan kehadiran-Nya; apabila kita tidak dipahami karena kebaikan kita, kita bisa merasakan betapa besar cinta-Nya; apabila kita dibenci dan ditolak, kita bisa merasakan sapaan-Nya: ‘Aku ini, jangan takut!” (bdk.Yoh.6:20);  apabila kita menderita karena merasakan perilaku yang sewenang-wenang dan tidak adil, kita bisa merasakan peneguhan-Nya; dan apabila kita harus mengorbankan yang terbaik demi persatuan, kita bisa merasakan cinta-Nya yang tidak berkesudan.

Ledalero, Maumere, Flores, NTT

Sumber foto:

http://www.layanglicana.org/blog/wp- content/uploads/2011/10/shutterstock_hands.jpg

http://www.hidupkatolik.com/foto/bank/images/Doa-Yesus-untuk-muridNya.jpg