Renungan Hari Minggu (01 Mei 2016): Damai Sejahtera

damai sejahtera2

Oleh P. Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

Salah satu keutamaan yang menjadi dasar kebahagiaan dalam hidup bersama adalah damai sejahtera. Penginjil Yohanes memberitakan bahwa pada malam sebelum ditangkap oleh sesama bangsa Yahudi, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Ia memberi ‘damai sejahtera’ kepada mereka. Damai sejahtera yang Ia berikan itu amat berbeda dari damai yang diberikan ‘dunia.’ Ungkapan ‘dunia’ maksudnya, selain dunia rill ini, tetapi terutama orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya dan menolak-Nya.

Dengan terus terang Ia mengatakan bahwa Ia akan pergi, tetapi Ia akan datang kembali kepada mereka. Lewat salib, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga, Ia akan pergi – kembali kepada Bapa yang telah mengutus-Nya ke dunia, namun Ia akan mengutus Roh Kudus kepada mereka. Melalui Roh Kudus itulah, Ia akan kembali.

Roh Kudus yang adalah Roh cinta Bapa dan Dia (Yesus) sendiri itulah diberikan kepada mereka. Dialah sumber damai sejahtera. Karena Dia adalah Roh cinta Ilahi maka yang Ia berikan adalah hal-hal yang baik yang membahagiakan dan menyelamatkan. Karena Ia hidup dalam satu persatuan Ilahi, maka yang Ia berikan adalah kehendak yang kuat untuk mempersatukan dan menguatkan mereka. Karena Ia tahu bahwa mereka akan melanjutkan karya perutusan-Nya di tengah situasi yang tidak ramah, maka Roh-Nya itu menyatakan kesetiaan-Nya menyertai mereka.

Ia tidak akan meninggalkan mereka seperti anak-anak yatim-piatu (Yoh..14:18). Karena Ia berasal dari dunia kebaikan, maka Ia akan mengajar mereka untuk selalu berbuat baik; mengalahkan ‘dunia’ yang keras hati untuk percaya kepada-Nya lewat pendekatan pribadi, dialog, penyadadaran dan karya-karya nyata.

Roh Kudus, Roh Pembawa damai sejahtera itu tidak kelihatan secara fisik, tetapi Ia ada dan aktif berkarya dalam diri mereka yang setia beriman kepada-Nya. Ia berkarya dalam diri mereka yang terbuka menerima-Nya. Dia akan membantu mereka agar mereka taat melaksanakan Sabda atau kehendak Tuhan.

Melaksanakan kehendak-Nya tidak mudah, karena mereka harus menampilkan identitas mereka dengan selalu berbuat baik termasuk mendoakan sesama yang membenci, memusuhi dan menganiaya mereka (bdk.Mat.Mat.5:43-48). Dengan bantuan-Nya mereka harus berperan seperti terang di tengah dunia kegelapan / kejahatan  lewat perbuatan-perbuatan baik (Mat.5:14-16; bdk.Why.21:23).

Roh itu mengasihi dan menguatkan mereka agar selalu tekun berbuat baik karena justru perbuatan baik itulah yang mendatangkan perdamaian. Perdamaian tidak akan tercapai apabila mereka membalas kejahatan sesama dengan kejahatan; kekerasan fisik / senjata dibalas dengan kekerasan yang sama. Hal itu akan menimbulkan kebencian, balas dendam dan peperangan yang sukar sekali bisa berakhir.

Roh Kudus, Pembawa damai sejahtera itu akan mengajar mereka untuk setia mencintai hidup persaudaraan mulai dalam komunitas kecil. Karena komunitas mereka harus memberi kesaksian tentang Yesus yang adalah sumber kasih, maka mereka harus bersatu sebagai saudara-saudara.

Kalau mereka bersatu, maka mereka akan kuat dan bertahan di tengah tantangan yang datang dari pihak luar. Kalau mereka saling mengasihi dan hidup dalam satu persatuan, maka tidak ada di antara mereka yang akan muncul sebagai pengkhianat. Mereka akan bekerjasama dengan baik demi keberhasilan karya mereka. Pihak luar yang menantang dan menolak mereka akan perlahan-lahan menjadi sadar akan perilaku jahat mereka dan terdorong untuk bertobat.

Roh pembawa damai sejahtera itu menyadarkan mereka bahwa kuasa Ilahi itu jauh lebih kuat daripada kuasa kejahatan. Karena itu sebagai orang-orang beriman, mereka harus selalu bersatu dengan kuasa Ilahi. Sekalipun dalam realitas, kelihatan sering hal yang lebih dominan adalah kuasa kejahatan, namun hal itu tidak berarti bahwa kuasa Ilahi tidak berperan. Dia tatap ada. Hanya saja mereka  harus selalu bersatu dengan Dia.

Merajalelanya kuasa kejahatan itu tidak boleh membuat mereka takut, cemas, melupakan-Nya, dan kemudian membuang iman mereka. Justru karena merajalelanya kuasa kejahatan itu, mereka harus beralih kepada-Nya.

Kalau ‘dunia’ dan kuasa kejahatannya mendatangkan penderitaan, sebaliknya DIA mendatangkan damai sejahtera dan sukacita. Kalau dunia kejahatan lebih suka mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya, maka DIA biasanya mengutamakan kepentingan bersama. Kalau dunia kejahatan sering mencari jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, maka DIA menyadarkan mereka bahwa hanya lewat perjuangan, kerja keras-lewat cara-cara yang halal, barulah mereka memperoleh keberhasilan. DIA menyadarkan mereka bahwa hidup di dunia adalah suatu perjuangan yang harus diwujudkan sampai akhir hidup dalam persatuan dengan Dia sendiri.

Roh pembawa damai sejahtera itu membantu mereka untuk mengingat segala sesuatu yang pernah Yesus ajarkan. Dengan mengenang atau mengingat kembali ajaran Yesus, mereka menghadirkan Yesus dalam realitas kehidupan dan perjuangan mereka setiap hari. Yesus hadir kembali lewat Sabda-Nya dalam Kitab Suci. Karena itu, mereka diajak untuk setia membaca, merenungkan, menghayati dan melaksanakannya dalam hidup mereka. Mereka harus hidup atas dasar iman yang kokoh sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh macam-macam tantangan atau godaan duniawi (bdk.Mat.7:24-27/parl) Tanpa fondasi iman yang kuat akan Sabda Tuhan, mereka akan mudah jatuh.

Roh Pembawa damai itu hadir juga dalam diri sesama yang menghibur dan meneguhkan. Ia hadir dalam diri mereka yang beriman dan yang mempunyai kepedulian besar bagi kehidupan dan kebahagiaan orang lain. Mereka itu tidak hanya anggota-anggota komunitas, tetapi juga yang berada di luar komunitas mereka. Bisa saja mereka itu adalah orang-orang seiman tetapi juga yang tidak seiman, yang berbeda latar belakang  budaya, suku, bangsa dan  bahasa. Lewat sesama  itu, Roh Tuhan itu berkarya membawa damai sejahtera dan berbuat baik kepada mereka. Karena itu, para murid diajak-Nya untuk menerima, mendengarkan dan menghargai sesamanya serta memperlakukan mereka dengan baik, tidak  menyusahkan mereka (bdk.Kis.15:22-29).

Menyadari betapa pentingnya Roh pembawa damai sejahtera itu, maka kita sebagai pengikut-pengikut Yesus diajak untuk membuka hati kita bagi kehadiran dan karya-Nya.  Karena hanya dengan bantuan-Nya itu, kita bisa berusaha untuk mengalahkan kejelekan atau kejahatan orang lain dengan kebaikan. Kita tidak segera menunjukkan reaksi emosional ketika mendengar kata-kata penghinaan, ejekan atau perilaku yang menyakitkan dan merugikan kita. Kalau kita menyadari kehadiran-Nya, maka kita akan diinspirasikan-Nya untuk bersikap tenang dan dengan bijaksana membuat pendekatan pribadi dan berdialog dengan pihak yang bersangkutan, berbicara dari hati ke hati, dan menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi dengan baik.

Roh itu juga akan menyadarkan kita betapa pentingnya menjalin relasi yang baik dengan Tuhan sebagai sumber perdamaian. Kita akan berhasil dalam karya atau bisa menyelesaikan masalah-masalah termasuk kesalahpahaman, perselisihan, yang sedang kita hadapi dengan baik apabila kita selalu berdoa dan berdialog dengan Dia. Karena itu, perlu waktu yang cukup banyak untuk berdoa kepada-Nya. Dengan bantuan-Nya kita akan berusaha menciptakan perdamaian di dalam keluarga atau komunitas kita. Kita juga akan berusaha menjalin relasi yang baik dengan sesama di luar komunitas kita tanpa membeda-bedakan mereka. Kita pun bisa bersikap terbuka untuk belajar banyak hal yang baik dari mereka.

Roh itu membantu kita untuk berjuang mencapai tujuan lewat cara-cara yang halal, sekalipun cara-cara yang halal itu harus ditempuh dengan perjuangan dan kerja keras. Hanya lewat cara-cara itu kita memperoleh kebahagiaan dan kedamaian batin. Sekalipun pendapatan seorang bapa keluarga  kecil dalam sebulan, namun dia berbahagia karena sadar bahwa yang dia peroleh itu merupakan hasil jerih-payahnya sendiri. Dia akan disadarkan untuk berhemat karena untuk memperolehnya, ia harus berjuang, bekerja keras.

Namun bagi  seorang koruptor,  muncul pertanyaan: “Apa gunanya  ia memperoleh segala kebutuhan hidup dalam bidang ekonomi, tetapi semua yang dimiliki itu merupakan hasil curian, manipulasi atau penipuan ??  Kalau hidupnya seperti itu, apakah ada kedamaian batin ??? Apabila perbuatannya itu diketahui, lalu ia ditangkap dan harus bertahun-tahun berada dalam penjara, apa guna semua yang ia miliki itu ?? Lalu kalau nanti ia mati, apa guna semuanya itu ?? Lalu apa yang harus ia pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan ???

Roh itu hadir dalam sakramen-sakramen khususnya Ekaristi. Hendaknya kita membuka hati kita  untuk menerima-Nya, dan membiarkan Dia berkarya dalam hidup kita. Dia membantu kita untuk mewujudkan damai sejahtera dalam hidup bersama. Roh itu juga menyadarkan kita bahwa hidup yang benar adalah hidup menuruti kehendak Tuhan sendiri, yaitu selalu berbuat baik bagi sesama tanpa membeda-bedakan, berjuang mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, dan berjuang lewat cara-cara yang halal untuk mencapai tujuan. Damai sejahtera itu merupakan rahmat Tuhan, tetapi juga menuntut jawaban kita dalam perjuangan. Dalam perjuangan itu, dibutuhkan  iman yang kokoh kepada-Nya, kemauan yang kuat, kerendahan hati, ketekunan dan kesabaran.

Ledalero, Maumere, Flores, NTT

Sumber foto:

http://2.bp.blogspot.com/-lzKVefgMyXA/TboMOGlXUuI/AAAAAAAAABU/CR5ERThX3l4/s1600/dreamd.jpg

https://i.ytimg.com/vi/CbVo2hY010Q/hqdefault.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *