Pipa Sherlock Holmes

http://kabarmisionaris.com/pipa-sherlock-holmes-15102016.html

http://kabarmisionaris.com/pipa-sherlock-holmes-15102016.html

Hal yang membedakan Sherlock Holmes (tokoh dalam fiksi detektif rekaan Sir Arthur Conan Doyle)  dengan tokoh dalam dongeng Andersen ialah pipanya. Dengan pipanya, sang detektif, Sherlock Holmes menutup mulutnya, menghindari percakapan, berkonsentrasi penuh untuk berpikir dan secara sistematis menggerakkan nalarnya setapak demi setapak akhirnya, bravo, sang pembunuh terungkap.

Baru setelah itu, Holmes berbicara dengan sahabatnya, Watson. Atau lebih tepat, menjelaskan logikanya kepada pembaca melalui Watson.

Sedangkan dalam dongen Andersen, tokoh dan kebenaran lahir bersama dalam percakapan.

Masing-masing  orang punya cara menyelesaikan masalah, salah satunya dengan menciptakan keheningan, berkonsentrasi dan memberi perhatian penuh pada persoalan, sebelum menghabiskan waktu dengan basa-basi. Langkah-langkah konkrit segera bisa ditemukan.

Dalam iman kita yakin bahwa saat mulut terkatup: hati terbuka dan Roh Kudus akan berbicara dan menuntun  kita dalam keheningan itu. Untuk itu, dengarkanlah!

“Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajarkan kamu apa yang harus kamu katakan” (Lukas 12: 12) (Bill Halan )

Sumber inspirasi: (Goenawan Muhamad, Tuhan & Hal-Hal yang Tak selesai, 2008, halaman 91)