Pernikahan Dini di Pedalaman Amazon: Kisah Misionaris Asal NTT P. Kristianto Naben SVD Yang Berkarya Di Brasil

Keterangan foto: Pater Kristianto Naben SVD (berkacamata) bersama keluarga muda

Stasi São Francisco de Uruapiara memang terpencil di pedalaman Amazon. Dari sungai Madeira butuh lebih dari satu jam dengan perahu speedboat atau voadeira berkekuatan 15 hp (horse power) untuk sampai di sana. Pada musim kemarau tentu tidak bisa menggunakan voadeira atau rabeta. Butuh waktu lebih banyak dan hanya bisa dengan berjalan kaki berjam-jam.

Barangkali stasi ini masuk wilayah Paroki Uruapiara yang berjarak 12 jam dari Humaitá dengan menggunakan kapal sungai. Letaknya yang terpisah dari stasi lainnya membuat kunjungan pastoral ke stasi ini sangat jarang dan sudah lama sekali tidak ada kunjungan pastor atau misionaris. Umat di sana sudah tidak ingat lagi kapan terakhir mereka dikunjungi pastor. Ketika ditanya, mereka hanya katakan sudah lama sekali. Melalui seorang perantara, kami yang melayani umat sepanjang sungai Madeira diminta untuk membuat kunjungan ke sana. Medan yang sulit membuat kami putuskan untuk membuat kunjungan ke sini dua kali setahun, yakni pada periode musim hujan, untuk memudahkan akses ke stasi ini.

Pada bulan Februari yang lalu, Padre Norberto dan Irmã Ivone besama Bacurau yang mengemudi voadeira gagal berkunjung ke sana. Boleh dibilang mereka tersesat dan tidak tahu jalan menuju ke sana. Pasalnya, jalur perahu yang biasanya mereka lalui tertutup rerumputan dan tumbuhan Eceng Gondok. Lagi pula tidak ada penunjuk jalan yang menyertai mereka. Maka pada kunjungan berikutnya saya yang menggantikan Padre Norberto mencoba peruntungan ke sana. Ada seorang rekan yang menjadi penunjuk jalan buat kami.

Pukul tujuh pagi sehabis sarapan kami memulai petualangan. Udara pagi yang cukup dingin membuat kami lebih banyak duduk diam sepanjang perjalanan menyusur sungai Madeira. Lalu kami masuk satu kanal yang menghubungkan sungai Madeira dengan sebuah danau kecil. Menyeberangi danau itu kami masuk wilayah berawa-rawa. Di sini kami berperahu di antara pohon-pohon layaknya mengendarai mobil di jalan berkelok-kelok.

Bacurau memacu voadeira mengikuti instruksi si penunjuk jalan yang duduk di bagian depan. Saya berdampingan dengan Irmã Ivone. Kami menikmati perjalanan dalam diam. Saya sedikit was-was dan takut kalau-kalau voadeira menabrak pohon atau batangan kayu yang mengapung dan tertutup dedaunan kering.

Sudah hampir jam sembilan ketika kami tiba di sana. Belum ada orang di kapela. Seorang laki-laki keluar dari rumahnya menjumpai kami. Domingos, begitu namanya. Dia adalah ketua stasi di situ. Kami diajak mengopi di rumahnya sambil menunggu umat yang lain datang.

“Sebentar ada dua anak yang akan dibaptis,” kata Domingos. Irmã Ivone memintanya menyiapkan dokumen kelahiran anak-anak itu.

Untuk umat di pedalaman, kami punya kebijakan pastoral untuk tidak mengharuskan mereka membuat kursus persiapan sebelum menerima sakramen permandian. Pembinaan dibuat sebelum perayaan dan kami bisa juga memanfaatkan homili untuk menjelaskan tentang makna sakramen permandian. Kebijakan pastoral ini diambil mempertimbangkan situasi umat di pedalaman.

“Kita hanya bisa memanfaatkan kehadiran orangtua dan para saksi saat kunjungan itu. Belum tentu pada kunjungan berikut mereka ada. Karena, biasanya para lelaki akan keluar dari kampung untuk bekerja di tempat lain dan hanya sesekali mereka kembali ke kampung mereka. Maka ketika mereka ada dan meminta untuk membaptis anak mereka, kita haraus terima dan mengerti situasi mereka,” kata Padre Norberto dalam satu kesempatan syering pengalaman.

Setelah mengopi, kami segera ke kapela. Orang tua kedua anak yang mau dibaptis sudah tiba. Irmã Ivone meminta dokumen kelahiran kedua anak dan mulai mengisi formulir. Saya perhatikan kedua pasangan itu. Masih terbilang muda, salah satunya malah masih remaja. Tetapi mereka sudah punya anak. Selanjutnya, Irmã Ivone memberikan pembinaan dan saya mempersiapkan Ekaristi. Pembaptisan saya buat dalam perayaan ekaristi itu.

Usai ekaristi saya berkesempatan bersama pasangan remaja itu. Saya mengajak mereka berfoto bersama. Mereka menyanggupi.

“Berapa umurmu sekarang?” tanyaku.

“Saya sekarang berumur 15 tahun,” kata yang perempuan. Namanya Oziene Santos.

¨Saya sudah 17 tahun,” kata yang laki-laki. Namanya Gilmar Morais.

Ya, dugaan saya tepat. Mereka masih remaja.

“Kalian masih tinggal bersama orang tua?” tanyaku lagi. Keduanya mengangguk.

“Sudah bekerja?” Yang perempuan menggelengkan kepalanya. Yang laki-laki hanya diam.

Saya pun tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin mereka malu mengungkap diri dan keadaan mereka. Di usia yang masih remaja seperti itu mereka mestinya masih di bangku sekolah. Hanya saja sekolah yang ada di stasi itu hanya buat anak-anak seusia sekolah dasar. Untuk sekolah di tingkatan berikutnya mereka harus ke kampung lain. Dan itu jauh sekali dari kampung mereka.

Yang pasti Gilmar dan Oziene belum menikah resmi di gereja. Ini pun satu situasi umum umat di pedalaman. Yang terpenting adalah mereka sudah tinggal bersama dan orang tua pun merestui mereka.

Muncul pertanyaan besar ini di benak saya: mengapa mereka mau menikah alias tinggal bersama membentuk keluarga di usia remaja seperti itu? Irmã Ivone hanya mengangguk-angguk ketika saya tanyakan hal ini padanya.

Kata Ivonne, kaum ribeirinhos atau kaum pinggiran seperti juga orang-orang Indian (suku asli di Brasil), punya kebiasaan nikah di usia muda. Yang perempuan cukup baginya sudah mengalami datang bulan pertama dan ia sudah bisa berelasi dengan seorang laki-laki. Sedangkan yang laki-laki cukup baginya kalau dia sudah bisa bekerja di kebun, mengumpulkan hasil hutan dan menangkap ikan atau berburu.

“Lalu, bagaimana dengan cinta?” tanyaku lagi.

Ivone tertawa. “Saya tidak mau komentar tentang itu,” katanya sambil tertawa pelan. “Barangkali alam membentuk mereka seperti itu. Dunia mereka begitu sempit. Kontak dan relasi dengan komunitas lain sangat terbatas. Setiap hari mereka bisa bertemu. Dan kalau sudah saling suka, siapa yang bisa melarang atau membatasi?” katanya berhipotesis.

Saya pun mafhum. Alam dengan situasi dan keadaan di kampung bisa membentuk orang. Dunia dan keseharian Gilmar dan Oziane adalah São Francisco de Uruapiara yang jauh di pedalaman Amazon. Listrik memang mereka punya. Itupun hanya bisa menyalah tiga atau empat jam per hari kalau ada bahan bakar. Tidak banyak waktu untuk bisa menonton dunia luar melalui televisi. Kontak dengan yang lain hanya kalau mereka bepergian ke kampung lain atau ke kota semisal Humaitá. Maka siapa yang bisa melarang kalau keseringan bertemu dan memandang menghasilkan rasa suka? Apakah cinta itu buta?

“Pater Kristianto Naben SVD pernah dirampok dan disiksa di parokinya, klik link berikut berikut  Saya Dirampok, Disiksa……

Saya pulang dari stasi ini dengan tanda tanya besar tentang masa depan pasangan remaja itu bersama anak mareka. Akan jadi seperti apakah hidup mereka kemudian? Saya hanya berharap yang terbaik untuk pasangan remaja itu. (Naskah dan Foto oleh Pater Kristianto Naben SVD)