Pengalaman Beasiswa Australia Awards

Sesilia Sika Hajon Awe, awardee Australia Awards 2016

 

Belajar adalah aktivitas seumur hidup. Belajar bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tahun 2016, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan jenjang Master (S2), dan mencoba mencari peluang biaya lewat skema beasiswa Australia Awards.

Informasi tentang beasiswa tersebut mulanya saya ketahui sejak saya masih SMA, kemudian saya terus mencari informasi di dunia maya. Setiap kali membaca kisah pengalaman para pejuang beasiswa, niat untuk turut juga melamar makin terkumpul, hingga pada waktu yang tepat, saya pun memutuskan untuk mencoba.

Tulisan ini berisi pengalaman saya dari mulai memutuskan untuk melamar dan proses yang saya lewati sampai saya dinyatakan lolos seleksi beasiswa. Kisah ini merupakan wujud tanggung jawab saya untuk meneruskan informasi dan kisah, dengan harapan agar bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang ingin berjuang lewat jalur yang sama dan juga bagi mereka yang merasa perlu untuk terus belajar.

Sekilas tentang beasiswa Australia Awards.

Australian Awards Scholarship yang dulu dikenal juga dengan nama Australian Development Scholarship atau beasiswa AusAID merupakan beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Australia dan dikelola oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia (Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia).

Beasiswa yang bersifat hibah ini disediakan bagi orang dari beberapa negara termasuk Indonesia yang ingin melanjutkan studi, penelitian, dan pengembangan profesi di Australia.

Beasiswa ini tersedia dalam bentuk Long Term Awards dan juga Short Term Awards. Long Term Awards tersedia bagi mereka yang ingin melanjutkan studi jenjang S2 dan S3. Sedangkan Short Term Awards tersedia bagi pengembangan profesi yng berfokus pada sektor-sektor tertentu. Saya sendiri adalah penerima beasiswa Australia Awards-Long Term Awards.

Beasiswa ini ditawarkan tidak hanya untuk dosen dan pegawai pemerintah tetapi juga untuk rekan-rekan dari sektor swasta, NGO, dan bahkan untuk mereka yang fresh graduate (yang baru lulus kuliah). Tentu kemudian ada kuota tertentu sesuai prioritas pemberi beasiswa dan juga ada persyaratan-persyaratan yang kemudian harus dipenuhi.

Keputusan untuk melamar beasiswa Australia Awards.

Kenapa mau melanjutkan sekolah?

Ada dua alasan mendasar kenapa saya ingin melanjutkan sekolah. Pertama dan terutama karena saya senang belajar dan merasa perlu untuk terus belajar. Belajar memberikan saya kemampuan untuk mengenali kelebihan dan juga kelemahan saya. Belajar terlebih lagi memberikan saya sumber daya untuk mengoptimalkan kelebihan saya dan juga untuk mengelola kelemahan-kelemahan saya. Tujuannya agar minimal sumber daya diri saya bisa saya kelola untuk kebaikan saya dan orang-orang yang saya kasihi, dan sebisa mungkin untuk kebaikan bersama dalam komunitas dan masyarakat.

Kedua, saya perlu terus belajar untuk pengembangan profesi. Sebagai seorang PNS dan tenaga fungsional ada tuntutan untuk terus mengembangan kapasitas di tengah lingkungan kerja yang terus mengalami perubahan.

Tentu untuk belajar ada banyak cara. Bisa secara otodidak, bisa dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, bisa juga dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Memilih melajutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi membawa dua manfaat. Pertama, saya mendapat soft competence, dalam rupa ilmu pengetahuan dan kemampuan menerapkannya dalam konteks tertentu. Kedua, hard competence, dalam rupa ijazah yang merupakan dokumen bukti kompetensi saya.

Kenapa menempuh jalur beasiswa?

Jawaban untuk pertanyaan ini sederhana saja: kalau ada yang gratis, kenapa tidak?? Haha. Sekolah itu membutuhkan biaya. Peluangnya adalah membiayai diri sendiri atau dibiayai. Dibiayai bisa oleh berbagai pihak. Karena ada peluang beasiswa baik dari dalam negeri maupun luar negeri, saya memutuskan untuk mencoba.

Patut dimengerti bahwa beasiswa adalah kompetisi. Sedemikian banyak pelamar berkompetisi untuk lolos seleksi dan terpilih sebagai penerima beasiswa. Oleh karena itu, orang yang ingin ikut berjuang mendapatkan beasiswa, harus mempersiapkan diri.

Kenapa Australia?          

Minat saya untuk kuliah di Australia bermula dari pengalaman mendengar cerita ayah yang beberapa kali bekerja sama dengan peneliti dari Australia dan berkesempatan pula ke sana. Australia juga sangat dekat dengan Indonesia dan perbedaan waktu tidak terlalu signifikan (mengingat jauh dari keluarga tentunya ingin terus menjaga komunikasi). Australia juga negara yang multikultur, sehingga ada peluang untuk mengenal orang dari berbagai belahan dunia.

Keputusan untuk memilih beasiswa Australia Awards lebih juga karena cakupan beasiswanya tidak hanya biaya pendidikan, tapi juga biaya asuransi, akomodasi dan biaya kebutuhan sehari-hari atau istilahnya full coverage.

Mendaftar beasiswa Australia Awards.

Tentunya sebagai orang yang ingin melamar beasiswa haruslah terlebih dulu mengenal seluk beluk beasiswa itu. Oleh karenanya, hal yang pertama kali saya lakukan waktu itu adalah mengunjungi website resmi Australia Awards Indonesia (website AAI), membaca petunjuk yang tersedia, lalu mengunduh buku panduan beasiswa (AAS policy Handbook), Brosur (Long Term Awards Brochure), dan formulir pendaftaran.

Informasi yang tersedia di buku pedoman, formulir, dan brosur memberi saya cukup gambaran terkait tujuan dan sasaran beasiswa ini, kriteria, persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk melamar, proses seleksi dan juga dokumen-dokumen yang harus disiapkan. Saat itu saya juga mencoba mencari informasi tambahan di internet terutama kisah pengalaman para pejuang dan penerima beasiswa sebelumnya. Salah satu sumber yang sangat membantu saya waktu itu adalah blog milik I Made Andi Warsana, salah satu alumni Australian Awards (blog I Made Andi).

Salah satu persyaratan mendasar adalah kemampuan berbahasa Inggris. Bahasa pengantar perkuliahan di Australia adalah bahasa Inggris. Waktu itu, syarat yang harus dipenuhi untuk melamar beasiswa studi jenjang S2 adalah TOEFL 500 atau IELTS 5.0. Untuk mengetahui kemampuan bahasa Inggris, saya lalu mendaftarkan diri dan mengikuti ujian TOEFL di lembaga penyelenggara TOEFL yang diakui oleh pemberi beasiswa (tidak semua penyelenggara tes TOEFL diakui oleh pihak Australia Awards) yakni di Universitas Nusa Cendana Kupang.

Waktu antara pendaftaran TOEFL dan tesnya kurang lebih 1 bulan. Selama 1 bulan itu, saya secara intensif melatih diri sendiri dan membiasakan diri dengan model tes TOEFL. Media belajar saya waktu itu adalah berbagai simulasi TOEFL yang tersedia di web (terutama YouTube video), e-book, pedoman, dan tips-tips TOEFL yang bertebaran di internet. Puji Tuhan, hasil TOEFL waktu itu menggembirakan karena saya bisa memenuhi persyaratan untuk mendaftar.

Persyaratan lainnya adalah dokumen-dokumen (ijazah, transkrip nilai, akte kelahiran, KTP, dll) yang harus diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Kondisi saya waktu itu, ijazah dan transkrip nilai sudah dalam dwi bahasa, sedangkan KTP dan akte kelahiran belum. Saat itu, di Larantuka belum/tidak ada lembaga yang menawarkan jasa sebagai penerjemah bersertifikat. Saat itu saya juga kurang tahu apakah di Kupang ada lembaga terkait. Opsi yang saya miliki waktu itu adalah menghubungi lembaga penerjemah di wilayah Jawa atau Bali atau menerjemahkan sendiri dokumen-dokumen tersebut dan mengesahkannya di notaris. Setelah mengetahui bahwa ada Notaris yang berpraktik di Larantuka, saya lalu menerjemahkan sendiri dokumen dimaksud (berpedoman pada contoh resmi yang saya dapat dari salah seorang teman) dan lalu dilegalisir oleh pihak Notaris.

Aspek lain yang juga sangat penting terkait proses pendaftaran beasiswa adalah menentukan pilihan studi, universitas tujuan, dan pengisian formulir yan terdiri atas beberapa pertanyaan penting. Setelah yakin dan siap dengan dokumen syarat, saya lalu mendaftarkan diri secara online.

Setelah mendapatkan pemberitahuan bahwa saya lolos seleksi administrasi, saya lalu mempersiapkan diri untuk mengikuti proses selanjutnya, yakni tes IELTS dan JST Interview. Untuk menghadapi tes IELTS, seperti halnya dengan TOEFL, saya secara intensif melatih diri dengan pengenalan akan struktur tes IELTS, melatih kemampuan listening, reading, writing, dan speaking saya. Khusus untuk speaking, saya berlatih tanya jawab dengan diri sendiri karena saat itu saya mengalami kesulitan untuk memiliki teman berlatih. Syukur kepada Tuhan, usaha saya tidak sia-sia. Saya berhasil.

Saya juga cukup serius mempersiapkan diri untuk wawancara. Apa yang saya lakukan? Pertama, saya membaca sharing pengalaman dari teman-teman yang sebelumnya sudah mengalami proses tersebut. Sangat bermanfaat. Saya juga menonton video official dari tim Australia Awards Indonesia sebelumnya yang berisi informasi tentang apa itu JST Interview, siapa yang akan menginterview, dan apa yang mereka harapkan dari peserta. Syukurlah, persiapan-persiapan tersebut membuat saya dapat mengikuti interview dengan baik.

Setelah menunggu kurang lebih 6 bulan setelah interview, akhirnya saya mendapat email pemberitahuan bahwa saya lolos dan terpilih sebagai salah satu calon penerima beasiswa dan siap mengikuti proses selanjutnya (training pra-keberangkatan/pre-departure training) di Bali.

Secara singkat tahapan pendaftaran beasiswa Australia Awards, yaitu membuat akun dan mengisi formulir pendaftaran di OASIS, Shortlisting Process (seleksi administrative), IELTS Test dan JST Interview (bagi yang lulus proses seleksi administrasi), Pre-Departure Training (bagi yang lulus IELTS test dan JST Interview) dan tambahan test IELTS (bagi yang memerlukan). Setelah menerima keputusan diterima di univeristas bersangkutan lalu mempersiapakan diri untuk berangkat ke Australia (paspor, visa, dokumen-dokumen terkait bagi PNS).

Sumber: http://australiaawardsindonesia.org/content/237/12/tips-on-how-to-apply?sub=true

 

Penutup

Tulisan ini, sekali lagi, merupakan salah satu cara saya untuk berterima kasih kepada Tuhan dan juga kepada mereka yang telah menginspirasi dan memotivasi saya untuk terus belajar.

Sekalipun hanya berupa gambaran singkat akan pengalaman saya, harapan saya agar ada yang boleh menemukan tulisan ini sebagai pemantik dan penjaga niat untuk terus belajar, salah satunya lewat beasiswa sekolah lanjut.

Semoga saya juga tetap memiliki semangat dan niat untuk berbagi kisah dan kasih.

Inspirasi selayaknya untuk terus dibagikan. Kisah seharusnya untuk diceritakan. Semangat penting untuk ditularkan. Terima kasih. Salam.