Paroki Sang Sabda Lewa– Cerita Misi dari Tanah Sumba

Pater Daniel Meni, SVD – Pastor Vikaris Paroki Lewa-Sumba Timur, NTT

 

Sejak ditahbiskan menjadi imam pada Oktober 2016, saya ditempatkan sebagai Imam Misionaris Societas Verbi Divini (SVD) di Provinsi SVD Ruteng. Oleh provinsial dan dewan provinsi SVD Ruteng, saya ditempatkan di distrik SVD Sumba-NTT. Sebagaimana hasil presentasi provinsial SVD Ruteng kepada Uskup Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR, saya dipercayakan untuk berkarya di Paroki Sang Sabda Lewa sebagai Pastor Vikaris. Di paroki ini, saya bekarya bersama konfrater (sapaan khas untuk sesama anggota SVD yang maknanya saudara) P. Gregorius Geroda, SVD sebagai pastor kepala paroki.

Sekilas Tentang Paroki Lewa

Paroki Lewa merupakan salah satu paroki dari Keuskupan Weetebula, Sumba-NTT yang letaknya di wilayah perbatasan bagian Barat Sumba Timur dan Sumba Tengah. Jumlah umat Katolik di paroki yang akan merayakan emasnya pada bulan September tahun ini (2018) sebanyak 3. 166 orang. Mereka menyebar di 14 stasi. Stasi-stasi tersebut antara lain: Praikalitu (stasi pusat), Nangga, Laikokur, Mata Wai Kurang, Laihau, Praipaha, Waiwakihu, Karipi, Tandula Jangga, Kangeli, Pauurat, Billa, Praingkareha, dan Matolang.

Orang Flores bawa agama Katolik  masuk  Lewa

Agama Katolik di Lewa dibawa masuk oleh para tukang (bangunan), para Polisi, Perawat, PPL yang berasal dari Flores. Kehadiran mereka ditandai dengan hadirnya sekolah Katolik di Praipaha pada tahun 1963 dan SMP Ketrampilan pada tahun 1977 yang didirikan  oleh tokoh awam Katolik yang diback up oleh para misionaris SVD dan Redemptoris pada tahun-tahun pertama misi Katolik di Sumba. Dalam perkembangannya, masyarakat asli Sumba mulai berkontak dan mengenal Gereja Katolik lalu mereka mulai menyatukan diri ke dalam Gereja Katolik sehingga terbentuklah jemaat-jemaat beriman Katolik di desa-desa dan akhirnya mulai berdiri stasi-stasi dan gedung Gereja. Umat kemudian dapat beribadat untuk memuji kemuliaan Tuhan atas anugerah iman yang dicurahkan ke dalam hati umat manusia, yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, Sang Sabda yang hidup dalam hati mereka.

Secara resmi Lewa berdiri sebagai paroki pada tanggal 15 September 1967 dengan  nama paroki Lewa-Langgaliru.Pastor kepala parokinya P. Aloysius Pohl, C.Ss.R. Selanjutnya dari waktu ke waktu selalu terjadi pergantian pastor paroki. Dengan demikian juga dengan pelayanan rohani umat selalu dilakukan secara bergantian oleh para imam yang berkarya di Sumba, baik dari Waingapu maupun dari Weetebula.

Pada bulan Oktober 1985, Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) mulai berkarya lagi di Pulau Sumba setelah sekitar 40-an tahun meninggalkan Sumba dan kembali ke Flores karena ketiadaan tenaga. Misionaris SVD yang terakhir meninggalkan pulau Sumba adalah P. Gerhard Mezenberg, SVD (1958). Beliau meninggalkan Sumba dengan penuh air mata (ibu-ibu dengan air mata melepaskan beliau di pelabuhan Waikelo. Hal ini menjadi pertanda bahwa SVD begitu dekat di hati  umat Sumba).

Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD dan tonggak Gereja Katolik Sumba

 

Pada tanggal 25 April 1986, terjadi pergantian kepemimpinan Gereja di Keuskupan Sumba. Uskup Sumba dalam diri Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD ditahbiskan di Weetebula menjadi uskup Weetebula. Inilah tonggak sejarah baru bagi kehidupan Gereja Katolik Sumba.

Pada tanggal 13 Oktober 1986, pastor paroki definitif dalam diri P. Gabriel Meo, SVD dilantik dalam upacara meriah di gereja Lewa oleh Yang Mulia Bapak Uskup Weetebula: Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD. Dengan demikian umat paroki Lewa memiliki seorang pastor paroki yang tetap dan tidak lagi seperti masa-masa yang terdahulu, yang selalu bergantian. Dan dalam masa kegembalaan Pastor Gabriel, Gereja Katolik Lewa dimahkotai dengan pelindung Sang Sabda. Karena itu, selanjutnya paroki ini disebut dengan nama Paroki Sang Sabda Lewa.

 

Medan Misi Pastoral

Paroki Sang Sabda Lewa meliputi 4 kecamatan dengan jarak dari stasi Pusat Paroki ke Stasi terjauh ke jurusan Utara ialah 18 km, ke arah Selatan 84 km, ke arah Timur 29 km dan ke arah Barat 6 km sebagai stasi yang terdekat. Wilayah dengan kondisi jalan yang jelek ialah wilayah ke arah Selatan, yakni ke Stasi Billa dan Praing Kareha. Jadi dari segi medan geografis, cukup berat. Pelayanan rohani umat yang dapat dilakukan, biasanya dengan sepeda motor dan dalam keadaan luar biasa dengan menumpang kendaraan umum (truk atau bus).

Mayoritas Umat beragama Kristen Protestan

Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten di NTT yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen Protestan. Selain itu, masyarakat lainnya masih menganut agama asli, yaitu Marapu. Penduduk lainnya adalah pendatang dari berbagai daerah lainnya dengan menganut agamanya masing-masing seperti Katolik, Islam, Budha dan Hindu yang datang dan menetap karena pekerjaan atau karena tujuan ekonomi lainnya. Kehadiran sesama saudara ini tidak menjadi sebuah persaingan dalam menarik simpati penduduk asli Sumba tetapi membagi pengalaman iman dan menambah rasa persaudaraan serta saling membantu dalam kegiatan sehari-hari.

Kebanyakan penganut agama Katolik berasal dari wilayah Sumba Barat, yang karena pekerjaan dan atau karena kawin-mawin. Sambil menggembalakan umat yang ada, bersama para pembina umat (kelompok yang dibina secara khusus untuk memimpin ibadat dan berkotbah pada hari Minggu atau perayaan Natal dan Paska) terus memberikan pendampingan kepada para simpatisan Katolik. Kelompok simpatisan ini tersebar di semua stasi. Mereka pada umumnya menganut agama asli Merapu. Biasanya mereka mengiyakan keinginan anak-anak mereka untuk dibaptis dan menerima sakramen lainnya sambil mereka mempersiapkan diri. Ada yang cepat memutuskan untuk bergabung dan minta dibaptis tetapi ada yang lama menimbang hingga pada akhirnya tetap Merapu atau memilih masuk Gereja Kristen Sumba (GKS).

Budaya Jadi Tantangan

Budaya atau adat tentang kematian dan perkawinan merupakan dua hal yang masih sangat kuat dalam keseharian masyarakat Sumba, termasuk juga dalam paroki ini. Kedua budaya ini sering mengakibatkan pemborosan dan pemiskinan masyarakat dan umat yang pada gilirannya berakibat pada dunia pendidikan, di mana anak-anak sekolah kesulitan mempersiapkan pakaian, makanan, dan lain-lain di awal sekolah mereka.

Keterikatan pada budaya Sumba yang masih kental juga menyebabkan penerimaan sakramen-sakramen menjadi mandek karena umat harus mendahulukan adat-istiadat, seperti belis bagi pasangan yang akan menikah. Dalam adat kematian, jenazah yang disimpan berlama-lama menyebabkan selain pemborosan ekonomi juga karena faktor persaudaraan, mereka pergi melayat dan melupakan perayaan ekaristi pada hari Minggu. Karena itu, ketika mengadakan kunjungan pastoral, kapela-kapela kosong. Hal ini karena umat Katolik di stasi tersebut semuanya adalah sebuah keluarga besar sehingga ketika ada keluarga yang meninggal di tempat lain, maka semuanya akan ke sana. Ada kalanya hanya beberapa umat yang datang untuk merayakan ekaristi.

Tantangan pastoral yang dialami oleh agen pastoral adalah medan sulit dan jarak tempuh untuk mencapai setiap stasi. Paroki Lewa yang mencakup empat kecamatan dengan dua tenaga pastor cukup menyulitkan. Di samping itu, jarak rumah umat dengan kapela-kapela stasi yang jauh juga menjadi kendala karena imam harus menunggu umat satu hingga dua jam sebelum diadakan perayaan ekaristi. Dengan jarak yang demikian, bahkan antar rumah umatpun saling berjauhan, maka persiapan-persiapan untuk sebuah liturgi yang baik, terutama mempersiapkan lagu-lagu tidak berjalan baik.

Oleh karena itu, meskipun imamnya kelelahan baik kelelahan di jalan maupun kelelahan akibat menunggu umat, tetapi sebelum memulai perayaan ekaristi diadakan latihan mini. Umat yang datang merayakan ekaristi dilatih untuk jawaban-jawaban umat dalam Tata Perayaan Ekaristi dan juga latihan lagu-lagu misa dari Madah Bakti.

Harapan dalam Roh

Mewartakan injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan khas bagi Gereja, identitasnya yang terdalam. Di dalam mewartakan injil target kita adalah membebaskan umat manusia dari belenggu dosa dan mendekatkan Allah kepada umat. Selain itu, tugas yang kita terima membuat kita mengambil bagian dalam misi Allah yaitu tidak lain adalah satu perkara cinta. Kita mencintai Tuhan yang kita imani dengan mewartakan firman-Nya kepada mereka. Kehadiran kita dihadapan mereka adalah bukti kecintaan kepada Allah yang kelihatan dalam diri sesama kita. Maka benarlah kata St. Paulus dalam 1Kor. 9:16 bahwa kita harus merasa celaka jika tidak mewartakan firman Tuhan.

Kita hadir disini sebagai agen-agen sang sabda. Kita datang dalam bentuk tim. Tim kita dikuatkan oleh tim Allah Tritunggal, Bapa, Putra dan Roh Kudus. Tim yang kita bentuk tidak lain tidak bukan adalah karena kecintaan kita kepada Allah dan kepada sesama. Tindakan lanjut dari kecintaan kita kepada Allah dan sesama terwujud nyata dalam kesetiaan kita menerima tugas pewartaan. Tantangan dialami oleh kita semua. Tidak diterima, partisipasi yang belum maksimal, dll. Tetapi ada satu keyakinan yang kuat dalam diri kita bahwa kita tidak berjalan sendirian. Tuhan yang kita imani selalu menyertai kita sehingga kita meskipun mengalami tantangan tetapi kita pergi dan melayani. Yang menguatkan kita adalah Roh Kudus. Roh Kudus ini kadang kita sadari bahwa dia berbisik kepada kita tetapi kadang setelah kita dibimbingnya ulang-ulang baru kita sadari bahwa Roh Kudus yang memerintah untuk mewartakan kabar gembira dari Allah.(Naskah dan Foto:  Daniel Meni, SVD – Pastor Vikaris Paroki Lewa-Sumba Timur, NTT)