O VOS Omnes- Kidung duka saat Prosesi Jumat Agung di Larantuka

“Nanti bulan di atas langit akan ditumbuhi awan merah di sekelilingnya,” salah seorang warga setempat menjelaskan saat prosesi pada hari Jumat Agung sedang beranjak dari perhentian ke-7 menuju perhentian berikutnya di armida Materdolorosa. “Ada kalanya pelangi mengitari bulan dan menjadi seperti mahkota pada kepala sang ratu malam,” tambahnya.

Di perhentian ke-8, armida materdolorosa, tepat di depan kapela Tuan Ana (Tuhan Yesus), langit tampak cerah dan bulan di atas kepala tampak anggun dikelilingi awan merah nan indah. “Biasanya di tempat ini, bulan, awan dan langit selalu seperti itu,” sahabat saya berbisik.

Saat itu pula, untuk kesembilan kalinya, penyanyi O Vos mengidungkan lagu O Vos Omnes, kidung-kidung duka, dan suaranya bersetubuh dalam deburan ombak dari pantai kuce, pantai uste, dan pantai kebi di Larantuka. Boleh jadi banyak orang belum mengerti arti harafiah dalam untaian lagu O Vos Omnes, tetapi perjumpaan dengan bulan, langit dan pantai yang berdenyut dalam nurani para peziarah, bisa menggambarkan rasa duka dan cinta yang mendalam dari ibu Yesus dan para pengikutnya, satu di antaranya, yakni Veronika yang bersedia mengusapi wajah Yesus yang menderita di jalan penuh duka.

O vos Omnes, qui transitis per viam

Atendite et videte, Si est dolor

Sicut dolor meus

Wahai kamu sekalian yang melintasi jalan ini

pandang dan lihatlah, adakah kau saksikan kesedihan

seperti kesedihan yang kualami

            Siapa pun yang mendengar nyanyian Ovos di jalan salib Tuhan Yesus, pasti turut larut dalam kedukaan yang mendalam. Perlu diingat baik-baik bahwa para penyanyi ovos itu orang biasa, tetapi mereka bernyayi dengan cara yang luar biasa. Mereka bukan orang yang sering naik panggung pentas seperti para penyanyi biasanya, banyak di antara mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang sibuk mengurus suami dan anak-anak sejak pagi hari hingga malam menjemput.

Tahun 2015, saya sempat mewawancari seorang penyanyi Ovos, namanya Ratna Uli.  Ratna, ibu rumah tangga yang ternyata sudah beberapa kali menyanyikan lagu O Vos. “Mulanya saya mendengar pengumuman di gereja bahwa dibuka kesempatan bagi siapa saja untuk mendaftar menjadi penyanyi O Vos. Saya ingin sekali ikut. Waktu itu saya mendaftar. Jumlah kami 35 orang. Dari 35 orang kami diseleksi oleh para pembina di Conferia (serikat Awam yang didirikan oleh ordo Dominikan) sehingga menjadi 10 orang, dua bernyanyi di gereja dan delapan lainnya menyanyi di masing-masing armida.” Ratna ini seorang ibu kelahiran Medan, Pematang Siantar.

Di balik kerinduan untuk menyanyikan ovos Ratna menyimpan niat yang tulus. “Saya ikut koor gereja seperti biasa. Waktu itu saya mencari tahu seperti apa cara berdoa yang baik karena ada banyak tantangan yang saya hadapi. Biasalah hidup berkeluarga dan bermasyarakat selalu ada tantangan. Saya ikut daftar, ikut latihan, diseleksi, dan puji Tuhan terpilih menjadi salah satu penyanyi O Vos. Saya memang sudah punya niat untuk bernyanyi. Bernyanyi O Vos itu rasanya seperti saya langsung berdoa di hadapan Tuhan. Saya berdoa sungguh-sungguh. Ada hal yang lebih penting saat bernyanyi Ovos, yakni niat yang tulus dan mental yang baik, sebab kita membawakannya di hadapan banyak orang. Jika gugup, gugur dengan sendirinya.”

Dalam sejarah prosesi semana santa, penyanyi ovos tidak hanya perempuan. “Dulu ada penyanyi O Vos yang pria, sekarang ini yang menyanyi umumnya perempuan. Mereka dilatih secara serius oleh Conferia. ”Bapak Cyprianus Lamury menyebut beberapa nama yang pernah bernyanyi ovos, termasuk bagaimana cara Conferia melatih mereka.

Terkenang pula kisah almarhum Bapak Anton Riberu, anggota Conferia Reinha Rosari, saat ia masih aktif menjadi panitia penyeleksi para penyanyi Ovos. Pa Anton menjelaskan demikian.“Di sini ada dua wilayah yang menjadi tanggung jawab kami untuk menyeleksi para penyanyi O Vos. Untuk wilayah Barat terhitung dari Kampung Lohayong sampai Waibalun. Sedangkan wilayah Timur dari Lokea sampai Weri. Saya bertanggung jawab menangani wilayah barat. Dan di dalam Conferia, kita punya 5 juri yang menilai orang-orang yang mendaftar. Sebelum dinilai para peserta diperkenalkan lagu ini dalam bahasa Indonesia sehingga mereka sungguh-sungguh menjiwainya. Sesudah latihan baru dilakukan seleksi. Hasil seleksi akan dipilih 10 peserta terbaik. Orang yang mendaftar biasanya punya ujud sendiri.”

Dalam prosesi semana santa, penyanyi O Vos menempati posisi ke-5 sesudah : Panji Conferia, Pembawa salib berselubung kain duka yang diapit dua serai, genda do dengan ornamento sengsara, serta serikat conferia. Bersama penyanyi O Vos ada penyanyi Eus, di belakangnya diikuti barisan para biarawan-biarawati, pejabat beragama katolik, imam pembawa salib dan misdinar, Tumba (Patung ) Tuan Ana (Tuhan Yesus), diikuti para promesa, Tumba Tuan Ma (Bunda Maria), Wara Presidenti dan Raja larantuka sebagai Eere Presidenti serta diikuti para promesa dan barisan umat yangmengikuti.

Dalam prosesi, para penyanyi O Vos Omnes mengenakan kerudung penutup kepala. Tangan mereka menggenggam gambar wajah Yesus. Sambil bernyanyi, perlahan-lahan gambar wajah Yesus yang tergulung dibuka. Hingga pada akhir lagu,  perlahan-lahan gambar itu digulung kembali – menandakan perjalanan mesti dilanjutkan lagi. Penyanyi O Vos akan menyanyi lagi untuk terakhir kalinya di gereja Katedral Reinha Rosari di Larantuka. Saat itu bulan perlahan-lahan pamit pergi meninggalkan peraduannya, sebab mentari pagi akan bersinar lebih terang sebab Tuhan akan bangkit.  (Bill Halan) (mengolah dari pengalaman para peziarah dan pengalaman penulis yang pernah dimuat di WF Edisi Mei 2015)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *