Nikmatnya Berkat Tuhan

Sri Fatmadewi

Membayangkan dan menikmati makanan yang paling kita sukai membuat kita sangat senang. Lebih puasnya lagi bila makanan yang kita nikmati sesuai dengan ekspektasi kita. Dalam hidup ini paling berat bagi penikmat makan seperti aku adalah harus berpantang makan babi dalam masa prapaskah ini. Pantang bukan karena dilarang oleh dokter, bukan juga karena diet. Pantang makan makanan tertentu selama masa prapaskah sudah merupakan pergulatan batin sendiri ditambah aku suka digoda oleh teman-teman dan keluargaku yang tahu makanan kesukaanku dan tahu benar aku sedang berpantang. Sengsara kalau dipikir secara logika. Tetapi bersama Kristus, aku dimampukan. Dan aku pribadi jadi lebih tenang, lebih sabar dan lebih banyak senyum menghadapi godaan.

Hari pertama selama tujuh hari terasa sangat  berat kujalani. Waktu lama berlalu, terlebih tahun ini godaannya menjelang Imlek dan perayaan Capgomeh banyak menu babi enak-enak yang bisa menggoda meruntuhkan. Ternyata bukan itu saja paling berat adalah hari menjelang akhir masa pra paskah. Aku memohon pada Tuhan supaya aku bisa kuat menjalaninya. Daging memang lemah, tapi Roh harus menurut, kupegang komitmen tersebut. Makanan yang kupantang adalah babi. Babi masak kecap, babi panggang, babi merah, capcai, pokoknya yang mengandung babi. Padahal sehari-harinya aku tidak bisa hidup tanpa makan babi. Aku lebih kuat tidak makan sayur apalagi buah daripada tidak bertemu dengan daging. Dan daging babi bisa diolah menjadi macam-macam menu.

Setiap hari menahan dan pantang, uang yang biasa kupergunakan membeli babi kusimpan setiap hari. Caranya adalah menyimpan sisa uang sayur dari budget pengeluaranku setiap hari. Budget tiap hari adalah limapuluh ribu. Aku tidak merasa lemah atau lesu. Aku dapat kesegaran jasmani dan rohani. Badanku kini lebih langsing. Ini adalah bonus. Jalanku lebih cepat, gerakku makin lincah. Oh puji Tuhan. Aku bisa mengumpulkan uang lebih banyak dan uang itu  kumasukkan dalam kotak APP. Dan pada harinya kotak APP kubawa ke gereja untuk dilanjutkan dalam pelaksanaan misinya menolong sesama yang berada di Asmat, Nias, Mentawai dan Sinabung. (Sri Fatmadewi)

Jakarta, 27 Februari 2018
#pentigrafSF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *