NIAT MENJADI MISIONARIS NYARIS HILANG

pier2

“Kisah sukses dan gagal di tanah misi tak luput dari sebuah penantian yang tak pasti tentang visa negara tujuan. Sejumlah dokumen penting yang menjadi prasyarat untuk memperoleh visa pun tak mudah diperoleh. “

Setelah ditabiskan menjadi imam pada tanggal 1 Oktober 2014 di Ledalero, bersama teman-teman seangkatan, saya melanjutkan kegiatan orientasi misi dan kursus persiapan bagi misonaris baru hingga bulan maret 2015. Di tengah kegiatan itu, kami membereskan pelbagai dokumen yang dibutuhkan untuk proses pengerjaan paspor dan visa. Urusan dokumen ini menuntut ketelitian dan kesabaran. Beberapa instansi seperti Sekolah, Kepolisian, Dinas Kependudukan dan Imigirasi menjadi tempat tujuan kami untuk mendapatkan segala dokumen tersebut.

Di kantor Dinas Kependudukan Maumere misalnya, beberapa di antara kami dibuat pusing kepala dengan syarat pengadaan KTP baru. Selain itu, antrian panjang yang melelahkan hingga sulitnya mendapatkan akses pelayanan yang cepat, harus kami lewati. Data berbasis online antarkabupaten di Indonesia sulit ditemukan sehingga kami harus berurusan dengan kantor Dispenduk dari mana kami berasal. Seorang pegawai yang murah hati, memberikan nomor telepon para kepala Dinas Kependudukan dari kabupten asal kami. Komunikasi yang baik akhirnya mendapat jawaban positif dan memperbolehkan Dispenduk Maumere untuk menerbitkan KTP bagi para imamnya itu. Dokumen-dokumen ini sangat penting bagi kelancaran  proses pembuatan paspor dan visa.

Pada akhir bulan Maret 2015, kami mengirim dokumen-dokumen tersebut ke Jakarta melalui sekretaris misi SVD ENDE selaku penanggungjawab dalam urusan dokumen. Di Jakarta ada Superior Delegatus yang membantu proses kelancaran pengerjaan visa-visa untuk para misionarisnya di kedutaan masing-masing negara. Pintu terakhir untuk bisa mendapat jawaban yang pasti adalah Kantor Kedutaan negara-negara tujuan. Masing-masing negara memiliki syarat yang berbeda-beda hingga durasi waktu pengadaan visa. Karena itu, para misionaris harus menunggu visa tanpa kepastiaan.

Di tengah penantian visa yang tak pasti, saya ingin kembali membantu di paroki asal, namun tentu akan “mengganggu” keluarga. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali bekerja di Paroki St. Aduardus Nangapanda-Ende- Flores, tempat saya menjalani masa praktik diakonat. Bersama Romo Son Remi, Pr dan Romo Angki Parera, Pr, kami berkarya bersama. Melalui kedua senior ini, saya belajar tentang cara menjalani hidup sebagai imam baru di paroki.

Pengalaman bekerja di paroki dengan medan pastoral yang membentang dari pantai selatan hingga pantai utara dengan keberagaman etnis (Ende, Nage dan Lio) sungguh memperkaya pengalaman bermisi di paroki sebab di tahun orientasi pastoral saya menjalani praktik sebagai seorang guru dan pendamping Asrama di Lembaga Pendidikan STM Nenuk.

Rancangan pastoral selama sebulan telah kami buat. Kunjungan ke stasi-stasi di pegunungan dan aktivitas pastoral di pusat paroki telah dijadwalkan. Bersamaan itu, dalam sepekan, para Romo akan pergi mengadakan retret di Denpasar. Saya diminta untuk melayani umat selama sepekan.  Namun, penantian sejak Maret 2015 akhirnya mendapat jawaban pada 9 Juli 2015 sehingga saya harus meninggalkan umat yang sudah saya layani dan berangkat ke Colombia.

Tiga bulan menanti visa dalam ketakpastian bukanlah hal yang baru. Banyak misionaris sebelum saya pernah mengalami hal serupa, tidak hanya dalam hitungan bulan, bahkan bertahun-tahun. Untuk ini, perlu ada pembenahan dalam sistem berjenjang mulai dari misionaris sendiri, sekretaris misi, superior delegatus, hingga kedutaan negara tujuan sehingga misionaris bisa mendapat kepastian tentang visa dari negara tujuan.

Misionaris memang harus bisa bertahan dalam segala situasi, menanti dalam kesabaran, dan senantiasa kreatif mengisi waktu-waktu menjelang penantian visa. Siapkan dokumen-dokumen penting jauh-jauh hari sebelumnya, tentu hal ini juga berlaku bagi rekan-rekan yang akan berangkat ke luar negeri.

Salam dari Columbia: Pier Making, SVD