Misionaris dan Antropologi (4)-Cultural Shock

culture-shock

Anda pernah merasa sendirian di tengah kebudayaan lain? Merasa asing di tengah kepungan kebudayaan baru dan rasanya ingin melarikan diri? Atau malahan meratapi pilihan ketika memutuskan untuk mejadi misionaris? Situasi ini bisa saja terjadi ketika orang mengalami cultural Shock.

Cultural shock adalah suatu proses psikologis yang disebabkan oleh tabrakan dengan kebudayaan asing sampai akhirnya orang yang mengalami situasi ini kehilangan keseimbangan. Hal ini terjadi karena seorang misionaris tidak menyiapkan diri secara baik ketika memasuki suatu kebudayaan asing. Ia mengalami bermacam-macam kesulitan dan frustrasi justru karena semuanya asing: adat, hidup sopan-santun, bahasa, nilai-nilai, pola pikir, dll.

Terhadap cultural shock umumnya terdapat dua reaksi:

  1. Orang bisa berbalik sama sekali dari kebudayaan yang baru ini dengan melakukan negasi mutlak. Semua yang ada di dalam kebudayaan baru ini dirasa dan dianggapnya sebagai ‘bodoh, kolot, kurang sopan, buruk dll,  dengan segala klaim negatif. Timbul semacam agresi melawan kebudayan baru ini, malah mungkin juga terhadap orang-orangnya
  2. Orang bisa menyamakan diri secara mutlak dengan kebudayaan baru, dengan menyangkal sama sekali kebudayaannya semula, jadi persis terbalik dengan sikap yang pertama

Ada perbedaan antara penyesuaian yang bijaksana dan teratur dengan penyesuaian di bawah cultural shock; Pernyamaan atau penyesuaian yang bijaksana selalu terbuka dan tidak menyangkal kebudayaannya semula, mencoba mengerti latar belakang kebudayaan baru, mencari apa yang baik di dalam keduanya; sedangkan penyamaan di bawah cultural shock membabi butakan orang dalam melihat nilai-nilai yang baru atau yang pernah dianutnya.

Sikap yang Harus Dibangun

Hal penting yang harus dimiliki misionaris ketika menjumpai perbedaan kebudayaan, yakni menggunakan akal budi, kemauan, dan iman untuk mencoba mengerti mengapa terjadi perbedaan demikian, mengapa dan dari mana asalnya. Misionaris harus bisa melihat hubungan intern antara kebiasaan yang satu dengan yang lain dalam seluruh konteks kebudayaan. Sesudah itu, sang misionaris harus bisa menerimanya menyesuaikan diri sampai suatu batas tertentu, sampai pada suatu titik di mana orang merasa at home.  Hal ini penting untuk mendukung karya misi.

Sumber: Louis Luzbetak SVD. Seri Buku Pastoralia: Kerasulan dan Kebudayaan disadurkan oleh Josef Glinka SVD, seri IX/7/1984.

Sumber  foto: http://www.hope68.com/dev/wp-content/uploads/2014/11/culture-shock.jpg