Misionaris dan Antropologi (3)

tari perang

 

Anda kesulitan beradaptasi dengan kebudayaan tertentu? Ada satu kabar gembira bagi Anda bahwa kebudayaan itu adalah suatu hal yang dipelajari bukan warisan dalam genetika.  Istilah yang paling sering digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah enculturation yang sering disandingkan dengan kata socialization.

Enculturation mencakup semua aspek kebudayaan sedangkan socialization berpusat pada soal-soal bagaimana ia harus menjadikan diri seorang anggota masyarakat.

Enculturation (dalam bahasa Indonesia: pembudayaan), semacam indoktrinasi. Seseorang memperoleh satu standard, suatu norma tingkah laku dan berlaku secara otomatis. Berdasarkan pembudayaan ini maka setiap tingkah laku, cara berpikir, cara berbicara yang tidak sesuai standard ini dipandang asing dan karena asing maka dirasakan kurang baik dan kurang cocok, malah bisa berbahaya. Dalam proses pembudayaan ini unsur-unsur budaya yang dipelajari individu dapat secara objektif benar dan baik tetapi juga relatif.

Pembudayaan ini demikian dalam sehingga lambat laun mempengaruhi bukan hanya corak pikiran, penilaian serta tingkah laku seseorang, tetapi juga emosi dan gerak-gerik ototnya, malahan juga fungsi fisiologis dan syarafnya. Sebagai akibat, misalnya orang bisa menganggap orang Amerika sombong, orang Jepang dianggap tertutup hanya karena gerak-gerik atau mimiknya. Orang Indian Amerika Utara ‘mual’ karena mencium bau ikan, padahal dalam kesempatan yang sama orang Indonesia mengalami bahwa air liurnya mulai mengalir merasakan aroma tersebut. Orang Eropa terhibur oleh bau keju yang sudah mencair dan berbau busuk. Menangis pada waktu kematian bagi orang Flores adalah suatu keharusan sedangkan bagi orang Jepang hal ini kurang sopan malah dianggap kurang ajar.

Meskipun kebudayaan memberi pengaruh begitu dalam tetapi di dalam setiap kebudayaan terdapat batas-batas kebebasan tertentu, sehingga ada kebudayaan’ ideal’ dan kebudayaan ‘riil’. Dalam kebebasan ini terletak kunci perubahan setiap kebudayaan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manusia dikendalikan, tetapi tidak ditekankan atau dirantai oleh kebudayaannya sendiri. Dengan demikian perubahan bukan suatu hal yang mustahil.

Sumber: Louis Luzbetak SVD. Seri Buku Pastoralia: Kerasulan dan Kebudayaan disadurkan oleh Josef Glinka SVD, seri IX/7/1984.

Sumber foto: http://batamtoday.com/media/news/Pawai-Budaya-Nusantara.jpg