Misionaris dan Antropologi (2)

tenun ikat 2

“Pelajarilah kebudayaan suatu masyarakat, maka jalan ke dalam jiwa manusia akan terbuka”. Pengalaman menunjukkan bahwa terkadang misionaris tidak dapat masuk ke dalam konteks hidup umat dan gereja tidak dapat berakar di dalam suatu masyarakat karena misionaris tidak masuk dan berakar di dalam suatu kebudayaan bangsa.

Ketika gereja masuk dalam suatu kebudayaan dan meletakkan dasar atau menanamkan akarnya tentu akan terjadi perjumpaan bahkan benturan dengan kebudayaan yang ada. Untuk itu misionaris perlu mempertimbangkan beberapa aspek ini:

  1. Manakah dalam kebudayaan tertentu yang harus diubah, tidak perlu diubah atau malah tidak boleh diubah sama sekali
  2. Bagaimana perubahan masyarakat atau bangsa serta perasaan-perasaan yang timbul
  3. Bagaimana perubahan ini dapat diramalkan
  4. Dapatkan perubahan ini dikendalikan dan bagaimana keasliannya dapat dipertahankan dengan baik
  5. Bagaimana perubahan ini dapat diadakan dengan goncangan sekecil mungkin

Aspek-aspek ini erat kaitannya dengan pentunjuk-petunjuk antropologi budaya.

Manfaat mempelajari Antropologi

Dengan mempelajari Antropologi, para misionaris dibantu untuk menilai dan menjajagi kesulitan yang bisa timbul di antara para misionaris sendiri (karena para misionaris berasal dari kebudayaan yang berbeda-beda) dan juga menilai hambatan yang dapat timbul dalam relasi dengan masyarakat tempat para misionaris berkarya (terutama ketika ada perbedaan kebudayaan dengan umat), tentu hal ini akan sangat berguna bagi siapapun yang mengambil bagian dalam karya misi. (see more: Kebudayaan bukan warisan genetika)

Sumber: Louis Luzbetak SVD. Seri Buku Pastoralia: Kerasulan dan Kebudayaan disadurkan oleh Josef Glinka SVD, seri IX/7/1984.

Sumber gambar: http://farm8.static.flickr.com/7063/6837811282_4d91c3be00.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *