Misionaris dan Antropologi (1)

tenun

 Tulisan berikut ini lebih merupakan kutipan (beberapa pokok pikiran) dari karya Louis Luzbetak,SVD yang disadur lagi oleh Josef Glinka SVD dalam buku Kerasulan dan Awam Seri Pastoralia. Jika ada tambahan sumber akan saya cantumkan. Fokus perhatian tulisan ini adalah pentingnya pemahaman Antropologi bagi para misionaris mengingat minat misionaris terhadap Antropologi semakin menurun

Mengawali tulisan ini perlu kita pahami konsep dasariah tentang Antropologi agar kita memiliki satu cara pandang yang sama.

Antropologi asal katanya dari bahasa Yunani: Anthropos: manusia dan logos: ilmu pengetahuan. Oleh karena itu Antropologi dapat didefinisikan secara umum sebagai ilmu yang mempelajari manusia atau ilmu tentang manusia: a studi of man, science of man. Atau lebih tepatnya: studi tentang manusia, karya serta tabiatnya atau tingkah lakunya (a study of man and his works and behaviour)

Ilmu tentang manusia dibagi lagi menurut objek kajiannya: 1. Segi ragawi: dipelajari dalam antropologi ragawi, 2. Segi rohaniah: dipelajari oleh antropologi budaya

Antropologi ragawi ialah ilmu yang mempelajari manusia sebagai substrat biologis peristiwa-peristiwa sosial (Czekanowski). Atau didefinisikan oleh Montagu sebagai; the comparative science of man as a physicial organism in relation to his total environment social as well as physicial: ilmu banding manusia sebagai jasad ragawi dalam hubungan dengan seluruh alam sekitarnya.

Dalam antropologi ragawi, tinjauan historisnya disebut Paleoantropologi (palaios: purba). Paleoantropologi ialah ilmu tentang manusia fosil. Salah satu bagian dari paleoantropologi adalah antropogenese, yakni ilmu yang objek penelitiannnya mengenai asal-mula atau terjadinya dan perkembangan manusia menuju manusia dewasa ini.

Tinjauan ilmiahnya disebut somatologi (soma: tubuh, badan). Somatologi ialah ilmu yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang ciri-ciri badan manusia lahiriah maupun tak lahiriah (feotype, genotype) serta mengemukakan kaitannya. Somatologi terdiri atas:

  1. Ilmu antropometri dan biometri
  2. Ilmu fisiologi banding
  3. Ilmu genetika manusia

Berkaitan dengan Antropologi Ragawi, Pastor Glinka, SVD berkisah (kepada penulis) bahwa dirinya pernah menjumpai suatu kelompok masyarakat yang memiliki ukuran badan pendek dengan tingkat IQ di bawah rata-rata. Pertanyaan penting yang diajukan adalah mengapa masyarakat di kampung tersebut memiliki tubuh pendek dengan tingkat IQ di bawah rata-rata. Ternyata orang-orang di wilayah itu saling menikah dalam hubungan darah yang dekat. Pernikahan dalam hubungan darah yang dekat mempengaruhi ukuran tubuh, generasi yang lahir dari hasil pernikahan ini ukuran tubuhnya makin pendek dan tingkat IQ nya makin menurun. Ini juga menjadi alasan mengapa gereja melarang orang menikah dalam hubungan darah yang dekat.

Antropologi budaya berusaha menganalisis serta memperbandingkan cara hidup bangsa-bangsa yang masih hidup maupun yang sudah lenyap, atau ilmu yang memberi pengertian dan tata cara untuk menganalisa dan memahami cara berpikir serta adat-istiadat suatu bangsa (Luzbetak)

Tinjauan historisnya terletak pada penelitian perkembangan adat istiadat. Segi ilmiahnya terletak pada penentuan dalil-dali yang mengendalikan tabiat manusia dalam lingkungannya. Antropologi budaya terbagi atas:

  1. Arkeologi: ilmu purbakala, meneliti kebudayaan dan tata cara hidup bangsa-bangsa zaman purbakala. Salah satu bagiannya ialah prasejarah, yang terutama mempelajari bangsa-bangsa dari zaman sebelum manusia atau suku tertentu mengenal huruf, yaitu masa sebelum ada sumber tertulis
  2. Linguistik: ilmu bahasa, yang mempelajari bahasa-bahasa. (leksikografi, sintaksis, linguistik historis dan etimologi, membandingkan bahasa, dan meneliti pengaruh bahasa atas pikiran dan tingkah laku)
  3. Etnologi: ilmu bangsa-bangsa (etnografi, etnologi, antropologi sosial) (see more: manfaat Antropologi bagi para misionaris )

Sumber: Louis Luzbetak SVD. Seri Buku Pastoralia: Kerasulan dan Kebudayaan disadurkan oleh Josef Glinka SVD, seri IX/7/1984.

Sumber  foto: http://farm8.static.flickr.com/7054/6983933597_b60e4fc363.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *