Misi di Slovakia

slovak4Di negara ini, warga mengenang dua misionaris ulung, Cyril dan Methodius. Dua bersaudara turunan Yunani inilah yang membawa masuk agama Katolik Roma pada masa kekaiseran Moravia yang kemudian dikenang sebagai awal pertumbuhan umat Katolik di Slovakia. Hingga saat ini sekitar 70 persen dari populasi orang Slovakia memeluk agama Katolik Roma.

Secara politis, Slovakia adalah negara berdaulat di Eropa Tengah, pecahan Cekoslowakia. Negara ini terletak di wilayah daratan yang berbatasan langsung dengan Polandia di bagian utara, Ukraina di timur, dan Hongaria di selatan. Di wilayah ini pula dua orang misionaris muda, Mathias da Costa, SVD (asal Dili-Timor Leste) dan Hans Dedy Ton, SVD (Buraen-Timor-NTT) diutus.

Mereka tiba di Slovak tanggal 27 Juni 2014. Mathias da Costa mendapat tempat tugas di Paroki Salib Suci, Peteržalka I- Bratislava (Farnosť Povýšenia Sv. Križa, Peteržalka I- Bratislsva) sedangkan Hans Dedy Ton paroki Bunda Allah, Kalvária-Nitra (Farnosť Matka Božia, Kalvária-Nitra). Tempat yang baru dengan konteks masyarakat yang juga baru.

“Di sini tradisi Katoliknya sangat kuat sehingga misionaris yang datang harus bisa berbuat lebih baik. Umat sudah sangat terbiasa dengan pelbagai urusan gereja sehingga misionaris harus bisa bekerja sungguh-sungguh, melayani sepenuh hati dan memberikan seluruh waktu untuk pelayanan,” Pastor Hans Dedy Ton, SVD menyampaikan. Situasi ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk memacu diri agar bisa bekerja lebih baik.

Ketika masuk Slovakia hal utama yang perlu dikuasai adalah bahasa. Slovakia sendiri menggunakan bahasa Slovakia. “Kami harus terlebih dahulu belajar bahasa. Dengan penguasaan akan bahasa kami bisa menyapa setiap umat dalam perayaan ekaristi. Dalam perjumpaan sehari-hari kami bisa melayani umat dalam bahasa mereka sendiri.”

Seperti kebanyakan misionaris yang lain,  perjumpaan dengan kebudayaan yang berbeda mulanya melahirkan keguncangan tersendiri. “Beberapa orang Slovakia yang saya jumpai memiliki pandangan yang hampir sama bahwa orang Asia dan Afrika sering dilihat sebagai warga kelas 2 bahkan kelas 3,” Han Dedy Ton, SVD menegaskan.

“Ada dua hal yang bisa saya jelaskan dari konteks masyarakat ini, pertama, untuk Slovak komposisi masyarakatnya tidak seberagama negara tetangganya, misalnya Praha-Ceko, Wina-Austria, Warsawa atau Krakov-Polandia, Budapest-Hungaria, atau Berlin. Di tempat-tempat ini kita dapat dengan mudah menemukan beragamnya masyarakat yang datang dari pelbagai suku, bangsa dan budaya. Secara politis-ekonomi bisa dimengerti kenapa negara-negara ini beragam orangnya, tentu karena iklim ekonomi politis terbuka yang menjadi destinasi turisme dari negara-negara lain, termasuk mereka yang bergairah melakukan investasi di negara ini. Kedua, prasangka masyarakat terhadap orang Asia dan Afrika kelihatan juga menjadi satu hal yang spontanitas, selain karena faktor ekonomi dan politik di atas.”

Apakah cara pandang masyarakat yang menempatkan masyarakat dalam kelas-kelas sosial berlangsung dalam waktu yang lama?       

“Tidak. Ini hanya awal perjumpaan. Sesudah berjalannya waktu, sesudah berdialog, membangun relasi, pandangan ini perlahan-lahan berubah. Hal ini terlihat dari cara mereka bersikap dan cara mereka membangun relasi. Hanya saja kalau ada orang lain dari Afrika atau Asia yang datang lagi, cara pandang yang lama dipakai lagi. Saya kira hal ini juga berlaku bagi negara-negara lain, termasuk juga di Indonesia. ”

Tradisi Katoliknya kuat dengan penekanan pada devosi, pelayanan ekstra seperti apa yang harus pastor siapkan?

“Mereka butuhkan kehadiran. Umat punya kelompok-kelompok devosional yang sangat kuat sekaligus terorganisasi dengan sangat baik sehingga kita sebagai imam diharapkan untuk selalu ada bersama mereka dalam kegiatan-kegiatan itu. Itu kekuatan dan kegembiraan tersendiri bagi mereka. Sehingga yang harus kami siap lebih dini adalah mengatur waktu supaya semua kegiatan khusus dari umat dapat kita dampingi tanpa harus mengabaikan tugas-tugas pokok sebaga imam. Tantangannya adalah tenaga imam kurang sedangkan umat banyak. Kita mendoakan semoga semakin banyak orang terpanggil menjadi pelayan Tuhan.” (Bill Halan)