Menyangkal Diri (Renungan untuk hari Minggu, 19 Juni 2016)

Oleh P. Alfons  Betan SVD

Bacaan: Za.12:10-11; 13:1; Mzm.63:2-9; Gal.3:26-29; Luk.8:18-24

diri,menyangkal

http://kabarmisionaris.com/menyangkal-diri-renungan-untuk-hari-minggu-19-juni-2016.html

Salah satu kebaijikan yang hendaknya dilaksanakan dalam hidup demi kebahagiaan sesama adalah kesediaan untuk ‘menyangkal diri’. Seorang ibu akan sangat dicintai oleh semua angggota keluarganya apabila ia adalah pribadi yang bisa menyangkal diri. Apa maksud ungkapan ini ?

Ketiga penginjil Sinoptik baik dalam Mat.16:24; Mrk.34 maupun dalam Luk.9:23 menyajikan ungkapan ‘menyangkal diri’ yang diucapkan Yesus bagi para murid-Nya. Ungkapan ini menjadi salah salah satu syarat mengikuti Dia. Kata-Nya dalam Luk.9:23: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Penjelasan tentang injil sinoptik dapat dibaca di sini: Injil Sinoptik

Apabila kita membandingkan ketiga penginjil Sinoptik mengenai syarat-syarat mengikuti Yesus, maka kita akan menemukan bahwa penginjil Lukas menambah ungkapan ‘setiap hari’ pada syarat yang kedua. Maksudnya mau menyadarkan para pengikut Yesus bahwa salib (tantangan atau penderitaan) itu ada setiap hari dan mereka harus siap sedia untuk memikulnya. Untuk mencapai tujuan yang mulia, semuanya itu harus dilalui lewat perjuangan dalam iman yang kokoh kepada Tuhan.

Sebelum Yesus memberitakan untuk pertama kalinya syarat-syarat mengikuti Dia, penginjil Lukas lebih dulu memberitakan pengakuan iman Petrus kepada Yesus sebagai ‘Mesias dari Allah’ dan larangan-Nya kepada para murid-Nya untuk memberitakan kepada siapa pun tentang identitas-Nya sebelum Ia menderita, wafat dan bangkit (Luk.9:20). Maksud larangan-Nya itu adalah agar mereka setia mengikuti-Nya ke mana saja Ia pergi dan di mana saja Ia berada termasuk dalam penderitaan dan kematian-Nya. Dengan setia mengikuti-Nya, mereka akan mempunyai pemahaman yang benar, baik tentang identitas-Nya maupun tentang tujuan karya perutusan-Nya.

Ia tidak mau mereka menyamakan-Nya dengan para dukun, pemegang black magic atau Mesias politis. Ia jauh melebihi semuanya itu. Ia adalah Anak Allah sekaligus Anak Manusia yang diutus Bapa-Nya ke dunia, melaksanakan kehendak Bapa-Nya itu dalam status sebagai pelayan, yang melayani siapa saja sampai rela menyerahkan nyawa demi keselamatan semua orang (Mrk.10:45; 20:28).

Nabi Zakaria sudah meramalkan penderitaan utusan Tuhan yang bersedia menyerahkan nyawa demi pertobatan orang-orang Israel. Mereka  akan meratapinya seperti meratapi anak sulung (Za.12:10-11). Hal itu terpenuhi dalam diri Yesus. Kuasa Ilahi-Nya dimanfaatkan-Nya bukan untuk memeras, menindas, atau menipu demi kepentingan pribadi, melainkan semata-mata demi keselamatan siapa saja khususnya mereka yang setia, beriman kepada-Nya dan setia mengikuti-Nya.

Namun agar bisa melaksanakan kehendak Bapa-Nya itu, Ia harus menyangkal diri-Nya, maksudnya mengosongkan diri (Flp.2:8) dan dengan demikian Ia pun mau mengambil rupa seorang hamba, tinggal di antara manusia (bdk.Yoh.1:14), menjadi sama dengan manusia dalam segala hal, kecuali dalam dosa; dan dalam keadaan sebagai manusia ia merendahkan diri dan taat kepada Bapa sampai rela wafat di salib (bdk.Flp.2:5-9). Dengan menyangkal diri atau mengosongkan diri-Nya, maka fokus perhatian-Nya adalah demi kemuliaan Bapa yang telah mengutus-Nya dan demi keselamatan semua orang; bukan demi kepentingan pribadi-Nya. Dalam hal ini Ia rela berkorban. Hal itu juga yang Ia maksudkan dengan larangan-Nya kepada Petrus dan teman-temannya agar mereka sungguh-sungguh memahami dan menghayati makna penyangkalan atau pengosongan diri (Luk.9:21).

Kelihatannya, menyangkal diri atau mengosongkan diri merupakan dasar utama dan pertama yang menjiwai kedua syarat yang lain, bahkan menjadi konsekuensi daripadanya. Petrus dan teman-temannya harus berusaha untuk rela menyangkal diri atau mengosongkan diri, agar dengan demikian mereka pun bersedia dan bisa memikul salib setiap hari, lalu mengikuti Dia. Tanpa kerelaan mengosongkan diri mereka sukar memikul  salib mereka  dan mengikuti Dia.

Barang siapa bersedia menyangkal atau mengosongkan diri dengan konsekuensi kehilangan nyawa demi Yesus, ia akan memperoleh hidup atau keselamatan, sedangkan barangsiapa tidak mau menyangkal diri, maka ia pun akan binasa. Penyangkalan atau pengosongan diri disertai kesediaan berkorban, memikul salib dan mengikuti Yesus merupakan jalan hidup yang tidak luput dari aneka tantangan dan penderitaan. Namun hanya lewat jalan hidup seperti itulah, mereka akan memperoleh kebahagiaan.

 Syarat-syarat yang Yesus kemukakan bagi Petrus dan temannya itu dimaksudkan agar menyadarkan mereka akan realitas dalam hidup. Hidup merupakan sebuah anugerah Tuhan tetapi juga merupakan tugas yang harus dijalankan dengan penuh iman dan penyerahan diri secara total kepada-Nya.  Namun agar bisa menjalani kehidupan seperti yang dikehendaki Yesus, butuh keterbukaan dan kesediaan untuk menyangkal atau mengosongkan diri.

Mengutamakan kemuliaan Tuhan dan keselamatan sesama lewat ‘penyangkalan atau pengosongan diri’  hendaknya menjadi fokus perhatian setiap orang yang mau mengikuti Yesus. Hanya orang yang mau mengosongkan diri sajalah, yang bisa dengan keterbukaan hati memikul salib-salibnya yang ia jumpai setiap hari; dan hanya orang-orang  seperti itulah yang bisa mendatangkan kebahagiaan bagi sesamanya.

Penyangkalan atau pengosongan diri berbeda dengan sifat ingat diri. Orang yang ingat diri cenderung menganggap dirinya ‘hebat’ dan bersikap angkuh dan karena itu juga sering tidak mempedulikan Tuhan. Orang yang mengosongkan diri selalu bersikap rendah hati dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Ia selalu mencari Tuhan,  jiwanya haus dan seluruh dirinya rindu kepada Tuhan (Mzm.63:2). Baginya,  Tuhan adalah andalan bagi perjuangan dalam hidupnya.

Kalau orang yang ingat diri cenderung meremehkan sesama, maka orang yang mengosongkan diri amat menghargai mereka karena dalam diri sesamanya ia melihat kehadiran dan karya Tuhan.  Dengan menghargai sesama, dia pun dihargai; dengan menghargai mereka, maka mereka pun akan terbuka untuk mendengarkan dia dan mengajaknya untuk menjalin kerjasama.

Orang yang ingat diri cenderung mengeruk dari orang-orang lain untuk kepentingan pribadi, sedangkan orang yang menyangkal /mengosongkan diri, terdorong untuk memberi (waktu, tenaga, pikiran, harta benda dan seluruh diri) kepada mereka. Dengan memberi itu, ia merasa bahagia karena baginya kebahagiaan tidak diukur oleh ‘sudah berapa banyak yang sudah ia peroleh’ tetapi pada ‘sudah berapa banyak yang sudah ia berikan kepada orang lain.’ Ia percaya bahwa Tuhan memberkatinya karena ia rela untuk memberi.

Kalau orang yang ingat diri lebih suka menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan, maka orang yang menyangkal diri lebih suka menggunakan cara-cara yang halal untuk mencapai tujuannya sekalipun ia harus berjuang ‘lebih’ banyak dan sabar. Ia merasa bahagia karena adanya perjuangan itu, ia ditempah dan dibentuk menjadi pribadi yang dewasa baik dalam kepribadian maupun dalam iman kepada Tuhan.  Perjuangan lewat cara-cara yang halal membuatnya peka terhadap hal-hal yang tidak halal, dan itulah yang hindari. Lewat perjuangan itu, ia turut dibentuk untuk mencintai kebenaran dan kebaikan.

Kalau orang yang ingat diri cenderung menipu agar bisa mencapai tujuannya, maka orang yang menyangkal diri selalu menampilkan kejujuran. Baginya, kejujuran jauh lebih berharga daripada banyaknya harta benda dan kenikmatan hidup duniawi. Lebih baik  jujur dan karena itu menjadi pribadi yang dipercayai orang  sekalipun hidup dalam kekurangan dalam bidang ekonomi  daripada hidup dalam kemewahan namun kehilangan harga diri dan tidak dipercayai orang. Apa gunanya hidup mewah tetapi menjadi sumber umpatan atau caci-maki orang karena ketidakjujuran ?

Kalau orang yang ingat diri tidak peduli terhadap penderitaan sesama, maka orang yang menyangkal diri cepat berbelas kasihan dan mewujudkan belaskasihannya itu dalam perbuatan baik untuk membantu. Mungkin orang yang mengosongkan diri akan berkata:  “Hidup di dunia yang fana ini harus diisi dengan perbuatan-perbuatan baik kepada semua orang, khususnya bagi yang menderita. Mereka adalah manusia sama seperti saya; saya harus membantu  mereka  dan memperlakukan mereka  dengan baik (bdk.Gal.3:28). Berbelaskasihan kepada mereka merupakan salah satu dasar utama untuk memperoleh belaskasihan dari Tuhan sendiri.”

Kalau orang yang ingat diri cenderung mengorbankan orang-orang lain demi kepentingan pribadinya, maka orang yang mengosongkan diri selalu tergerak untuk mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan sesamanya itu. Barangkali orang seperti ini akan berkata: “Berkorban demi kehidupan mereka merupakan suatu kebahagiaan. Allah dalam diri Yesus sudah berkorban demi kehidupan saya, sekarang tiba giliranku untuk berkorban demi kehidupan mereka. Hidup ini amat berharga. Karena itu harus diisi dengan hal-hal yang baik,dan kebaikan harus diwujudkan lewat kerelaan untuk berkorban demi kepentingan mereka. Hidup saya di dunia seperti bayang-bayang yang lewat, sesaat saja akan berakhir. Kapan lagi bisa berbuat baik, kalau bukan sekarang ?.”

Kalau orang yang ingat diri sukar mengakui diri bersalah, cenderung membela diri dan mempersalahkan orang lain sekalipun sebetulnya dia sendirilah yang bersalah, maka orang yang mengosongkan diri selalu bermawas diri untuk melihat kekurangannya, lalu berani dan terus terang mengakui kesalahannya.

Mungkin dia akan berkata: “bermawas diri, melihat kekurangan dan dosa-dosa, lalu berani, jujur dan berterus terang mengakui semuanya merupakan kebajikan yang harus saya lakukan. Kalau ada sesama yang saya sudah rugikan, saya pun harus berani bertanggung jawab atas perbuatan saya. Saya harus mendatanginya, berbicara secara pribadi dengan dia, memohon maaf padanya dan kalau perlu mengembalikan harta benda yang saya sudah ambil daripadanya. Apa maknanya hidup saya apabila saya hidup dalam kemewahan tetapi yang saya peroleh ini adalah hasil dari pemerasan dan penipuan atau korupsi, apalagi kalau saya sendiri tidak berani, jujur dan terus terang mengakui semua kekurangan atau dosa-dosa saya  itu? Saya baru bisa menikmati kedamaian batin, apabila saya sudah bisa mengakui semuanya itu. Saya harus menghentikan semua kejelekan itu, bertobat dan menempuh jalan hidup yang lebih baik.”

Dalam keterbukaan hati kita kepada karya Roh Tuhan, hendaknya kita berusaha menanggalkan sifat ingat diri dan perlahan-lahan beralih memiliki dan mewujudkan penyangkalan atau pengosongan diri. Hidup kita akan menjadi lebih bermakna apabila dimaknai oleh kesediaan untuk memperlihatkan pengosongan diri.

Sumber foto:

http://3.bp.blogspot.com/_T5Jovm8uL-E/SMh6o3dhUII/AAAAAAAAADg/p3Z1GjbUGjQ/s400/42-17123597.jpg