Menulis sebagai Salah Satu Cara Mencintai

http://kabarmisionaris.com/menulis-sebagai-salah-satu-cara-mencintai.html

http://kabarmisionaris.com/menulis-sebagai-salah-satu-cara-mencintai.html

“Ayah saya seorang pelukis seperti Cѐzanne dan ia sangat paham landskape wilayah selatan dari Perancis, tempat yang Cѐzane buat. Visinya tentang dunia sangat bijaksana, penuh keseimbangan, penuh dengan penghargaan terhadap struktur, yang menjelaskan identitas masing-masing sudut dari dunia. Visinya religius dan jernih sehingga lukisannya selalu tanpa dekorasi atau komentar yang berlebihan sejak ia menghargai kekuatan ciptaan Tuhan dan menjadi saksi atasnya. Ayah saya seorang pelukis terbaik.”

Kutipan ini saya terjemahkan dari pernyataan Thomas Merton dalam bukunya The Seven Storey Mountain. Merton mengawali bab bukunya dengan cerita yang lengkap tentang ayah dan ibunya. Dari mana mereka berasal, seperti apa keluarga mereka, bagaimana ayah dan ibunya berjumpa dan memutuskan untuk menikah. Kebiasaan ayah dan karakter ibu ia lukis dengan fasih.

Dua bulan terakhir saya menyelesaikan satu proses editing untuk sebuah buku yang disusun ulang dari catatan harian seorang ibu (saat ini sedang siap dicetak, judulnya Asmara Perahu Layar). Buku ini disusun dari catatan yang tertulis di kertas-kertas buku yang kemudian ditulis ulang menjadi satu buku yang lengkap. Mulai dari kisah perjumpaan di atas perahu hingga kematian menjemput mereka.

Buku The Seven Storey Mountain dan buku Asmara Perahu Layar, adalah dua contoh, dari sekian banyak contoh lain, yang menjelaskan cara anak-anak mengungkapkan rasa cinta mereka kepada orang tua, yakni dengan menulis tentang mereka.

“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian, Hormatilah ayahmu dan ibumu-ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi”(Ef. 6:1-3) (Bill Halan)