Mendidik dengan Hati: Satu Jam Bersama I Putu Tony Purana, S.T, M.M

dsc_0124

(Pendidikan itu idealnya memperhatikan dua hal ini: akses dan kualitas. Sekolah Kristen Anak Bangsa, adalah salah satu sekolah swasta yang didirikan untuk menjawab dua kebutuhan tersebut. Berikut petikan wawancara Bill Halan dari kabarmisionaris.com (KMC), dengan I Putu Tony Purana, S.T, M.M, Kepala SMA Kristen Anak Bangsa)

 

Faktor mana yang mendorong sehingga SMA Kristen Anak Bangsa didirikan?

 “Sejak awal, pendiri sekolah, Bapak Ir. Lokky melihat, kok sekolah-sekolah Kristen itu mahal-mahal ya. Nah, dari situ dibuat sekolah yang berkualitas, tetapi terjangkau. Dengan demikian, anak-anak yang memang tidak bisa bersekolah di Sekolah Kristen yang mahal bisa bersekolah di sini.”

Kalau demikian, apa kekhasan sekolah ini? 

“Kita tekankan pada karakter. Ini umumnya anak-anak yang datang dari kelas menengah ke bawah. Mereka datang dari latar belakang keluarga yang beragam dengan persoalan yang berbeda. Misalnya ada yang bermasalah dengan orang tua, ada yang orang tuanya pisah yang tentu saja berdampak pada persoalan ekonomi, misalnya kesulitan membayar uang sekolah. Sehingga pendekatan terhadap mereka harus berbeda.”

Pendekatan Seperti apa?

“Yang saya lihat dari teman-teman guru di sini soal hatinya. Hati mereka luar biasa. Para guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik dengan hati. Contohnya tadi, Bu Indyah (Guru Sejarah) yang harus mengurus kegiatan live-in siswa di Kediri. Karena orang-orang di tempat live-in masih belum nangkap rencana kita, Bu Indyah mau berangkat ke sana dengan suaminya dan gunakan sepeda motor. Dia datang hanya pamit dan tidak tanya uang lembur berapa. Waduh, ketemu teman-teman kayak gini ini, luar biasa. Sama juga kalau teman-teman sedang mengajar atau bimbing siswanya, mereka tidak targetkan, kamu bayar ini, kamu dapat sekian, selesai. Kan gak gitu! Ini bukan bimbel. Kita mendidik. Mindsetnya berbeda.”

Bagaimana dengan siswa yang tidak mampu membayar uang sesuai dengan standar sekolah?

“Kita bicarakan sejak awal, kamu bisa berapa. Lalu kita akan putuskan berapa yang bisa anda bayar, yang penting hal ini kita bicarakan terbuka.”

Anda kelihatan sangat menikmati dengan tugas baru ini

“Saya menikmati. Ini sisi yang lain dari dunia pendidikan. Saya rasa inilah panggilan saya sebagai seorang guru. Karena kita bahagia kalau lihat siswa kita bahagia kan? Dari yang gak bisa, lalu ia bisa dan wajahnya berseri-seri. Itulah pentingnya guru menjadi mediator yang membuat para siswa bisa melakukan sesuatu. Jadi guru tidak hanya mikir dapat gaji berapa masuk berapa, tetapi bagaimana program ini berjalan dan siswa saya bisa tersenyum karena mereka berubah.  Dan puji Tuhan bahwa secara finansial gaji guru-guru di sini tercukupi.”

Seperti apa kualitas para siswa di sini?

“Kualitas itu tidak hanya nilai di atas kertas. Anak-anak punya banyak pontensi dan itu kualitas mereka. kualitas harus dilihat secara menyeluruh. Kemarin kita coba membatik. Awalnya mereka selalu bilang ‘saya gak bsa’. Di situlah peran guru untuk terus memotivasi mereka bahwa mereka bisa. Lalu tentang nilai secara akademik memang kita menyadari bahwa para siswa perlu dibiasakan untuk mengadakan latihan-latihan, khusus untuk bidang studi eksata. Di tempat lain, anak-anak ikut bimbel, di sekolah kita ini, tidak banyak anak yang bisa ke tempat bimbel karena keterbatasan biaya dan lain-lain. Sehingga saat ini kita sudah mulai membuat bimbel di sekolah dan kita sudah coba di  SD, SMP. Kalau membuat latihan soal, mungkin kita akan menilai bahwa mereka ini kurang atau tidak mampu, tetapi ternyata mereka hanya butuh waktu dan latihan yang terus-menerus.”

Jadi tujuan sekolah ini apa?

“Tujuannya membentuk karakter anak tanpa meninggalkan kualitas pendidikannya. Ya, anak-anak kalau dibiarkan mereka akan hilang. Anak-anak yang bermasalah di rumah, pelariannya macam-macam. Ada yang nongkrong-nongkrong di jalan atau membuat hal yang tidak kita inginkan. Tetapi bukan berarti semua anak di sini bermasalah, yang saya maksud kita tidak pernah menghakimi mereka dari latar belakang mereka. Di tempat ini kita membentuk karakter mereka. Kalau karakter mereka sudah dibenahi syukurlah, kita sudah membantu mereka. “

Artinya menyelamatkan mereka?

“Bisa dibilang seperti itu.”

Apa yang jadi target untuk kegiatan ekstrakurikuler?

“Ya seperti tadi ada membatik kita harapkan agar anak-anak memiliki soft skill, selain itu juga kita harapkan agar anak-anak dibimbing untuk menulis. Mereka bisa mendapat penghasilan dari sana. Kemampuan-kemampuan seperti ini kan sangat membantu mereka kemudian hari. Tambahan lagi untuk kegiatan live-in kita harapkan agar mereka bisa menjumpai pengalaman baru, bertemu orang-orang baru dengan latarbelakang yang berbeda. Kita harapkan agar saat kembali dari tempat live-in mereka bisa punya cara pandang baru tentang pentingnya bersyukur untuk kondisi mereka saat ini.”

Apa harapan orang tua?

“Untuk pendidikan karakter, mereka tidak persoalkan. Mereka berharap agar para siswa bisa ikut juga dalam pelbagai perlombaan, misalnya untuk bidang sains. Hanya saat ini kita masih melihat mana siswa yang bisa ikut lomba. Tidak semua anak yang tipe lomba. Orang yang ikut lomba mengikuti proses seperti atlit. Kalau uji kompetensi semua kelas bisa mendapat 100, tetapi untuk lomba tujuannya kita berusaha untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik.”

Apa kegembiraan bagi Anda sebagai seorang Kepala Sekolah?

“Oh ya, di sini kepala sekolah memiliki otoritas penuh terhadap sekolah, tentu bahwa kebijakan yang dibuat kepala sekolah harus sesuai dengan aturan yang ada. Pihak yayasan mendukung program yang kita rencanakan dan tidak mengintervensi selama proses berjalan sehingga enak dan menyenangkan. Kita bisa dengan leluasa mengembangkan sekolah ini.”

(Pa Tony, sebelum menjadi Kepala Sekolah di SMA Kr.  Anak Bangsa (SAB), sudah terlebih dahulu mengabdi selama 10 tahun di IPH Schools. Pengalaman menjadi pemimpin bukan hal baru karena di IPH, Pa Tony pernah menjadi wakil kepala sekolah, yang saat itu dipimpin oleh Pa Sammy sebagai kepala sekolah. Pa Sammy kemudian menjadi Kepala SMA SAB. Karena terpanggil menjadi pendeta  Pa Sammy memandatkan SAB ke tangan Pa Tony sejak tahun 2016. )

Pa Tony melihat perjalanan sejarah Anda, jangan-jangan sesudah memimpin SAB Anda terpanggil menjadi pendeta?

“Wahhhhhh itu saya gak bisa jawab pa hahahahha”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *