Lakukanlah yang Terbaik: Tuhan Ada!

BLpBmJWCYAA9ziI

Hari Minggu
Biasa XIX
Bacaan:

Keb. 18:6-9; Mzm. 33:1,12,18-19,20,22; Ibr. 11:1-2,8-19; Luk. 12:32-48.

Ibu Teresia, dengan nada guyon mengomentari suaminya, “Kalau keluar rumah, Bapa akan sangat risau dan gelisah kalau lupa membawa handphone. Sehingga biarpun istri lupa dijemput, rasa risau itu tidak sebanding kalau ketinggalan handphone.”

Mendengar komentar sang istri, Bapa Juani langsung menjawab, “kalau kita di kampung, biar sedang ada urusan di kampung tetangga, mama akan mengutus siapa saja untuk panggil bapa pulang, hanya karena babi (hewan) keluar dari kandang. Tetapi, kalau giliran babi yang sudah siap dijual, saat bapa pulang ke rumah dan mau memberi makan babi, mama langsung bilang, ‘babi sudah dijual’, tanpa ada pembicaraan sebelumnya dengan bapa. Yang jelas, sebagian uang sudah mama gunakan.”

Ini cerita sederhana, berkaitan dengan apa yang paling ditakuti kalau hilang. Yesus, dalam Injil Lukas dengan tegas menyebutkan bahwa, ”…di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (ay. 34). ” Jika harta yang paling berharga adalah handphone maka hanphone yang tertinggal bisa melahirkan kerisauan. Demikian pun kalau harta yang paling berharga adalah uang maka kehilangan uang bisa menjadi masalah besar, orang bisa stres karena kehilangan uang. Mari kita memeriksa diri, harta mana yang kalau hilang, hal itu akan membuat kita paling risau. Ataukah kita pernah mengalami pengalaman kehilangan yang hingga saat ini belum terlupakan?

Kekuatiran adalah hal yang lumrah bagi seorang anak manusia. Tuhan Yesus dalam Injil Lukas memberi nasehat yang sangat bijak, “Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dirusakkan ngengat (ay. 33). Perintah ini sangat jelas, bahwa janganlah menggantungkan dan mengagungkan barang yang dapat binasa. Lalu apa harta yang tidak dapat binasa? Mari kita mengecek isi Surat kepada Orang Ibrani

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (11:1). Surat kepada Orang Ibrani mengawali pasal 11 dengan iman. “Karena iman Habel mempersembahkan korban yang lebih baik dari Kain (ay. 4). Karena iman Henokh terangkat supaya ia tidak mengalami kematian. Sebab ia memperoleh kesaksian bahwa ia berkenan pada Allah (ay.5). Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (ay. 6).” Kalimat kuncinya adalah pengakuan bahwa Tuhan itu ada dan ia memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Seorang guru memutuskan untuk berhenti menjadi guru dan ia mulai usahanya sendiri di rumah. Ia sadar akan kemampuan yang dimiliki dan ia kembangkan kemampuan yang ia miliki itu. Secara kasat mata, ia memang tidak memiliki gaji tetap, seperti pegawai lain, tetapi entah mengapa semua anaknya bisa disekolahkan, bahkan di kampus ternama. Ia mengalami sekian banyak kebaikan orang karena memang ia sendiri tidak tanggung-tanggung membantu orang lain, walalaupun bayarannya bukan duit. Ketika ditanyakan kia utama kesuksesannya  ia bilang, “Tuhan itu ada. Ia memberikan bakat yang sudah saya miliki ini dan saya kembangkan. Dan saya hidup berkecukupan, tidak kaya, juga tidak miskin. Tuhan itu ada.”

Surat kepada orang Ibrani 11 pelan-pelan mengeluarkan data yang menjelaskan bahwa apa yang dilakukan sang mantan guru tadi sebenarnya sudah dilakukan juga oleh para pengikut Tuhan. “Nuh, dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan, dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarga (ay.7).”

Banyak orang mencibir, tetapi Nuh tetap bekerja dan terbukti bahwa air bah menghancurkan segalanya, kecuali Nuh dan keluarga serta segala hewan yang turut serta bersama dengannya selamat. Sesudah Nuh ada Abraham. Abraham dipanggil ke luar ke tempat yang ia sendiri tidak tahu, ke tempat mana ia tuju. (ay.9) dan Abraham berangkat. Karena iman, Sara, yang usianya sudah lewat, memperoleh keturunan yang besar, seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut. Apa yang tampak tidak mungkin, justru terjadi.

Mereka yang memiliki iman, selalu meyakini bahwa Tuhan itu ada sehingga segala perbuatan dilakukan karena kesadaran akan keberadaan Tuhan. Tuhan Yesus dalam Injil Lukas membuat perumpamaan tentang sikap seorang hamba terhadap tuannya. Hamba yang baik akan selalu waspada, bukan karena tuannya ada atau tidak, tetapi karena memang ia harus setia. “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala (Luk 12: 35).”

Secara umum bisa kita simpulkan bahwa Tuhan Yesus pada hari Minggu ini mengajak kita untuk berpaling pada Tuhan, meletakkan seluruh keamanan kita pada Tuhan. Ia mengajarkan kepada kita untuk mengosongkan diri, melepaskan diri dari segala keterikatan dengan harta duniawi dan mulai menggantungkan hidup pada rencana-rencana Tuhan.

Tuhan itu ada, jangan takut, jangan kuatir. Jika ada rencana-rencana istimewa yang sudah disiapkan, bawakan itu dalam doa dan dengarkan petunjuk Tuhan. Kita belajar dari para pendahulu kita, Nuh, Abraham, hingga Tuhan Yesus sendiri yang sudah membuktikan bahwa sikap iman itulah yang menjadi titik awal terbukanya seluruh rencana besar Tuhan. Ambillah waktu hening (minimal 10-15 menit) untuk mendengarkan arahan Tuhan. Dan, sesudah kita yakin akan arahan Tuhan, hendaklah bersama pemazmur kita  berdoa, “Kasih setiaMu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami seperti kami berharap kepadaMu” (ay.22). (Bill Halan)

Sumber gambar: https://pbs.twimg.com/media/BLpBmJWCYAA9ziI.jpg