Lagi-lagi tentang Orang Samaria

http://kabarmisionaris.com/lagi-lagi-tentang-orang-samaria.html

http://kabarmisionaris.com/lagi-lagi-tentang-orang-samaria.html

Bacaan:
2Raj. 5:14-17; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19.

Saya sengaja menggunakan judul: Lagi-lagi tentang Orang Samaria, untuk menunjukkan kekaguman Tuhan Yesus terhadap orang Samaria.

Rasa kagum yang pertama, Tuhan tunjukkan ketika ia membuat perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati. Melalui perumpaan ini Tuhan menonjolkan bahwa bukan imam, bukan lewi yang membantu orang yang dirampok, tetapi orang Samaria.

Ingat, ini perumpamaan, cerita yang Tuhan narasikan dengan tokoh-tokoh yang juga Tuhan tentukan. Saat itu, Tuhan menonjolkan sikap penuh kasih dari seorang Samaria.

Hari ini, bukan lagi perumpamaan, tetapi kisah nyata: Sepuluh Orang Kusta, Tuhan sembuhkan, hanya satu di antara mereka, seorang Samaria yang datang dan mengucap syukur.

Lagi-lagi tentang orang Samaria, kelompok yang dianggap orang Yahudi sebagai orang kafir karena mereka tidak beribadah di Yerusalem. Orang Samaria justru beribadah di gunung Gerizim kepada Tuhan yang sama. Selain itu, secara politis, orang Samaria juga dianggap oleh orang Yahudi sebagai kelompok yang tidak lagi memiliki darah murni Yahudi, karena orang Samaria, dalam sejarah pembuangan, telah menikah dengan orang-orang bukan Yahudi.

Latar belakang soal perbedaan cara pandang orang Yahudi kepada orang Samaria memang tidak dapat diabaikan, tetapi, baik perumpamaan tentang orang Samaria maupun kisah penyembuhan 10 orang kusta, mengingatkan orang Yahudi bahwa mereka juga perlu belajar dari orang lain, kelompok yang mereka anggap kafir dan asing. Apa yang harus mereka pelajari?

Pertama, manusia, siapa pun dia, darimana pun asalnya, dengan jabatan apa pun, tetaplah manusia. Perbedaan cara pandang ataupun perbedaan latar belakang budaya, agama, pendidikan, dll, tidak menjadi alasan untuk mengabaikan aspek kemanusiaan, perbedaan tidak menjadi alasan untuk tidak membantu orang yang membutuhkan bantuan. (Kisah orang Samaria yang baik hati)

Kedua, kedekatan dengan Tuhan melalui kedisiplinan hidup rohani yang dijalankan, sama sekali tidak meruntuhkan batas antara diri manusia dan rasa kagum dan takut kepada Tuhan. Orang Samaria yang kembali sesudah disembuhkan Tuhan, adalah dia yang menyadari batas antara kemampuan manusia dan kuasa Tuhan. Kuasa Tuhan sudah berkarya atas dirinya.

Belajar dari orang Samaria, kita belajar untuk (1) ‘menjadi sesama manusia’ dengan memberi pertolongan secara tulus kepada mereka yang membutuhkan bantuan dan (2) menyadari karya tangan Tuhan dalam setiap jengkal hidup kita.

Masalah terbesar bagi orang beriman saat ini adalah kehilangan rasa kagum dan takjub akan kebaikan Tuhan sebab perkembangan teknologi telah membantu mempermudah setiap urusan manusia.

Pengalaman  orang Samaria hari ini hendaknya memberi inspirasi bagi kita untuk kembali menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam seluruh ziarah hidup kita. (Bill Halan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *