Karlos Tabrak Mobil…. Sekolah Umat Ubrub

Senin (06/08/2018) malam tepatnya jam 07.00 WIT, Bapak Agus Pull bersama anaknya Rani datang ke Pastoran Paroki St. Bonifasius Ubrub. Ia datang dengan wajah tersenyum. Kami menyambut kedatangannya dengan gembira.

“Bapa, bagaimana kabar?” Saya bertanya.

“Anak guru, saya baik,” jawabnya.

Aku menatap Rani, adik dari Karlos Pull. Ia menyodorkan tangannya.

“Rani…bagaimana kabar?” Ia tak menjawab tapi tersenyum. Rani kini duduk di kelas V.

Kami berbincang sejenak tentang kampung Semografi, tentang pengalaman berburunya bersama ayah beberapa minggu di dusun.

“Rani bawa sayur, mau simpan di mana?” Bapa Agus bertanya.

“Rani tolong simpan di dapur” jawabku. Rani bergegas menuju dapur bersama noken yang berisi sayur pakis, pucuk labu siam, sayur lilin dan buah pepaya

Sementara itu, Bapa Agus bergegas menyimpan tas, senapan angin. Setelah itu ia bergerak menuju kamar mandi untuk mandi. Dingin malam Ubrub tak jadi penghalang baginya.

Malam ini Bapa Agus bersama Rani akan menginap di pastoran. Ia datang membawa berkas administrasi yang akan dikirim ke SMP Vilanova-Manokwari. Selain itu, malam ini juga kami akan berbicara beberapa hal semisal tentang masa depan Karlos dan Rani selain dan beberapa info tentang para donatur yang telah membantu Karlos dan Hasan.

***

06/08/2018

Malam ini sambil makan di kamar makan pastoran Ubrub, Bapa Agus bertanya tentang kabar Karlos dan Hasan. “Karlos bagaimana dia pu kabar?”

“Karlos baik-baik bapa”

“Ah begini anak nguru (Baca Guru) sa da dengar ada yang bilang Karlos tabrak mobil. Karlos masuk rumah sakit, Hasan sementara jaga liat.”

Oh…siapa yang bilang?”

“Ah…ada orang di ujung lapangan”[1]

Karlos diisukan tertabrak mobil dan ini tentu menjadi kabar yang tidak mengenakkan bagi Bapa Agus. Beruntung bagi kami, ia menanggapinya dingin. Dan mencari tahu kebenaran informasi lebih lanjut kepada kami.

“Oh…Karlos tidak tabrak mobil. Dia jatuh saat main bola basket.”

Oh…begitu ka?”

Saya berusaha meyakinkan Bapa Agus dengan meminta tolong Frater Hari untuk menelpon. Ia pun setuju.

Telpon berdering.

“Halo Karlos, bapa mau bicara..”

“Iyo bapa guru” jawabnya dari seberang.

Saya lalu memberikan telepon genggam kepada  Bapa Agus dan mereka mulai bercerita.

“Karlos…

“Iyo bapa..”

Bagaimana…su yakin to…Karlos tidak tabrak mobil” kataku

“Iyo..” jawabnya singkat.

***

Di kamar makan kami masih bercerita hangat. Pada kesempatan ini juga saya menceritakan kepada Bapa Agus bahwa Karlos dan Hasan telah dibantu oleh para donatur.

“Karlos dan Hasan dibantu oleh banyak orang yang kita tra kenal. Tapi dengan ini saya mau bilang mereka sangat sayang deng kita.”

“Uang nanti kasi Karlos dan Hasan kah?”

“Iyo..uang itu nanti dikirim langsung ke sekolah.”

“Pak guru tidak pegang satu sen pun. Kita hanya tau dia pu angka.”

“Uang brapa?”

“Untuk sekarang kita baru dapat 32.000.000.”

“Jadi nanti besok kita buat video ucapkan terima kasih buat mereka semua.”

“Iyo…nanti baesok baru…”

Usai makan dan bincang-bincang kami pun beranjak meninggalkan ruang makan pastoran.

    **                                           **

07/08/2015

Pagi ini langit cerah. Tak ada gelap hujan di langit Ubrub. Burung-burung berkicau dan gemericik air sungai Em, terdengar datang di telinga. Seperti biasa masing-masing kami sibuk pagi ini. Rani membantu saya di dapur. Pastor Feliks Janggur OSA menimbun tanah di halaman gereja.

Beberapa saat kemudian kami pun duduk bersama di kamar makan untuk sarapan pagi.

“Pak guru…” panggil Pastor Felix

“Iyo pater…” jawabku

“Mari kita sarapan…”

Sarapan pagi atau makan siang dan malam selalu menjadi kesempatan bagi kami untuk berbagi cerita tentang berbagai macam persolan hidup.

Pada kesempatan ini kami berbincang-bincang seputar Karlos dan Hasan.

“Kita terus berdoa agar mereka menjadi baik…” kata pastor

“Bapa bisa liat to…kita orang keerom, khususnya web, kita anak negeri tidak bisa buat apa-apa…”

Kita mulai siapkan kita pu anak-anak.”

Dalam usaha ini, selama beberapa tahun tugasnya di paroki ini, pastor Felix Janggur OSA membangun kerja sama dengan beberapa pihak dan mengirimkan beberapa anak ke tempat jauh yang memiliki kualitas. Misalnya ke Tobelo sekolah yang dikelolah oleh Suster-suster DSY, di  Manokwari-SMP-SMA yang dikelola oleh Ordo Santu Agustinus dan sorong-Seminari menengah Van Dipen.

Salah satu sebab tersendatnya pendidikan di paroki ini ialah masalah ekonomi keluarga. Dan dalam usaha ini program paroki menyangkut pendidikan ekonomi terus diadakan. Program ini diharapkan membangun kesadaran bagi umat pribadi pribadi.

Pastor Felix di pagi ini menganjurkan kepada Bapa Agus Pull agar mulai bekerja. Mencari apa yang bisa menghasilkan uang. Kekayaan alam yang melimpah di dusun semisal emas di kali Dobi mesti disiasati sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan uang.

“Sambil pigi berburu bawa kuali.”

“Pasti ada…” jawab bapa Agustus.

“Nanti bapa coba…” ajak pastor.

Kemandirian Ekonomi merupakan persoalan mendasar paroki ini. Dan usaha memotivasi umat untuk membangun ekonominya pun sungguh menjadi hal penting dan menantang.

[1] Ujung Lapangang merupakan bekas lapangan Bandara, dibangun di tahun 1958. Bandara ini dibangun dibawah pimpinan Bruder Eddy Van Daal OFM dan Pastor Syef de Wit OFM. Beberapa tahun ini tempat ini beralih fungsi menjadi lokasi perumahan dimana beberapa anggota masyarakat Ubrub memilih tinggal di sini juga bagi beberapa anggota masyarakat Semografi. Tempat ini merupakan tempat persinggahan yang nyaman bagi mereka saat datang ke Ubrub