Jika tidak berbuah, tebanglah dia!

http://kabarmisionaris.com/wp-admin/post.php?post=1387&action=edit

http://kabarmisionaris.com/wp-admin/post.php?post=1387&action=edit

Robert Kiyosaki, suatu ketika bertemu dengan seorang penulis novel yang mengeluh banyak hal, termasuk tentang keterbatasan ekonomi yang dialaminya. Kepada penulis novel ini, Kiyosaki menunjukkan bukunya berjudul, If you want to Be Rich and Happy, Don’t Go to School?

Kemudian Kiyosaki menunjuk lagi salah satu tulisan di situ ‘Robert Kiyosaki, best selling author,’ Robert mengeja tulisan itu. Lalu ia menatap tajam ke penulis novel itu dan ia bilang:

“Yang tertulis adalah best selling author dan bukan best writing author.” Penulis novel itu agak terganggu mendengar pernyataan Kiyosaki.

“Saya penulis yang mengerikan, ”Kiyosaki melanjutkan. “Anda penulis yang hebat. Saya pergi ke sekolah penjualan, anda mempunyai gelar master. Satukanlah itu dan anda akan menjadi best selling author dan sekaligus best writing author,”  Kiyosaki menyelesaikan pernyataannya.

Penulis novel itu bukannya bersyukur, malah ia pergi. Kiyosaki mengantar penulis itu pergi dengan tatapan penuh keheranan hingga penulis itu lenyap di balik tembok pembatas. Kiyosaki menyayangkan potensi yang istimewa itu tidak didukung dengan kemampuan lain, toh kalau memang ia sendiri tidak bisa, orang lain bisa membantu.

Sikap rendah hati dan terbuka mendengar pendapat orang lain, sudah sering terbukti menjadi alasan bagi pertumbuhan diri.

Kisah pohon ara yang tidak berbuah hendaknya menjadi cemeti bagi kesadaran kita bahwa pertumbuhan itu mulanya bergerak dari dalam. Faktor eksternal hanya mendukung.

“Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah: jika tidak, tebanglah dia! (Lukas 13:8-9) (Bill Halan)