Renungan Hari Sabtu: Jangan Takut Mengambil Maria Sebagai Istrimu .. . . .!

Keputusan

Renungan Hari Sabtu: Jangan Takut Mengambil Maria sebagai istrimu

Akhir-akhir ini, sering terjadi diskusi hangat antara saya dan teman-teman di sekolah. Topik pembicaraan kami seputar out put yang harus dihasilkan dalam dunia pendidikan. Kira –kira out put semacam apa yang harus kami hasilkan agar produk (siswa) bisa bersaing bukan saja untuk saat ini melainkan di masa mendatang.

Kegamangan ini bertolak dari beberapa fenomena aktual, seperti prestasi belajar yang menurun dan standar KKM yang tidak sinkron dengan prestasi belajar siswa. Dengan demikian, segala cara digunakan agar anak didik bisa mencapai nilai standar minimal sekolah.

Singkatnya, segala persoalan di atas membuat kami berada pada titik dilema. Jika kami terlalu getol mematok nilai siswa agar nilai siswa sesuai dengan standar yang ada, hal ini akan berdampak buruk bagi peserta didik ketika mereka memasuki perguruan tinggi nantinya. Jika kami membantu mereka dengan memberi point tambahan maka hal ini akan menyuburkan mentalitas negatif di dalam diri siswa. “ Belajar tidak belajar tetap dapat nilai baik (standar KKM).”

Dilema, meskipun dalam konteks yang berbeda, Santo Yusuf dalam injil Mat: 1:16;18-21, juga pernah mengalami dilema dalam hidupnya. Dilema yang dihadapi: menikah dengan Maria atau menceraikannya.

Sebab Maria, wanita yang hendak dijadikannya sebagai istri sah tiba-tiba sudah mengandung. Itu berarti anak yang ada dalam kandungan Maria bukan darah daging Yusuf. Kira-kira lelaki siapa yang bisa menerima keadaan seperti ini?

Yusuf tidak tinggal diam. Hari demi hari ia lalui dengan penuh permenungan. Puncak permenungan itu alami pada sebuah mimpi di malam hari. Menurut kisah Injil, pada waktu Yusuf mau menceraikan keputusannya kepada Maria, malaikat nampak dalam mimpinya dan berkata” Yusuf anak Daud, janganlah Engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat: 1: 20).

Permenungan yang panjang dijawab dalam mimpi semalam. Jawaban yang tidak perlu diragukan lagi. Apalagi jawaban itu datang melalui malaikat Allah. Mimpi berjumpa dengan malaikat membuat Yusuf memilih secara tegas. “janganlah Engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat: 1: 20) . Setelah bangun, Yusufpun berbuat demikian.

Pengalaman kegalauan Yusuf hingga menemukan jawaban dalam mimpi mau mengajarkan kepada kita beberapa hal penting dalam hidup:

Pertama, semua orang pasti mengalami persoalan dalam hidup. Apapun persoalan itu pasti akan menganggu konsentrasi seseorang, menganggu suasana batin.

Kedua, kita perlu mengambil jarak dalam menghadapi persoalan yang ada dan masuk dalam keheningan. Dalam keheningan, kita berkomunikasi dengan Tuhan dan ia akan berbicara kepada kita, mana keputusan yang terbaik.

Ketiga, setiap persoalan dalam hidup selalu ada jalan keluar. Tidak ada permasalahan yang tidak memiliki jalan keluar. Tentu setiap keputusan ada konsekuensinya. Dalam situasi ini, keputusan tepat harus segera diambil. Setelah mendapat nasehat dari Maria, Yusuf bangun tidur dan segera melakukan perintah Tuhan.

Saya sangat yakin bahwa Tuhan selalu mendukung  setiap keputusan yang kita ambil. Hal  terpenting adalah apakah keputusan itu sesuai dengan kehendak Tuhan ataukah karena kepentingan kita semata? Untuk itu sebelum membuat keputusan kita perlu berkomunikasi, berkonsultasi dengan Tuhan. Tuhan akan menguatkan kita untuk tidak takut memilih suatu keputusan yang tepat. Semoga sharing rohani di akhir pekan ini membuat saudara sekalian semakin teduh dalam iman dan kesaksian. Salam dalam Sang Sabda. (Baltazar Asa – Mantres)

Sumber gambar: https://renoismanto.files.wordpress.com/2013/05/persimpangan.jpg

2 Comments
  1. 2 tahun ago
    Icha Lamury

    St. Yosef itu contoh pria idaman untuk para wanita dalam penantian (lady in waiting). Selain melindungi keluarga Nazaret, St. Yosef juga mendengarkan dan mengikuti petunjuk Tuhan untuk mengambil Bunda Maria sebagai istrinya. Kita perlu belajar dari sikap yang St. Yosef dan Bunda Maria yakini dalam hidup mereka yaitu Kepasrahan dan kepercayaan penuh pada kehendak Tuhan atau yang kita sebut sebagai iman. Percaya penuh kepada kehendak Tuhan dalam setiap peristiwa hidup, salah satunya dalam hal memilih pasangan hidup. Pria dan Wanita zaman kini harus meneladani sikap iman St. Yosef dan Bunda Maria, menjadi pribadi yang sederhana namun penuh iman, sehingga Tuhan akan memakai pribadi-pribadi sederhana tsb untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

    Balas
    • 2 tahun ago
      bill halan

      Terima kasih [email protected] (Icha Lamury) sudah menyempatkan diri untuk memberi komentar. Tentu semangat santo Yosef harus menjadi teladan bagi para pria, dan para wanita pun diharapkan menjadi wanita yang terbuka pada rencana Tuhan

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *