Iuran Gereja: Umat Cuek –  Pastor Pening!

Apakah di paroki Anda mengalami hal serupa? Pastor paroki melalui anggota dewan berkali- kali mengumumkan di gereja agar umat membayar iuran gereja tetapi umat tampak cuek dan menunda-nunda pembayaran iuran, alhasil beban iuran makin besar.

Pertanyaannya adalah apa yang menjadi kendala sampai ada umat yang menunda-nunda membayar iuran gereja? (1) Apakah karena umat kurang memahami mengapa dan untuk apa iuran gereja? (Terkait sosialisasi dan pendekatan pastor paroki), (2) Umat belum merasa memiliki gereja? (Persoalan keterlibatan umat dalam hidup menggereja), (3) Keterbatasan ekonomi umat?

Dalam diskusi terbatas dengan beberapa anggota dewan dan beberapa pastor paroki di group WA, alasan ketiga, terkait keterbatasan ekonomi umat, rasanya tidak terlalu tepat sebab masing-masing paroki sudah memiliki kebijakan sendiri terkait besarnya iuran umat. Pertimbangan yang mendasar mereka adalah kemampuan ekonomi umat. Misalnya ada paroki yang menetapkan iuran per jiwa: anak-anak: Rp. 2000, 00 per tahun, sedangkan orang dewasa Rp. 10.000 per tahun. Jadi kalau di dalam satu rumah ada 5 orang dewasa maka iurannya Rp 50.000 per tahun. Jika Rp. 50.000 per tahun maka kalau dicicil, satu bulan sekitar Rp. 4.167,00. Dihitung  per hari, kira-kira Rp 139,00. Apakah jumlah seperti ini sulit bagi umat jika dibandingkan dengan belanja kebutuhan pokok, pendidikan anak, juga pulsa hp?

Alasan pertama, terkait kurangnya pemahaman mengapa dan untuk apa iuran gereja, bisa menjadi salah satu penyebabnya. Alasan mendasar adanya iuran gereja adalah bahwa gereja sebagai satu institusi dengan segala urusan rumah tangganya membutuhkan partisipasi umat, salah satunya dalam urusan ekonomi. Lalu mengapa di gereja lain, misalnya gereja di kota besar seperti di Jawa, tidak ada pengunguman atau kewajiban untuk membayar iuran gereja? Jawaban sementaranya adalah bahwa kolekte umat sudah mencukupi. Jika dihitung, satu kali mengikuti misa, umat di kota besar mengisi kolektenya Rp. 50.000, per orang untuk dua kotak kolekte (satu kali misa per orang Rp. 100.000), hal ini bisa membantu urusan ekonomi di gereja, bahkan ada gereja yang dengan kolektenya bisa membantu gereja lain yang berkekurangan. Sedangkan di wilayah NTT, kolekte umat belum cukup membiayai urusan “dapur” gereja. Urusan itu itu apa saja?

Berikut beberapa rincian secara umum: a) kebutuhan gereja: misalnya hosti, anggur, biaya listrik, air, sound system, perawatan bangunan gereja dan bangku gereja, organ gereja, lilin, kebersihan gereja, gaji karyawan/ti, dll. b). Pertemuan Pastoral, c) Pembekalan Fungsionaris Pastoral, c) Transportasi pastor, d) Kebutuhan kantor, d) Konsumsi, e) Membantu kegiatan di keuskupan dan kevikepan.

Lalu apakah iuran umat itu sudah bisa membiayai urusan-urusan di atas? Tidak. Iuran gereja ditambah kolekte umat pun belum cukup sehingga pastor paroki kadang-kadang mencari cara untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan kebutuhan gereja dengan menanam sayur-sayuran dan memelihara ternak. Dalam konteks ini, pastor paroki akan sangat kesulitan jika umat cuek dalam urusan iuran gereja terlebih ketika jumah imam terbatas sedangkan umat begitu banyak: kapan pastor harus urus pelayanan umat, melakukan pembinaan, menyiapkan dan memimpin perayaan ekaristi, mengurus ternak dan urusan lain-lain. Bisa-bisa pastornya sakit-sakitan dan stroke dalam usia muda.

Yag terakhir persoalan terkait rasa memiliki atau menjadi bagian dari gereja. Ini satu hal yang erat kaitan dengan pendekatan pastoral. Menurut sharing pengalaman dari seorang pastor paroki, ia tidak abai menyiapkan waktu untuk ‘turun’ mengunjungi umat, melayani sakramen, memberi pengertian kepada umat, memotivasi mereka, mendampingi iman umat, dan tidak lupa memberi motivasi kepada umat untuk terlibat dalam urusan gereja. Alhasil, umat makin merasa bahwa gereja adalah bagian dari diri mereka dan umat juga makin sadar akan pentingnya berpartisipasi dalam urusan-urusan gereja, salah satunya dengan melunasi iuran gereja. Semoga dengan tulisan ini, umat yang belum membayar iuran gereja segera melunasinya. Ingat, umat cuek, pastor pening! (Bill Halan)

Bagi rekan-rekan yang ingin membagi pengalaman di paroki silahkan menghubungi kabarmisionaris.com, nomor kontak WA 081233414757.