Indah Pada Waktunya: Dari Indonesia ke Bolivia

 

Pastor Kaens Rano, SVD sedang belajar bahasa

http://kabarmisionaris.com/indah-pada-waktunya-dari-indonesia-ke-bolivia.html

Oleh: Pastor Kaens Rano, SVD, Misionaris Bolivia

Penantian demi penantian, akhirnya tiba juga. Setelah menanti sekian lama di kota Jakarta, akupun diberangkan ke tempat misi. Aku berangkat ke tempat misi Bolivia, Amerika Latin, menumpang pesawat Airfrance dengan ruta penerbangan: Jakarta-Singapura-Paris-Santiago (Chile).

Kegelisahan merupakan sahabat karib di hari-hari menjelang keberangkatan. Perasaan cemas semakin menggerogoti diriku pada hari menjelang keberangkatan yakni hari Selasa 24 Juni 2014. Aku merasa cemas karena ini merupakan pengalaman perdana menempuh perjalanan jauh dan dalam perjalanan panjang tersebut, aku berangkat sendirian. Tidak seperti yang diamanatkan oleh Sang Pengutus bahwa “Aku mengutus kamu berdua-dua”.

Di lantai atas rumah komunitas  Soverdi Matraman, sembari memandang kelap-kelip lampu kota dan menghirup udara sejuk, aku meneguhkan diri dengan kata-kata Sang Pengutus sendiri: “Janganlah kuatir akan hidupmu. Pandanglah burung-burung di langit, perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal. Jika Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu? Karena itu janganlah kuatir”. “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu”.

Kedua nas ini menguatkanku untuk meninggalkan segala sesuatu yang sudah lama kuakrabi dan kukenal, dan berani melangkah pergi untuk mengalami sesuatu yang baru dan asing. Aku percaya bahwa Ia tak pernah mengingkari janji-Nya, sebaliknya Ia senantiasa menyertai orang-orang pilihan-Nya sampai pada akhir zaman. “Pergilah,…Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28,19-20).

Bagaimana Ia hadir dan menyatakan janji-Nya itu? Dalam perjalanan panjang yang mengelisahkan hati, Ia datang dan menemaniku melalui wajah-wajah anomim, tanpa nama. Berkat bantuan mereka, aku dapat tiba di tempat tujuanku, Santiago-Chile, dengan aman dan selamat.

Santiago – Chile mengecohkanku. Aku tiba di tanah Chile pada 26 Juli 2014, pkl 07:15. Bulan Juni merupakan puncak musim dingin untuk negara yang meraih kejuaraan dalam Copa America 2015. Dinginnya pagi itu menusuk hingga tulang-tulangku. Jaket buatan Indonesia yang kukenakan tak sanggup membendung hantu dingin tersebut. Aku sungguh terkecoh olehnya. Meski demikian, seperti dikatakan oleh Pastor Yustin Genohon, SVD, dalam syair lagunya: “musim silih berganti sabda-Mu tetap teguh”, aku pun berusaha mengakrabi hantu dingin tersebut sembari merindukan datangnya musim panas. Dalam perputaran waktu, musim dingin itupun berlalu dan musim panas tiba.

Di santiago, Chile, sembari mengurus dokumen untuk masuk tanah misi Bolivia, aku mengikuti kursus bahasa Spanyol di salah satu instituto bernama ICHIL (Instituto Chileno de Lenguage). Selama 4 bulan aku berguru di sana. Pada hari-hari awal kursus, aku didatangi dan ditemani lagi oleh sahabat lama, kecemasan. Aku merasa gelisah dan kegelisahan itu berhubungan dengan kesangsian akan kesanggupan memahami bahasa asing. Kesadaran akan kemampuan diri yang terbatas memacuku untuk bekerja keras dan tekun. Aku mengikuti kursus dan semua proses yang telah diprogramkan oleh instituto dengan setia dan tekun. Dari kesetiaan dan ketekunan itu, akhirnya aku menunai kesuksesan.

Apakah dengan ini segala sesuatu menjadi beres? Tidak! Saya masih mengalami kesulitan besar untuk mendapatkan visa masuk Bolivia. Situasi dan persoalan politik kedua negara (Chile dan Bolivia) turut memperlambat terealisasinya urusan dokumenku. Namun, setiap niat dan misi baik, Tuhan selalu memberi restu dan membuka jalan. Persoalan visa mendapat penyelesaian.

 Aku diizinkan masuk ke tanah misi Bolivia yang terkenal dengan hasil coca pada Kamis 19 Februari 2014. Bersama dengan seorang rekan imam dari Provinsi Gana, saya meninggalkan Chile dan mendarat di negeri tertinggi dunia, La Paz pada pkl 12:25. Penerbangan yang melintasi dua bandara (Iquique dan Tarija) berlangsung aman dan selamat.

 Setelah tiba di kota Alto, La Paz, yang ketinggiannya mencapai 4760 meter dari permukaan laut, saya langsung membereskan dokumen. Sebab kedutaan Bolivia yang berada di Chile memberikan izin kepadaku untuk berada di Bolivia selama 30 hari. Selama beberapa hari di kota ini aku harus bergulat dengan iklim baru yang sangat dingin dan kurang oksigen. Proses tramite dokumen berjalan baik dan lancar sehingga pada tanggal 24 Februari 2015, saya berangkat ke sebuah paroki, penghasil Coca untuk mulai bekerja.

 Dari rentetan peristiwa dan penantian panjang ini, akhirnya waktu yang dinantikan itu tiba juga. Dengan ini tergenapilah apa yang dituturkan pengkotbah: “Segala sesuatu indah pada waktu” (Pkh 3,11) dan setiap orang yang bertahan hingga sampai akhir, Tuhan akan memberinya berkat. La paz, 24 Februari 2015

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *