HIDUP BABAK KEDUA (SESUDAH KEMOTERAPI): TESTIMONI (1) OLEH: SUBAN KLEDEN

 

BULAN Juni selalu menjadi waktu khusus untuk introspeksi sekaligus bersyukur karena ada pengalaman religius terkait dengan Santo Antonius dari Padua yang diperingati setiap tanggal 13 Juni.

Sebuah tim dokter memvonis saya mengidap kanker kelenjar getah bening atau limphomania cancer dan harus segera menjalani kemoterapi. Saya sama sekali tidak memiliki referensi mengenai kemoterapi. Beberapa buku, leaflet yang saya baca jauh dari cukup untuk bisa membuat hati saya tenang menghadapi kemoterapi. Tetapi saya memasuki ruang kemo dengan satu niat, yakni sembuh. Sandaran saya tidak ada yang lain kecuali doa karena doa adalah energi positif. Semakin banyak orang berdoa untuk kita semakin banyak pula energi positif yang kita terima.

Dokter hanya berpesan hal yang umum bahwa kemo mengakibatkan rasa mual dan rambut rontok, walau pada kasus-kasus tertentu hal itu tidak terjadi. Pertama kali di ruang kemo saya agak tenang karena selain isteri dan anak-anak, saya juga didampingi tiga adik kandung, yakni seorang pastor dan dua adik perempuan. Mereka membuat hati saya sungguh kuat ketika menjalani sebelas jam kemo di RS Carolus di bawah bimbingan Dokter Ronald Hukom. Semua orang terdekat saya, kini ada di sekeliling saya.

Di ruang kemo semuanya berjalan lancar, kecuali saya merasa badan agak panas. Efek kemo mulai terasa ketika saya kembali ke ruang perawatan menjelang tengah malam. Rasa mual mulai menyerang. Mual yang dahsyat itu kemudian berlangsung berhari-hari. Berat badan turun drastis karena asupan makanan sepenuhnya lewat selang-selang.

Biasanya pada sekitar pukul 10.00 WIB, pihak RS menyiapkan bubur kacang ijo. Namun sejak kemo, bubur kacang ijo itu tak tersentuh karena tak pernah dimakan. Siang itu karena kelelahan dan semakin tidak bertenaga, saya tertidur. Tepatnya tidur-tidur ayam, antara tidur dan terjaga. Dalam tidur itu saya bermimpi berada di dalam Kapela Santo Antonius dari Padua di Waibalun, kampung saya di Larantuka, Flores.

Dalam mimpi itu, saya terkapar tak berdaya di bawah gua tempat patung Santo Antonius dari Padua. Gua itu sangat kecil terbuat dari kayu. Tingginya tak sampai 30 cm. Arca patung Santo Antonius dari Padua, jauh lebih kecil lagi. Tiba-tiba Santo Antonius dari Padua keluar dari tempatnya dan menghampiri saya. Dia menepuk bahu saya sambil berkata: Hogo (bangun dalam bahasa Lamaholot). Saya menggeliat. Tepukan kedua di bahu lebih keras dan suaranya pun lebih kencang: Hogo.

Saya bangun dan melihat isteri tertidur sambil memegang kaki saya. Kepalanya bersandar di tempat tidur. Dia kelelahan karena berhari-hari tidurnya terganggu. Saya membangunkannya. Dia kaget dan menanyakan apa yang terjadi. ‘’Tolong kasih, kacang ijo itu,’’ pinta saya. Isteri saya heran. Sudah berhari-hari saya tidak bisa makan karena mual, sekarang kok minta kacang ijo. Isteri saya kemudian menyuap satu sendok bubur kacang ijo dan saya menelan. Ketika bubur kacang ijo itu melewati tenggorokan tanpa rasa mual, saya berseru dalam hati: Goe morit (saya hidup).

Sejak itu rasa mual perlahan hilang. Sampai enam kali saya mengikuti kemoterapi, hanya satu periode itulah rasa mual yang luar biasa menyerang. Kemoterapi selanjutnya berjalan lancar dengan siklus setiap tiga mingggu. Santo Antonius dari Padua telah mengembalikan gairah hidup saya yang hilang. Syukur bagimu Tuhan. (Kisah ini pernah saya ceriterakan secara langsung dalam Misa di Kapela Santo Antonius Padua Waibalun beberapa tahun lalu melengkapi homili romo). (Suban Kleden)