Gereja Titen: Menggali Kubur – Menanam Gereja- Kado Untuk Yubileum Gereja St. Ignatius Loyola Waibalun

 “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.” (St. Ignatius Loyola)

Tempat mana yang paling banyak dan paling sering dikunjungi umat Paroki St. Ignatius Waibalun, gereja atau pekuburan umum?  Sejauh pengamatan saya, pekuburan umum. Mengapa demikian? Secara teknis, gereja biasanya ditutup sesudah perayaan ekaristi, kalaupun dibuka, itu karena ada umat yang mengadakan latihan koor juga ada kegiatan bersih-bersih gereja. Di sisi lain, ada aspek yang unik dari pekuburan umum.

Pertama, letak pekuburan umum. Dari gereja St. Ignatius Waibalun, letak pekuburan berada sedikit ke lembah, jalan menuju ke sana terasa lebih enteng, orang tidak perlu mendaki. Tempat ini mulai ramai dikunjungi sekitar pukul 18.00. Di tempat ini pun, umat menumpahkan isi hati mereka. Masalah tanah yang disengketakan, urusan: kelulusan ujian, keselamatan perjalananan, konflik hingga urusan jodoh, lebih sering diungkapkan di pekuburan umum. Bahkan, lokasi pekuburan umum pun sering menjadi tempat bagi pasangan muda-mudi untuk bertemu jodoh atau kekasih hati mereka. Letak pekuburan umum juga – persis di samping jalan raya sehingga mudah dijangkau.  Selain mudah dijangkau, di pekuburan umum orang bisa datang kapan saja, menerobos dari sisi mana saja sebab tak ada pintu gerbang yang membatasi.

Kedua, arsitektur kubur dibuat sambil mempertimbangkan kenyamanan pengunjung sehingga tidak heran jika orang bisa duduk nyaman dalam waktu yang lama. Selain duduk, orang juga bisa berbaring di salah satu sisi dari kubur. Varian arsitektur kubur juga turut menjelaskan kebebasan pemilik kubur untuk mendesain dan membangun kubur sesuai keinginan mereka, tentu dengan konsekuensi tertentu bagi anggota keluarga baru yang akan dikuburkan, misalnya kesulitan mengakses lokasi menuju kubur baru karena jalan menuju ke sana sudah ditutup oleh kubur-kubur yang dibangun lengkap dengan atap-atapnya.

Ketiga, informalitas. Di pekuburan umum, tak ada hal yang formil, tak ada langkah-langkah protokoler yang rumit untuk menjangkaunya, tak perlu busana resmi yang wajib dipakai saat mengunjunginya. Di sana orang bisa berdoa dengan cara yang spontan dalam bahasa lokal yang akrab digunakan sehari-hari. Ada juga orang yang tidak mengucapkan doanya, ia mampir di kubur, duduk diam lalu kembali sesudah membakar lilin di tempat itu.

Keempat, fleksibilitas, waktu untuk membakar lilin di kubur pun fleksibel. Sering orang berkunjung ke pekuburan umum ketika urusan di rumah sudah selesai. Kunjungan ke kubur pun menjadi satu kunjungan pada waktu senggang – leisure time.  Untuk hal ini, kunjungan juga menjadi satu bentuk rekreasi di tengah kesibukan sehari-hari.    

Kelima, arsitektur, informalitas, leisure time, dan tindakan membakar lilin di kubur setiap hari mengungkapkan konsep masyarakat tentang kubur. Kubur adalah wujud lain dari rumah. Rumah tak boleh gelap, di sana ada kehangatan relasi, ada perjumpaan yang karib. Tidak heran jika terkadang di pekuburan umum kita jumpai batang rokok yang diletakkan di samping secangkir arak, simbol persahabatan (biasanya diletakkan oleh sahabat-sahabat dekat, walaupun sekarang hal ini jarang ditemukan).

Sikap umat Paroki St. Ignatius Loyola Waibalun di kuburan umum adalah cermin kebudayaan masyarakat yang memuat di dalamnya: konsep tentang kehidupan sesudah kematian dan konsep tentang kubur (abstrak), pemahaman tentang peran-peran sosial sesudah kematian yang terus dikelola  juga tentang relasi cinta yang tak padam (organisasi sosial), ekspresi budaya material dalam bentuk-bentuk kubur.

Saya tidak melihat tingginya kunjungan ke pekuburan umum dibandingkan dengan kunjungan ke gereja sebagai satu masalah tetapi sebagai satu potensi yang perlu dikelola. Selama ini muncul satu kesan yang sangat positif bahwa Gereja St. Ignatius Waibalun paham bahwa pekuburan umum adalah bagian yang penting dari sisi batin umat Paroki sehingga pada saat-saat tertentu diadakan perayaan ekaristi di pekuburan umum. Kita patut berbangga akan hal ini. Di sisi lain, kita masih perlu bertanya, mengapa kunjungan ke pekuburan masih lebih tinggi.

Dalam pandangan saya, Gereja sebagai satu institusi mungkin masih terkesan terlalu formil, monolog, dan mungkin juga masih sering mengembangkan pendekatan punishment (sanksi atau hukuman) kepada umat sehingga umat merasa Gereja kurang menyentuh hati mereka, atau ada kesan bahwa umat masih merasa dianggap kelas dua sedangkan pejabat pastoral kelas satu. Ada juga orang ke gereja karena aturan, jika tidak mau dicibiri tetangga (masalah sosial). Mereka yang tidak peduli lagi dengan cibiran tetangga, memilih untuk tidak ke gereja – ada daya tarik yang hilang dari Gereja yang membuat umat tidak rindu ke gereja paroki St. Ignatius Waibalun, malah ada yang pindah gereja.

Perayaan Yubileum – 100 tahun Gereja St. Ignatius Waibalun perlu menjadi satu kesempatan untuk memikirkan kembali ruang-ruang dialog di dalam gereja, menghidupkan kegiatan-kegiatan yang mengakrabkan relasi antara pastor paroki dan umat, memfasilitasi kegiatan-kegiatan kreatif dari anak-anak muda, mengembangkan relasi persahabatan dan kasih di dalam kebijakan-kebijakan pastoral  dari kesan  Gereja sebagai pemberi sanksi, mengembangkan sikap saling mendengarkan, saling menghargai, bukan saling mempersalahkan. Gereja perlu menjadi tempat orang mengadu, bersyukur, juga tempat orang berdoa secara spontan dalam bahasa-bahasa daerah, berdoa untuk kepentingan para petani, nelayan, guru-guru, para penenun, dll.

Jarak fisik antara gereja dan pekuburan umum begitu dekat, tetapi kedua tempat ini bisa terasa begitu “jauh”  orang seolah-olah harus “berganti baju” juga berganti peran ketika berpindah tempat.  Jarak ini secara fisik adalah ruang potensial yang bisa dikelola untuk mengumpulkan umat dan mengarahkan umat dari kubur ke gereja atau dari gereja ke kubur.

Di Tambov, sebuah distrik di Rusia, gereja juga menjadi tempat para musisi klasik memainkan musik-musik klasik dan umat hadir di dalam gereja – memejamkan mata, membiarkan ruang hati mereka diisi dengan alunan musik klasik, mereka diikat dari sisi batin. Kita perlu menggali nilai-nilai yang mengikat umat saat berkunjung ke kubur dan mengurai nilai-nilai itu untuk hidup menggereja agar rasa memiliki kubur berkembang pula di dalam gereja – di sana Gereja sebagai persekutuan umat Allah bertumbuh. Gereja wi Titen.   (Bill Halan)

Keterangan foto: Peringatan 50 Tahun Pater Kaliks Hadjon SVD