Engkau Lihat Perempuan ini? (Minggu Biasa XI, 12 Juni 2016)

perempuan basuh kaki

Oleh P.Alfons Betan, SVD

Dosen STFK Ledalero

Bacaan: 2Sam.12:7-10.13; Mzm.32:1-2.5.7.11; Gal.2:16.19-21;Luk.7:36-8:3

Kita hendaknya bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah memberi kita mata yang sehat sehingga kita bisa melihat. Kita juga mengakui bahwa di dunia ini ada banyak orang buta: mereka tidak bisa melihat. Ada juga orang-orang yang sekalipun mempunyai mata, namun karena ada penyakit dalam dirinya misalnya diabetes,  mereka tidak bisa melihat. Ada juga orang-orang yang yang sekalipun mempunyai mata yang sehat tetapi ‘tidak  mau melihat sesamanya karena mereka sudah mempunyai prasangka yang jelek terhadapnya.’

Penginjil Lukas menyajikan cerita tentang Yesus yang mengajak Simon, salah seorang kaum Farisi agar melihat seorang perempuan yang dikatakan terkenal seorang yang ‘berdosa.’ Apa dosanya tidak diberitakan secara eksplisit; mungkin ia adalah seorang tunasusila. Rupanya perempuan ini sudah mendengar tentang Yesus yang berkarya untuk siapa saja tanpa membeda-bedakan orang,  yang menerima semua orang, yang mempunyai kuasa Ilahi, yang mengajar dengan kewibawaan dan bisa membuat mujizat-mujizat. Mungkin ia pun mendengar bahwa banyak orang dari pelbagai penjuru datang untuk mendengarkan ajaran Yesus dan Yesus itu menyembuhkan mereka yang sakit atau yang kerasukan setan.

Sesudah mendengar tentang Yesus itu, mungkin perempuan dalam Luk.7:35-50  itu ingin untuk menjumpai-Nya. Karya-karya Yesus yang pernah Ia lakukan membangkitkan imannya sekaligus mendorongnya untuk bertemu dengan Yesus. Dikatakan oleh penginjil Lukas ini bahwa ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah Simon, seorang Farisi, ia datang membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi (Luk.7:37). Pada Luk.7:38 ditulis: “Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.”

Bermodalkan iman dan keberaniannya, rupanya perempuan itu masuk saja rumah Simon itu tanpa meminta ijin; sebab kalau meminta ijin kemungkinan besar ia tidak diijinkan masuk. Ungkapan penginjil ‘menangis’ memperlihatkan bahwa perempuan itu menyadari dosa-dosanya; ia merasa tidak layak berada di hadapan Yesus; cukup baginya berada di belakang Yesus, dekat kaki-Nya. Apa yang dilukiskan penginjil ini pada Luk.7:37 menunjukkan iman dan pertobatan perempuan itu; ia tidak membasahi kaki Yesus dengan air, tetapi dengan air matanya.

‘Rambut’ merupakan salah satu unsur yang amat penting yang turut menentukan kecantikan seorang perempuan. Namun itulah yang dipakainya membasahi kaki Yesus. Lalu, biasanya orang mencium pipi atau kening sebagai tanda kasih, atau mencium bibir bagi pasangan suami-istri sebagai ungkapan cinta. Namun perempuan itu mencium kaki Yesus. Hal itu mengungkapkan ketidaklayakannya berada di hadapan Yesus yang adalahTuhan; ia merasa diri amat kecil dan  hina karena telah berdosa.

‘Kaki’ adalah anggota tubuh yang biasa dipakai untuk berjalan. Yesus menggunakan ‘kaki-Nya’ untuk berjalan, untuk berkarya sebagai seorang misionaris mencari dan menyelamatkan ‘yang hilang’ atau yang berdosa. Karena itu, kedatangan Yesus ke dunia dimaksudkan untuk mencari dan menyelamatkan ‘yang hilang’ seperti perempuan ini. Lalu, ungkapan ‘meminyaki-Nya dengan minyak wangi’ memperlihatkan besarnya cinta dan penghargaan perempuan itu kepada Yesus. ‘Minyak dalam buli-buli’ itu amat mahal; ia memperolehnya lewat kerja keras. Hasil karyanya itu, kini ia persembahkan kepada Yesus.

Namun ungkapan iman, cinta dan pertobatan perempuan itu mendapat tanggapan negatif dari Simon, tuan rumah. Rupanya Simon sudah  mengenal perempuan itu. Karena itu mungkin sekali ketika perempuan itu masuk rumahnya (dan mungkin karena tanpa ijinannya) lalu mengurapi kaki Yesus, ia ‘tidak mau melihat perempuan itu.’  Sikap apriori Simon bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa membuatnya ‘menjauhkan’ pandangannya. Karena itu ia juga meragukan status Yesus sebagai nabi. Kalau Yesus adalah seorang nabi, Dia pasti sudah tahu siapa perempuan itu, dan tidak mau membiarkan diri-Nya didekati perempuan itu dan membiarkan kaki-Nya diurapi (ay.39).

Cerita Yesus tentang dua orang berutang pada seorang pelepas uang (Tuhan) dimaksudkan untuk menyadarkan Simon agar melihat cinta pelepas uang itu; bahwa dia akhirnya membebaskan keduanya dari hutang mereka. Yang lebih mengasihi pelepas uang adalah dia mempunyai hutang lebih besar. Dalam hal ini yang mempunyai hutang lebih besar adalah perempuan itu (Luk.7:41-43). Sekalipun dia berhutang besar (berdosa berat), namun Pelepas uang (Tuhan dalam diri Yesus) tetap mencintainya. Itulah yang membangkitkan dorongan dan tekadnya untuk datang kepada Yesus dan mengungkapkan pertobatannya. Karena itulah, Yesus mengajak Simon agar melihat perempuan itu.

Namun untuk itu, Simon harus terlebih dulu membuang prasangka jelek terhadap perempuan itu; dia harus menerima dan melihat  perempuan itu apa adanya khususnya melihat ungkapan iman, cinta dan pertobatannya. Ia harus terbuka untuk melihat perbuatan baik yang diperlihatkan perempuan itu. Perbuatan baik yang perempuan itu lakukan kepada Yesus (Tuhan) justru itulah yang Simon tidak lakukan sebagai tuan rumah (ay.44-46).

Dalam 2Sam.12:1-7.13, dengan ceritanya, Natan berusaha untuk  menyadarkan raja Daud akan dosa-dosanya dan mengajaknya untuk bertobat. Begitu juga dengan menampilkan cerita dalam Luk.7:41-43 itu, Yesus mengajak Simon agar bermawas diri, menanggalkan keangkuhannya, melihat kekurangan dan dosa-dosanya, lalu bertobat. Dia harus bersikap rendah hati agar dengan hati yang terbuka menerima dan melihat kebaikan perempuan itu. Perempuan itu, lewat ungkapan pertobatannya kepada Yesus memberi contoh bagaimana harus bertobat, dan itulah yang  Simon dan semua orang yang berlagak saleh harus lihat dan lakukan.

Cinta Yesus ditujukan bagi siapa saja, termasuk  bagi orang-orang berdosa atau yang diperlakukan sebagai orang-orang berdosa. Dalam pertobatan perempuan itu, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Pertobatannya diungkapkan lewat tindakan konkrit di kaki Yesus, disaksikan oleh Yesus sendiri dan semua orang yang hadir waktu itu. Itulah penyerahan dirinya secara total kepada Yesus yang Ia percayai sebagai ‘Penyelamatnya.’

Dengan cerita ini, penginjil Lukas mau mengangkat martabat kaum perempuan, kaum lemah dan tidak bersuara yang diwakili perempuan ini. Sekalipun hak dan martabat mereka dalam masyarakat Yahudi yang patriarkat sering dilecehkan oleh kaum pria yang diwakili oleh Simon orang Farisi itu, namun mereka  mempunyai iman, cinta dan menjadi contoh bagaimana bersikap rendah hati untuk mengungkapkan pertobatan.

Perempuan yang tidak bersuara itu  menjadi contoh ‘bagi kaum pria atau siapa yang banyak bersuara’ tetapi yang angkuh, yang menganggap diri saleh, hebat, tetapi sebetulnya juga adalah orang-orang berdosa. Tidak jarang, dengan berlagak saleh dan hebat, ‘kaum yang bersuara’ itu sering berusaha menutup-nutupi dosa-dosa mereka yang sebetulnya  jauh lebih besar daripada yang dilakukan kaum yang tidak bersuara.

Pengampunan Yesus sebetulnya sudah terjadi ketika menyaksikan tindakan perempuan itu. Namun karena adanya reaksi tuan rumah, maka cerita perikop penginjil Lukas ini menjadi lebih panjang. Hal itu dimaksudkan agar menyadarkan Simon dan siapa saja yang menganggap diri saleh dan benar agar bertobat.

Di hadapan Tuhan, semua orang adalah orang-orang berdosa, hina dan rapuh. Karena itu siapa saja harus bertobat agar bisa memperoleh pengampunan-Nya. Sebagai Anak Allah dan Putera Manusia, Yesus berkuasa mengampuni dosa.

Pada akhir perikop ini, Yesus menegaskan kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat. “(Luk.7:50). Penginjil Lukas menampilkan Yesus sebagai tokoh yang menerima perempuan itu dan menghargai ungkapan imannya. Yesus mengampuni perempuan itu karena ia adalah seorang yang beriman dan bertobat.

Mungkin, kita sering bersikap seperti Simon, tuan rumah itu. Lewat renungan ini, kita sekalian diajak untuk membuang prasangka jelek tentang orang lain. Karena ada prasangka jelek,  kita juga menutup pintu hati dan mata untuk menerima dan memandangnya. Kita sering ‘mengelak’ atau memalingkan wajah kita dari orang tertentu apabila kita sudah tidak menyukainya lagi.

Yesus mengajak kita untuk menerimanya dan melihat pribadi orang tersebut apa adanya; lalu berusaha melihat tidak hanya kekurangannya, tetapi terutama kebaikannya. Dengan demikian, pandangan kita terhadapnya bisa berubah: ‘dia tidak sejelek atau sejahat seperti yang saya duga. Dalam dirinya, ada cinta dan kebaikan yang selama ini, saya tidak lihat atau sengaja tidak mau lihat karena keangkuhan saya.’

Karena dosa-dosa kita, maka sebetulnya kita semua adalah orang-orang yang berhutang kepada Tuhan. Namun Tuhan  bersedia menghapus semua hutang kita karena cinta-Nya bagi kita. Dia memperlakukan kita semua secara baik. Dia tidak mengistimewakan seseorang sambil meremehkan atau menghina yang lain. Kita semua sama sebagai orang-orang berdosa di hadapan-Nya. Karena itu, kita pun hendaknya berusaha memperlakukan sesama secara baik. Karena kita semua adalah orang-orang berdosa, maka sudah sepatutnya kita saling menerima dan membantu agar bertobat dan kembali ke jalan hidup yang benar. Kita hendaknya berusaha  menghargai dan mengangkat martabat sesama yang diwakili perempuan dalam cerita injil Lukas ini yang sering diperlakukan tidak manusiawi; melihat sisi kebaikannya, menghargainya dan mencontohi  ketekadannya untuk bertobat.

Kalau Simon dan orang-orang yang berlagak saleh tidak menghargai martabat kita seperti  yang dialami oleh perempuan itu, mungkin sekali kita pun tidak terima. Kalau begitu, ‘apa yang kita tidak kehendaki orang lain perbuat terhadap kita, jangan kita lakukan terhadap mereka.’ Mari kita mencontohi Yesus. Kalau orang Farisi itu ‘menutup pintu hati dan matanya’ untuk melihat perempuan itu, maka Yesus justru membuka pintu hati dan mata-Nya untuk melihat kita apa adanya. Kalau orang Farisi itu menolak perempuan itu, Yesus justru menerima kita dengan penuh cinta. Kita hendaknya berusaha membuang kemunafikan kita.

Di hadapan Tuhan, kita harus dengan terus terang mengakui dosa-dosa kita, agar kita bisa memperoleh pengampunan-Nya. Keterusterangan dan kejujuran kita mengakui dosa-dosa kita dan sesudah itu berjuang untuk menampilkan kebaikan bagi Tuhan dan sesama, membuat kita disapa seperti yang dikatakan Pemazmur, ‘orang-orang yang berbahagia.’ (Mzm.32:1-2) atau seperti yang diungkapkan oleh rasul Paulus, ‘orang-orang yang dibenarkan.’ (Gal.2:16), maksudnya orang-orang yang diselamatkan Tuhan. ‘Iman’ merupakan Rahmat Tuhan bagi kita dan kita berusaha menghayati dan mengamalkannya dalam relasi kita dengan sesama khususnya dengan mereka yang selama ini dipandang ‘jelek dan dikucilkan’ dari pergaulan.

Kita  hendaknya belajar dari  Yesus bagaimana harus mencintai sesama, menerima mereka apa adanya; tidak melulu melihat kekurangan, tetapi terutama kebaikannya. Marilah kita bertobat, karena ‘mungkin selama ini kita lebih sering dan lebih cenderung melihat kekurangan  sesama dan tidak mau melihat kebaikan dan kemauan mereka untuk kembali ke jalan hidup yang benar.’

sumber foto: https://catatanseorangofs.files.wordpress.com/2016/06/annointing-the-feet-of-jesus.jpg?w=242&h=300

https://adhartadotcom.files.wordpress.com/2013/11/1335321950709016220.jpg

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *