Dosen, Formator, Konfrater-Superior Jenderal SVD: Catatan Tentang Pater Paul Budi Kleden SVD

Pater Georg Kirchberger SVD: Dosen STFK Ledalero *

 

Ketika Pater Paul Budi Kleden pada tahun 2012 dipilih menjadi anggota Dewan Jenderal SVD di Roma dan dengan demikian tidak bisa lagi tinggal di Ledalero dan bertugas pada STFK Ledalero, saya merasa sangat terpukul. Pada waktu itu saya kirim e-mail untuk dia dan mengatakan bahwa saya tidak bisa mengucapkan profisiat atas keterpilihan itu, karena rugi bagi Seminari dan Sekolah Tinggi Ledalero terlalu besar.

Pada waktu itu ada banyak orang yang mengatakan bahwa STFK bisa saja mencari dosen tamu yang akan mengisi kuliah yang diberikan Pater Budi. Tetapi kemungkinan ini tidak bisa menghibur saya. Seorang dosen tamu hanya datang untuk memberikan kuliah. Biarpun dari segi bahan apa yang diberikan dosen tamu sebanding dengan mutu kuliahnya Pater Budi, masih ada banyak faktor lain yang tidak bisa diisi oleh seorang dosen tamu.

Seorang dosen tamu tidak turut mengembangkan lembaga, sementara Budi dengan sangat baik melibatkan diri untuk mencari jalan dan cara guna mengembangkan dan memperbaiki STFK sebagai lembaga.

Tetapi juga dari segi bahan, Budi tidak gampang diganti, ia sungguh seorang dosen yang dengan sangat baik mendalami bidang yang ia geluti dan bisa menyajikan hasil penelitiannya dengan jernih dan atas cara yang bisa diikuti para mahasiswa. Terlepas dari bahan yang agak pasti tidak sebanding, seorang dosen tamu tidak turut mengembangkan lembaga, sementara Budi dengan sangat baik melibatkan diri untuk mencari jalan dan cara guna mengembangkan dan memperbaiki STFK sebagai lembaga.

Selain itu para mahasiswa butuhkan orang dalam staf yang menjadi contoh dan inspirasi, juga yang membuat mereka merasa bangga atas almamater mereka. Dan Pater Budi sungguh bisa memberikan inspirasi, selalu ada frater yang turut serta dalam pelbagai proyek dan penelitian yang ia kerjakan. Budi sangat baik untuk mengembangkan dan mendukung frater yang lebih baik secara intelektual dan hal itu sangat penting untuk masa depan lembaga, agar ada tamatan yang kemudian menjadi lagi staf yang bisa menggairahkan generasi berikut nanti.

Juga sebagai contoh dan panutan ia sangat cocok, karena ia sangat dekat dengan para frater. Sering ia turut main basket bersama mereka, juga secara tetap tiap hari makan di kamar makan dari salah satu unit, sehingga dalam waktu dekat ia tahu nama dari setiap frater SVD (mengenai para mahasiswa lain saya tidak cukup tahu, apakah dia mengenal mereka). Karena Pater Budi sangat mahir dalam bidang teologi, dia sering diundang untuk membawakan ceramah atau menulis pengantar bagi terbitan tertentu dan turut serta dalam kegiatan seminar. Sejumlah artikel yang ia menulis bagi pelbagai kesempatan macam ini, diterbitkan oleh Penerbit Ledalero dengan judul “Teologi Terlibat”, karena itu yang terjadi dalam karya Pater Budi, bahwa ia tanggapi pelbagai hal dan situasi dari segi teologi dan ia menjadi sangat diakui dan terpandang dalam bidang teologi. Cukup lama ia menulis setiap hari Sabtu Opini dalam harian “Pos Kupang” yang digemari banyak pembaca. Dengan cara demikian, ia menjalankan tugas pelayanan masyarakat dalam tridharma perguruan tinggi, tetapi sekaligus peran publik macam ini juga turut membuat para mahasiswa bangga atas dosen dan alma mater mereka dan itu sangat penting, agar mereka sendiri juga dimotivasi untuk bekerja keras dan berusaha sungguh-sungguh guna menjamin mutu perguruan di mana mereka kuliah.

Maka bisa dikatakan sebagai, Budi menjadi sekaligus formator, karena kedua aspek ini tidak bisa dipisahkan satu dari yang lain. Formator harus membentuk para formandi melalui gaya hidup dan melalui karakter dan kepribadian yang ia miliki, juga melalui prestasinya dalam bidang yang ia geluti seturut profesinya. Dalam arti demikian Pater Budi turut membentuk STFK Ledalero sebagai dosen yang kompeten dan tetap mengembangkan keterampilan dan kemampuannya dan sebagai dosen yang kompeten dan berbakat, ia menjadi formator yang membentuk dan mengembangkan para formandi melalui gaya hidup dan cara kerjanya.

Tetapi baru-baru ini Pater Budi Kleden dipilih menjadi pemimpin umum Serikat Sabda Allah, bukan karena ia dosen yang kompeten dan formator yang andal, tetapi karena ia seorang anggota SVD, seorang konfrater yang meyakinkan banyak konfrater lain dan menjadi unsur positif dalam setiap komunitas. Pater Budi tahu menjalin relasi, memberikan perhatian bagi setiap konfrater, tidak membentuk kelompok tandingan dan tidak membawa perselisihan ke dalam suatu komunitas. Ia lembut dan dengan senyum ia bisa meredahkan gelombang emosi yang barangkali mengganas dalam suatu kelompok.

Saya juga beruntung, bahwa saya bisa memiliki hubungan pribadi yang lumayan akrab dengan Pater Budi. Mungkin karena beberapa kali saya kebetulan dekat, bila ia memasuki tahap baru dalam perkembangannya. Ketika ia sebagai frater di Ledalero, cukup cepat saya menjadi sadar, bahwa ia mahasiswa brillan dan mempunyai bakat luar biasa, sehingga bersama dia menerjemahkan beberapa artikel yang kemudian bisa digunakan di Ledalero sebagai bahan wajib bagi mahasiswa lain.

Ketika Pater Budi bersama Ferdi Rajutuga ke Austria untuk melanjutkan kuliah di situ pada tahun 1988, saya kebetulan di Sankt Gabriel ketika mereka tiba dan bisa turut menjemput mereka di bandara Wina di Schwechat. Selama Pater Budi menjalankan praktik pastoral di suatu paroki di Swiss, saya juga sempat mengunjungi dia ketika saya cuti. Dan ketika dia menyelesaikan studi doktoratnya di Freiburg, di Jerman dan mesti menyiapkan disertasinya untuk diterbitkan, saya untuk beberapa semester di Sankt Augustin, di Jerman dan bisa membantu pada urusan itu. Juga ketika dewan jenderal, di mana Budi anggotanya, memulai tugasnya pada tahun 2012, saya lagi kebetulan di Roma. Sebab itu, sejak Pater Budi tinggal di Roma, setiap kali ia ke Ledalero, sudah pasti ia juga mengunjungi saya yang tinggal di salah satu unit luar dari Ledalero.

Selama ia sebagai anggota Dewan Jenderal SVD, Pater Budi mesti mengunjungi banyak provinsi di seluruh dunia, saya secara khusus mengalami dia dalam visitasinya pada Provinsi Jerman dan saya tidak temukan satupun konfrater dalam provinsi itu yang tidak entusias karena caranya Pater Budi bisa mendengarkan pendapat konfrater, bisa mempertajam problem yang dihadapi dan bisa mulai menunjuk jalan keluar yang barangkali bisa ditempuh.

Karena banyak konfrater mengalami Pater Budi dengan cara demikian sebagai konfrater dan pemimpin dan sangat positif dan membantu, maka tidak usah heran bahwa baru-baru ini dalam Kapitel General yang sedang dilangsungkan di Nemi, dekat Roma, para utusan dari SVD  sejagad memilih Pater Paul Budi Kleden sebagai Pemimpin Umum Serikat Sabda Allah untuk enam tahun yang akan datang. Saya yakin, Indonesia bisa bangga dengan pemimpin yang mereka sumbangkan bagi SVD sejagat dalam diri Pater Paul Budi Kleden. Maka sambil rasa sedih karena rugi besar yang diderita Seminari Tinggi dan Sekolah Tinggi Ledalero, saya gembira juga, karena SVD mendapat seorang pemimpin yang sangat potensial dalam diri sama saudara kita dari Indonesia. (Artikel ini terbit di Flores Pos edisi Rabu 11 Juli 2018)

*Pater  Georg Kirchberger SVD telah mengajar Teologi di Ledalero sejak tahun 1975.  Ia lahir pada tanggal 27 Mei 1947 di Kastl, Jerman. Pada tahun 1985, ia memperoleh gelar doktor dalam bidang Teologi dari St. Augustin Jerman yang berafiliasi pada Pontificium Athenaeum St. Anselmi de Urbe, Roma, dengan judul disertasi: Neue Dienste und Gemeindestrukturen in der katholischen Kirche Indonesiesns. Di kalangan para mahasiswa, Pater Georg Kirchberger SVD sering disapa “Tuan Kirch”. Tuan Kirch adalah salah satu dosen yang menginisiasi berdirinya penerbit Ledalero. Mula-mula  P. Georg Kirchberger, SVD berkeinginan untuk menjadikan biro penerbitan LPBAJ yang sedang ditanganinya menjadi sebuah penerbit berbadan hukum yang dikelolah dalam skala yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak orang. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, dibentuklah sebuah tim kecil yang terdiri atas P. Georg Kirchberger, SVD, P. Hendrik Dori, SVD (alm.), P. Philipus Tule, SVD dan P. Paulus Budi Kleden, SVD yang bertugas mendesign dan memikirkan  kebutuhan ini. Setelah melewati berbagai pembahasan yang panjang, Tim ini kemudian bersepakat untuk membentuk sebuah penerbit dengan menggabungkan biro penerbitan LPBAJ menjadi sebuah penerbit baru berbadan hukum yang diberi nama Penerbit Sang Sabda yang kemudian berubah nama menjadi Penerbit Ledalero.