Cerpen Tiga Paragraf: Kotak APP yang Dinamai

Antonina Yunita Dewi Suryantari

Wajahnya berkilat karena minyak dan keringat. Uang kertas yang kusut berjejal-jejal di kantong lusuhnya berlomba keluar ketika dia menumpahkan isinya ke lantai. Dirapikannya lembaran-lembaran itu, disisihkannya berdasarkan nilainya. Ada duapuluh duaribuan, sepuluh limaribuan, dan uang koin yang belum dihitung. Dia mulai menghitung koin-koin itu. Seluruh uangnya ada sembilan puluh delapan ribu lima ratus rupiah. Tadi ada orungtua murid yang tidak mau diberi kembalian.

Dia tersenyum. Ini jelas lebih banyak dari kemarin. Matahari di luar bersinar terik. Mbah Ijem merambat ke kantong-kantong plastik makanan yang berdesakan di gubuk sempitnya. Dia menyalakan lilin kecil, mengambil plastik-plastik yang lebih kecil dan mulai membungkus makanan-makanan kering itu. Dia tidak bisa membungkus banyak-banyak. Matanya gampang lelah, lagipula dia tidak pernah mampu membeli banyak makanan kecil.

Empat puluh kantong. Puji Tuhan batin Mbah Ijem. Dia merambat lagi ke meja di sudut gubug. Diambilnya kotak APP di sana. Ada nama Mbah Ijem di bagian depan kotak itu. Dimasukkannya sepuluh limaribuan yang dia dapat hari itu, juga koin-koin yang tadi dihitungnya. Sepuluh duaribuan yang lain dia masukkan ke kotak lain. Dia menggenggam duapuluhribuan yang lain dan merambat lagi ke warung sebelah membeli beras. Mbah Ijem masih tersenyum. Bahagianya tak terkira. Tahun ini bisa memberi lebih banyak untuk APP untuk Tuhan dan sesama. Tahun lalu suaminya sakit. Tak ada uang sisa. Pak Ketua Lingkungan mengomel karena kotaknya kosong. Mbah Ijem malu saat isi kotak dihitung di depan umat lingkungan, dia malu pada umat lain terlebih lagi pada Tuhan. Tahun ini, Paskahnya pasti akan sangat indah. (Antonina Yunita Dewi Suryantari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *