Cara Orang Jepang Menerima Tamu

chris

Saya baru pulang mengantar komuni untuk umat yang sakit dan ada kisah yang sangat menarik,” demikian Br. Chris Riberu, SVD, misionaris Indonesia, asal Ende-Lio-Flores, yang berkaria di Nagasaki, Jepang, mengawali kisahnya pada hari Sabtu 20 Februari 2016.

“Ketika tiba di rumah umat yang hendak kami bagikan komuni, rekan awam yang mendampingi saya menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami kepada tuan rumah. Mendengar penjelasan itu, pintu rumah dibuka. Seorang ibu yang sudah cukup berumur mempersilahkan kami masuk. Kelihatan ia baru saja bangun tidur.“

Dalam tradisi orang Jepang, jika di rumah tidak disiapkan bel, tamu harus mengetuk pintu rumah mereka. Tamu hanya boleh mengetuk dua kali dan tidak lebih dari itu. Jika ketukan itu tidak terdengar, baru tamu mengetuk lagi. Hal ini sudah menjadi tata krama masyarakat di Jepang. Selain itu alas kaki harus diletakkan dengan rapi. “Biasanya nyonya di rumah itu akan mengatur kembali letak alas kaki itu dengan arah keluar rumah sehingga ketika keluar dari rumah, tamu tidak kesulitan menggunakan alas kaki,” Br. Chris Riberu, SVD menambahkan.

Dalam kunjungannya pada hari Sabtu 20/02/2016, Br.Chris Riberu, SVD tersentak kaget ketika ibu pemilik rumah dengan nada agak kesal berkomentar, “Kalian datang lebih cepat dari jadwal yang sudah kita sepakati. Kemarinkan kita sudah telpon bahwa jam 10.30 baru kalian datang.”

Br Chris Riberu, SVD dan rekannya tahu bahwa mereka sudah datang lebih awal dan tentu saja tuan rumah agak kewalahan. “Kami harus meminta maaf karena harus datang lebih cepat dari jadwal yang sudah disepakati karena tiga orang yang kami sebelumnya ternyata jarak rumah mereka dekat sehingga tidak butuh banyak waktu.“ Orang Jepang memang sangat menghargai tamu yang datang sehingga ketika tamu tidak datang sesuai jadwal yang sudah disepakati ruan rumah merasa kurang nyaman, hal ini berkaitan dengan hal-hal yang harus mereka persiapkan.

Sesudah mendengar penjelasan Br. Chris Riberu, SVD, si pemilik rumah mulai membereskan segala sesuatu termasuk memberikan uang gereja yang tertunda beberapa bulan. Ia juga mengatur tempat tidur suaminya dan membantu suaminya agar bisa duduk dengan baik agar bisa menerima komuni.

“Kami mengajaknya agar bisa menyiapkan diri untuk berdoa. Kami juga memilih untuk duduk saja di lantai biar lebih dekat dengan suaminya.“ Tindakan Br. Chris Riberu, SVD dan temannya justru membuat sang ibu makin merasa tidak tenang. Spontan sang ibu menegur, “Sebentar saya ambilkan kursi.” Br. Chris Riberu, SVD dan rekannya malah mengajak sang ibu untuk mulai berdoa. “Saya katakan kepadanya biar tidak usah repot-repot mari kita siapkan hati untuk berdoa.” Sang ibu justru merasa lebih tidak nyaman lagi melihat Bruder dan dua rekan awamnya duduk di lantai. Melihat ketidaknyamanan sang ibu, rekan awam Yama Moto mengajukan pertanyaan kepada sang ibu, “Kamu tahu Yesus lahir di mana?” “Yesus lahir di kandang, ” jawab sang ibu. “Kenapa kamu begitu sibuk mengatur tempat duduk?” Pertanyaan Yama Moto membuat sang ibu lebih tenang. Bruder Chris Riberu, SVD lalu memimpin doa dan membagikan komuni Suci kepada si ibu dan suaminya.

Bagaimanapun juga pengalaman ini tidak menyurutkan semangat bermisi Br. Chris Riberu, SVD. Ia malah bersyukur karena ia belajar hal yang baru. Ia kembali ke biara dan menggali lebih banyak cerita tentang tradisi orang Jepang, termasuk cara mereka berrelasi, cara mereka membangun keakraban, cara mereka mengasihi, cara mereka mempererat tali persahabatan. Untuk pengalaman hari ini, Bruder tanamkan dalam diri bahwa untuk setiap perubahan jadwal yang mungkin bisa terjadi sewaktu-waktu, komunikasi menjadi hal yang penting biar tuan rumah mempersiapkan lebih terlebih dahulu dan merasa nyaman dengan kedatangan tamu. (Bill)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *