Bertobat Demi Kesejahteraan Dan Kebahagiaan Bersama (Renungan untuk hari Minggu, 28 Februari 2016)

(Renungan untuk hari Minggu, 28 Februari 2016)

Oleh: P.Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalerotobat

Lemahnya iman  seseorang menjadi dasar kejatuhannya  ke dalam godaan setan/iblis. Hal itu akan nyata juga apabila  ‘kejatuhannya’  terbongkar dan diketahui orang:  ia tidak mau dan tidak jujur mengakuinya  serta tidak bersedia untuk bertanggung  jawab. Ia berusaha membela diri dan mempersalahkan orang-orang lain.

Hal-hal tersebut dilakukan Adam dan istrinya Hawa (3:1-24).  Mereka begitu terpukau oleh godaan ular (iblis) bahwa  hanya dengan memakan buah  terlarang itu, mereka akan menjadi seperti Allah….”Bagaimana mungkin keduanya yang adalah ciptaan biasa yang lemah dan rapuh – hanya dengan memakan buah pohon  itu, lalu  menjadi seperti Allah….a.l, menjadi Mahakuasa ?” (Kej.3:4-5; 2:16-17). Iblis menawarkan jalan yang amat mudah untuk memperoleh status yang amat luhur tanpa perjuangan sedikit pun. Mereka sudah tahu larangan Tuhan, namun dengan tahu dan mau melanggarnya hanya karena tergiur oleh rayuan iblis. Dasar utama kejatuhan mereka  adalah ketidaksetiaan iman, dan karena itu juga mereka tidak taat kepada Allah. Mereka tidak puas  dengan statusnya sebagai ciptaan, dan bersyukur atasnya, tetapi  ‘mau secepat mungkin menjadi seperti Tuhan, Penciptanya sendiri.’

Sesudah mereka sadar bahwa mereka berdosa dan ketika diminta pertanggungan jawab oleh Tuhan, mereka takut, tidak jujur  mengakui kesalahan dan mempersalahkan pihak lain. Adam mempersalahkan Hawa dan Hawa mempersalahkan ular (iblis). Kalau diteliti jawaban mereka secara cermat, maka kita akan menemukan bahwa keduanya secara tidak langsung mempersalahlan Tuhan sebagai pencipta peluang bagi kejatuhan (Kej.3:12.13; 1:24). Bagaimana mungkin Tuhan yang Mahacinta dan Mahabaik terlibat dalam dosa yang dilakukan keduanya ?  Seperti Adam dan istrinya Hawa, kita pun sering berlaku  demikian.

Kita diajak untuk bertobat. Perumpamaan Yesus tentang pohon ara yang tidak berbuah berkaitan dengan peristiwa historis, di mana Pilatus mencampur darah orang-orang Galilea dengan darah korban persembahan mereka (Luk.13:1-5). “Apakah mereka yang dibunuh itu adalah orang-orang berdosa yang sudah sewajarnya mendapat hukuman Tuhan ?” Yesus menjawab : ‘tidak.’ Jawaban-Nya sekaligus peringatan-Nya kepada para pendengarnya adalah: ‘Bertobatlah atau kamu juga akan binasa.’ “Atau, sangkamu kedelapan belas  orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan orang-orang lain yang berdiam di Yerusalem ?” Sekali lagi jawaban Yesus: ‘tidak.’ Ia mengajak mereka semua agar bertobat lewat perumpaan tentang pohon ara.

Israel  sering dilambangkan dengan pohon ara yang tumbuh di dalam kebun anggur Tuhan  yang adalah dunia ini. Sebagai bangsa pilihan Tuhan, Israel mempunyai hak istimewa untuk memperoleh keselamatan. Namun hak ini harus diimbangi dengan tanggung jawab mereka,  yaitu bagaimana mereka  harus mewujudkan iman mereka  sebagai bangsa pilihan  di antara bangsa-bangsa lain  lewat contoh-contoh hidup yang baik dan menarik. Namun sering mereka  gagal. Sekalipun demikian mereka masih diberi waktu oleh Tuhan untuk bertobat dan menghasilkan buah-buah pertobatan yang baik (Luk.13:6-9). Mereka harus sungguh-sungguh menggunakan kesempatan itu; kalau tidak, mereka akan dihukum.

“Tuhan  itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya” (Mzm.145:8). Kita adalah ‘Israel-Israel’ atau  ‘pohon-pohon ara yang baru’. Kepada kita Tuhan memberi  kesempatan untuk bertobat dan menghasilkan buah-buah pertobatan yang baik. Karena itu hendaknya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan   itu.  Kalau tidak demikian, maka kita pun akan mendapat hukuman-Nya.

Masa Prapaskah merupakan masa yang tepat bagi kita untuk bertobat. Untuk itu, belajar dari Adam dan Hawa, kita hendaknya setia memelihara iman kita kepada Tuhan. Iman kita hendaknya kuat agar mudah mengalahkan  setiap bentuk cobaan atau godaan dalam hidup. Godaan itu  misalnya mau memperoleh uang yang banyak lewat mencuri, melakukan korupsi, menggunakan kuasa untuk kepentingan pribadi, melakukan perselingkuhan,dll. Iman dipelihara lewat kesetiaan berdoa kepada Tuhan, mengenal Dia dan kehendak-Nya yang harus dihayati lewat ketekunan membaca dan merenungkan Sabda-Nya dalam Kitab Suci serta mempersatukan diri kita dengan Dia dalam perayaan Ekaristi.  Kita diajak untuk hidup saleh. Namun, kesalehan itu tidak hanya berkaitan dengan relasi pribadi kita dengan Tuhan, tetapi bagaimana mewujudkan kesalehan itu dalam perbuatan-perbuatan baik kepada sesama.

Iman kita kepada Tuhan itu akan menjadi semakin mendalam apabila kita pun terbuka untuk belajar dari sesama, mulai dari dalam keluarga kita masing-masing. Semua anggota keluarga akan semakin terbantu memperdalam imannya kepada Tuhan apabila ada keharmonisan relasi di antara mereka, ada cinta yang ikhlas, ada kesediaan untuk  saling memberi-menerima, mengampuni dan memperkaya satu sama lain. Dalam suasana yang harmonis  seperti itu, setiap orang akan tampil apa adanya, ‘tidak bertopeng’ atau ‘tidak munafik’. Dia akan  terbantu untuk bersikap jujur. Dia  percaya bahwa Tuhan yang  Mahatahu  itu  mengetahui  semua  pikiran, rencana dan perbuatan-perbuatannya termasuk apa yang ia sembunyikan. Di hadapan Tuhan, ia tidak bisa berbohong (Mzm.90:8; 139).

Orang yang setia-beriman  akan berusaha  untuk selalu berbuat baik karena sadar bahwa dia bisa hidup di dunia ini karena sudah menikmati cinta Tuhan lewat orangtua, sanak-saudara/i atau sesama  yang dengan caranya masing-masing telah mewujudkan kebaikan Tuhan.  Dia  bersyukur atas kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya. Baginya, hidup merupakan suatu perjuangan: Ia harus berdoa dan bekerja. Dengan bantuan Tuhan yang ia jumpai dalam doa, ia akan bekerja  lewat cara-cara yang halal untuk memperoleh rejeki, dan dari hasil karyanya itu ia mau ‘memberi’  kepada sesama  yang menderita. Ia tidak mau mencuri  atau melakukan korupsi. Ia  tegas menolak segala yang jahat dan melakukan yang baik.

Apabila orang beriman ini  menderita, ia tetap percaya bahwa Tuhan itu adalah Allah Mahabaik dan daripada-Nya datang segala kebaikan. Baginya,segala yang jahat datang dari manusia yang tidak setia beriman, yang egois dan tidak mau bertobat. Penderitaannya (misalnya apabila ia sakit) menyadarkannya untuk lebih setia beriman pada Tuhan, lebih memurnikan cintanya, memohon belaskasihan, dan pengampunan Tuhan, lalu ia pun bertobat. Ia tidak akan mempersalahkan orang lain yang sebetulnya tidak bersalah. Dia akan berani, jujur dan berterus terang mengakui kesalahannya itu; dan kalau karena kesalahannya itu orang lain dirugikan, maka ia bersedia untuk bertanggung jawab.

Orang beriman seperti ini akan berusaha untuk  tidak membalas dendam; ia berjuang untuk mengalahkan kejelekan  (kejahatan)  sesama  dengan kebaikannya (Rm.12:21). Ia akan berusaha membahagikan sesama (keluarga), sekalipun untuk itu, ia harus berkorban. Ia akan berbahagia apabila menyaksikan mereka berada dalam kebahagiaan. Ia akan membantu mereka dengan keikhlasan hati apabila mereka menderita.

Lewat pelbagai macam cara, kita bisa mengajak orang lain untuk bertobat, tetapi alangkah baiknya, apabila pertobatan itu bermula dari diri kita sendiri. Dalam masa Prapaskah ini, hendaknya kita terlebih dulu mawas diri dan mengoreksi diri kita, karena  mungkin sekali kesalahan kita jauh lebih besar daripada kesalahan orang lain.

Yesus, Tuhan kita itu amat baik. Dia mendambakan agar kita semua berbahagia dan memperoleh keselamatan. Untuk itu, sebagai pengikut-pengikut-Nya kita diajak untuk bertobat. Hendaknya kita berusaha  meninggalkan kejelekan kita dan  menjadi ‘lebih baik.’  Namun hal itu  hendaknya dilaksanakan atas dasar kesadaran, didorong oleh iman dan cinta yang tulus. Mari kita mewujudkan pertobatan kita lewat perbuatan-perbuatan yang baik demi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. (baca-Renungan Minggu ‘Menerima kembali’)

Ledalero, Flores, NTT.

Sumber foto: https://bless4bliss.files.wordpress.com/2011/04/bertobat.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *