Berkat Untuk Mas Dani, Si Tukang Ojek

Pagi itu, 28 Agustus 2014. Waktu sudah sangatPater Lukas
mepet untuk berangkat kuliah (di kampus Uiversitas Negeri Yogyakarta) sehingga saya memutuskan untuk menggunakan jasa tukang ojek. Biasanya trans Jogja menjadi langganan wajib saya ke kampus, selain karena murah, saya sendiripun masih menyimpan trauma ketika harus mengendarai sepeda motor.

Terkenang dulu saat masih menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di SMA Pancasila Borong, Manggarai-Flores, saya pernah ‘jatuh’ saat sedang berlatih mengendarai sepeda motor. Pengalaman itu masih segar dalam ingatan. Tetapi karena situasi dan kondisi, pagi ini saya nekat menggunakan jasa tukang ojek.

Setelah sepakat soal harga, berangkatlah kami ke kampus. Pagi itu kendaraan sangat ramai. Banyak orang terburu-buru saat harus berangkat kerja, sekolah dan kuliah. Jangan heran kalau ada sekian banyak kendaraan yang menyerobot lampu merah dan sebagainya. Tak ketinggalan si tukang ojek ini. Perempatan pertama ketika lampu merah, dia menyerobot. Saya memperingatkannya tapi ia tak menggubris. Ketika tiba di perempatan, depan UIN (Universitas Islam Negeri), saat lampu merah menyala, beliau tetap saja menyerobot. Dalam hati saya berkata, “Bapa. Kalau mau mati, mati sendirian saja jangan bawa saya.”

Rupanya “kenakalan sang ojek” diketahui polantas pagi itu. Kami dibuntuti dari belakang dan ketika sang polantas mendekat ia menyuruh kami berhenti di pinggir jalan. Si tukang ojek dimarahi, diambil SIM dan STNKnya kemudian disuruh untuk bertemu polisi di pos polisi setelah mengantar saya ke kampus. Rupanya insiden itu membuat suasana yang awalnya tidak begitu akrab antara saya dan si tukang ojek, kini menjadi cair. Si Tukang ojek mulai menanyakan asal, tempat tinggal dan sebagainya. Pembicaraan mulai hangat dan akrab. Beliau kemudian menceritakan kehidupan keluarganya.

“Bapa biasanya kalo hari jumat sholat di mana?,” Ia menjawab, “Saya Sholat hari Minggu dan saya bangga telah ditebus dengan darah Kristus,” jawab si tukang ojek. Jawaban yang mengejutkan, pikirku sebelumya dia seorang muslim, dan kalau berbicara tentang muslim pasti banyak hal bisa kami bahas karena cukup banyak teman saya di kampus yang juga muslim.

Mas Dani, demikian nama si tukang ojek itu mulai berbicara panjang lebar tentang pekerjaannya dan keaktifannya di gereja. Sempat juga ia menceritakan keluarga-keluarganya yang merantau di Papua, Kalimantan dan NTT. Selanjutnya saya mengingatkannya untuk lebih berhati-hati di jalanan, tata dan tertib lalu lintas harus diperhatikan.

Hampir tidak terasa kami sudah tiba di kampus. Saya turun kemudian memberikan uang lebih besar dari kesepakatan harga ojek dengan maksud supaya ia dapat menebus kesalahan dan bisa mengambil kembali SIM dan STNKnya. Ketika melihat uang itu ia heran dan sepertinya ia tidak mau menerima.

“Bapa ini hak bapa sebagai jasa ojek dan juga tebusan atas kesalahan kita berdua karena sudah melanggar aturan lalu lintas.” Untuk meyakinkan dia supaya bisa menerima uang itu saya memperkenalkan diri sebagai seorang imam. Spontan ia memegang tangan saya dan mengatakan, “Romo…berkat aku, supaya aku selalu aman di jalan dan taat aturan.” Saya kaget. Mana mungkin bisa memberi berkat di depan kampus, dekat jalanan yang ramai seperti ini? Tetapi setelah merenung saya akhirnya menyanggupi permintaannya. Kami berdua bergerak ke pinggir jalan dan saya memberkatinya. Sekali lagi saya memberikan uang jasa ojek itu tapi tiba-tiba ia tancap gas dan pergi setelah mengucapkan, matur nuwun.

Iya.. tukang ojek..Di antara tuntutan hidup yang keras, kadang-kadang ia terpaksa melanggar aturan demi mengejar setoran, demi perut tapi masih menolak upah kerja dan malah meminta berkat. Dalam hati saya berdoa Semoga berkat Tuhan senantiasa diturunkan berlimpah-limpah kepadanya. Salam satu hati. (Pastor Lukas Uran, SVD)