Belajar Dari Orang Samaria-Melaksanakan Hukum Kasih

images

Oleh P. Alfons Betan SVD

(Renungan untuk hari Minggu Biasa XV, 10 Juli 2016)

Bacaan: Ul.30:10-14; Mzm.69:14,17,30-37 atau Mzm.19:8-11; Kol.1:15-20; Luk.10:25-37

Agak mudah mengasihi sesama yang dekat secara emosional dengan kita, namun mengasihi sesama yang tidak seperti itu, misalnya yang tidak sekeluarga, tidak sedaerah, tidak sebangsa atau yang tidak mencintai bahkan yang memusuhi kita merupakan hal yang tidak mudah untuk dilaksanakan.

Penginjil Lukas menyajikan cerita tentang dialog antara seorang ahli Taurat dan Yesus tentang mengasihi sesama sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kehidupan kekal (Luk.10:25-37). Sebelum perikop ini, penginjil ini menyajikan perikop tentang doa  syukur Yesus (Luk.10:21-24). Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya karena rahasia cinta-Nya yang Ia sembunyikan bagi orang-orang bijak dan pandai tetapi Ia nyatakan kepada kaum kecil (Luk.10:21).

Sesudah perikop ini (Luk.10:38-42), Lukas menampilkan cerita tentang kunjungan Yesus ke rumah Marta dan Maria. Ia memberi perhatian besar kepada kaum perempuan yang dalam perspektif injil Lukas merupakan salah satu kaum kecil atau kaum pinggiran dalam masyarakat. Luk.10:21-24 dan Luk.10:38-42 juga berbicara mengenai kasih Allah yang dilaksanakan oleh Yesus.

Dalam Luk.10:25-28 kelihatan bahwa dialog itu diawali dengan pertanyaan ahli Taurat kepada Yesus tentang apa yang harus ia perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal (ay.25). Mendengar pertanyaan itu, Yesus tidak secara langsung memberi jawaban, tetapi mempersilahkan dia untuk mengungkapkan apa yang dia sudah ketahui berdasarkan apa yang ia sudah baca dalam hukum Taurat (ay.26).

Ayat 27 memperlihatkan jawabannya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Di sini, kelihatan ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, namun pada akhirnya dia sendirilah yang menjawabnya.

Luk.10:25 memperlihatkan bahwa pertanyaan yang disampaikan oleh ahli Taurat itu bukan dengan motivasi yang murni tetapi hanya untuk mencobai Yesus. Rupanya Yesus sudah mengetahui hal tersebut. Karena itu, kita lihat bahwa dengan memberi kesempatan kepada ahli Taurat untuk mengungkapan apa yang ia ketahui dari hukum Taurat, Yesus  memberi kesempatan kepadanya agar bermawas diri dan memperbaiki motivasinya dalam berdialog dengan orang lain. Jangan sampai ia menggali lubang bagi orang lain, namun  pada akhirnya ia sendirilah yang terperosok ke dalamnya.

Sesudah mendengar jawaban ahli Taurat itu, Yesus memberi afirmasi bahwa jawabannya itu benar, dan menegaskan bahwa jawabannya yang benar itu harus ia lanjutkan dalam perbuatan. Hanya dengan demikian ia bisa memperoleh hidup yang kekal (ay.28.25). Hukum kasih tidak hanya berada pada level pengetahuan saja, tetapi harus dilaksanakan dalam perbuatan-perbuatan nyata bagi keselamatan atau kebahagiaan sesama (bdk.Ul.30:14).

Setelah mendengar penegasan Yesus, nampaknya ahli Taurat itu belum merasa puas. Ia ingin memperoleh afirmasi lagi dari Yesus bahwa apa yang ia ketahui tentang hukum kasih terhadap sesama  dan mungkin yang sudah ia laksanakan itu benar. Penginjil Lukas menulis bahwa “tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia ?” (ay.29). Yesus tidak secara langsung memberi jawaban atas pertanyaannya. Ia bercerita tentang orang Samaria yang murah hati (ay.30-35).

Dalam cerita  itu, penginjil Lukas menampilkan seorang yang turun dari Yerusalem menuju Yerikho. Dalam perjalanan itu ia dirampok oleh para penyamun. Mereka memukulnya dan meninggalkannya setengah mati (ay.30). Lalu, seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihatnya tetapi tidak membantu. Kemudian muncul seorang Lewi; ia datang ke tempat itu; ia pun melihatnya namun tidak menolongnya. Lalu, datanglah seorang Samaria; ketika ia melihat korban itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

Ungkapan ‘tergeraklah hatinya oleh belas kasihan’ tidak diperlihatkan baik oleh imam maupun oleh orang Lewi. Terdorong oleh belas kasihannya, orang Samaria itu pergi kepada korban perampokan, membalut luka-lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.

Berhadapan dengan ahli Taurat yang mempelajari secara khusus Taurat Musa dan dalam hal ini berperan sebagai salah seorang pemimpin agama Yahudi, maka sebetulnya dengan cerita ini, Yesus mau membimbingnya untuk melihat pelaksanaan hukum kasih oleh orang Samaria.

Dalam sejarah Israel, orang-orang Yahudi bermusuhan dengan orang-orang Samaria. Mereka memandang orang-orang Samaria tidak setia beriman kepada Yahweh karena menyembah dewa/i bangsa asing (2Raj.17:29); Sehubungan dengan hal itu, mereka juga memandang orang-orang Samaria sebagai bangsa pembangkang karena tidak mau datang lagi menyembah Yahweh di Bait Suci di Yerusalem, tetapi menyembah ‘allah’ mereka di gunung Gerizim (Yoh.4:20).

Bangsa Yahudi juga meremehkan orang-orang Samaria karena mereka hanya memiliki Pentateukh (kelima kitab pertama Perjanjian Lama: kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan kitab Ulangan) sebagai Kitab Suci mereka. Padahal menurut orang-orang Yahudi, selain kelima kitab itu, masih ada kitab-kitab lain dari Perjanjian Lama yaitu kitab-kitab sejarah, para nabi dan kitab-kitab kebijaksanaan yang harus  mereka akui juga sebagai Kitab Suci.

Dalam cerita Yesus kepada ahli Taurat sebagaimana yang disajikan penginjil Lukas ini, kelihatannya, Yesus sengaja menampilkan orang Samaria dengan maksud agar menyadarkan pemimpin Yahudi itu tentang kemurahan hati sesamanya itu yang sering bangsa Yahudi musuhi dan remehkan. Imam dan Lewi yang ada dalam cerita Yesus itu berasal dari Yerusalem (kota bangsa Yahudi). Keduanya datang ke tempat korban perampokan; mereka melihatnya, namun tidak membantu.

Mereka adalah pemimpin agama, yang memimpin ibadat dan hal-hal yang berkaitan dengan liturgi; mereka mungkin belajar tetang hukum kasih dan  mengajarkannya kepada  sesama. Namun mereka tidak mempraktekkannya. Orang lain, dalam hal ini orang Samaria yang mungkin sekali tidak mempelajari hukum Taurat dan hukum kasih, yang melaksanakannya.

Dari cerita, nyata bahwa orang Samaria itu adalah orang kecil, miskin dan sederhana. Indikasinya adalah keledai tunggangannya dan dua dinar kepunyaannya. Di kalangan bangsa Israel, keledai adalah binatang beban dan biasa dipakai oleh orang-orang kecil, miskin dan sederhana. Binatang ini biasa dipakai untuk membawa barang-barang. Lalu, apa artinya ‘dua dinar’ yang diserahkan oleh orang Samaria kepada pemilik penginapan sebagai jaminan pembayaran penginapan dan perawatan korban yang dirampok itu ?

Angka ‘dua’ memperlihatkan kepenuhan, kesungguhan untuk membayar. Selain itu, angka ini menunjukkan keikhlasan hatinya sebagai seorang miskin untuk menolong sesamanya itu. Kalau kita kaitkan dengan persembahan janda miskin dalam Luk.21:2, maka dapatlah kita katakan bahwa yang ia serahkan kepada pemilik penginapan itu adalah dari kekurangannya bahkan mungkin sekali yang ia berikan itu adalah seluruh nafkahnya.

Orang Samaria tidak mempedulikan apa yang sudah terjadi di masa lampau antara bangsanya dan bangsa Yahudi. Sekarang yang ia pedulikan adalah sesamanya yang menjadi korban perampokan dan kini amat membutuhkan pertolongan. Dengan berbuat demikian, ia yang adalah orang miskin, yang dimusuhi dan diremehkan oleh bangsa Yahudi melaksanakan hukum kasih yang dipelajari oleh ahli Taurat itu.

Karena korban perampokan adalah orang Yerusalem (orang Yahudi), maka dengan menolongnya, Yesus mau mengatakan kepada ahli Taurat itu bahwa orang Samaria itu telah mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan. Bagi ahli Taurat, sesama adalah orang-orang sebangsa yaitu bangsa Yahudi saja; orang lain termasuk bangsa Samaria yang bangsanya musuhi dan remehkan bukan sesamanya. Bagi orang Samaria itu, sesama adalah siapa saja tanpa membeda-bedakan termasuk bangsa Yahudi. Siapa pun sesama itu harus dikasihi dan ditolong.

Jawaban ahli Taurat ‘orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya’ terhadap pertanyaan Yesus ‘Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari yang jatuh ke tangan penyamun itu (ay.36-37a) memperlihatkan ‘pengakuannya terhadap kasih orang Samaria.

Di sini, kita lihat bahwa ahli Taurat tidak menggunakan ungkapan ‘orang Samaria’ yang mempunyai pengertian negatif, tetapi mengakuinya (orang Samaria) sebagai ‘orang yang berbelas kasihan.’ Yesus berhasil menyadarkan pemimpin itu. Pandangannya yang negatif tentang sesama (orang Samaria) berubah. Kini, baginya orang Samaria adalah orang yang berbelas kasih. Perintah Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (ay 37b). Perintah ini dimaksudkan agar ahli Taurat itu memperlihatkan perubahan pandangannya itu  dalam melaksanakan hukum kasih kepada sesama tanpa membeda-bedakan. Dengan berbuat demikian, maka ia akan memperoleh hidup yang kekal.

Lewat perikop ini, kita diajak untuk mempunyai hati yang murni; berdialog dengan sesama dengan hati yang ikhlas, tidak mencobainya atau hanya  mau melihat kelemahannya, dan dengan itu  kemudian berusaha menjatuhkannya. Tak ayal, perangkap yang kita pakai untuk menjerat orang, pada akhirnya mungkin sekali kita sendirilah yang terperangkap ke dalamnya.

Cerita Yesus tentang orang Samaria yang melaksanakan hukum kasih, hendaknya menggugah dan mendorong kita sekalian agar tidak hanya ‘hebat’ dalam kekayaan gagasan tetapi juga ‘hebat’ dalam melaksanakannya terutama bagi sesama yang menderita khususnya yang menjadi korban kekerasan fisik: perampokan, penganiayaan, kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual, pembunuhan,dll.

Agar bisa melaksanakan hukum kasih, kita butuh bantuan Roh Tuhan. Yesus telah melaksanakan kasih Allah Bapa-Nya. “Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kol.1:15). Dalam doa, kita hendaknya dengan rendah hati memohon inspirasi, pertolongan dan bimbingan-Nya (bdk.Mzm.69:14.31-34) agar bisa menerobos batas sifat ingat diri, khususnya keengganan untuk berkorban bagi sesama siapa pun dia atau siapa pun mereka yang menderita atau yang menjadi korban kekerasan fisik itu.

Cerita Yesus tentang orang Samaria hendaknya menyadarkan kita juga bahwa banyak saudara /i yang mungkin selama ini kita musuhi atau remehkan, ternyata mereka itu mempunyai ‘hati ‘emas’, maksudnya  hati yang rela berkorban, yang rela memberi dari segala kekurangan, bahkan mungkin dari seluruh nafkahnya.

Kita hendaknya bermawas diri dan mengeritik diri sendiri: “Mengapa mereka yang seperti orang Samaria itu bisa berbuat demikian, lalu saya sendiri yang sebetulnya bisa, tetapi mengapa saya tidak rela membantu ? Apakah saya masih dikungkung oleh sifat ingat diri  dan keengganan untuk berkorban ? Apakah saya masih dibelenggu oleh kecenderungan untuk mencap sesama secara negatif sehingga sulit untuk berdialog dengan dia atau mereka ? Apakah saya bertekad mengalahkan belenggu ini ? Bagaimana caranya ?” Mungkin dengan berdialog dengan sesama, belenggu itu bisa diatasi.

Yesus mengharapkan agar kita bisa menjadi pelaksana ‘hukum kasih-Nya.’ Keselamatan kekal bagi kita terletak bukan pada hanya berteori, berbicara atau berdiskusi tentang hukum kasih, tetapi bagaimana kita harus melaksanakannya. “Berbahagialah orang yang dengan ikhlas hati melaksanakan hukum kasih ini.”

sumber foto: https://www.jw.org/id/publikasi/buku/cerita-alkitab/6/yesus-mengajar/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *