Belajar dari Bunda Maria

ring-maryMinggu biasa XXI
Bacaan: Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10bc,11,12ab; 1Kor. 15:20-26; Luk. 1:39-56
Pesta St Perawan Maria Diangkat Ke Surga 

Beberapa saat sesudah mendapat kunjungan Malaikat Gabriel, yang menyampaikan kabar gembira kepadanya di Kota Nazaret, Maria pergi ke pegunungan dan mengunjungi Elisabet, saudaranya (Luk 1:39). Pilihan untuk mengunjungi Elisabet tentu masih erat kaitan dengan kabar gembira yang keluar dari mulut Malaikat Gabriel. “Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada masa tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu (Lukas 1: 37).”

Pernyataan Malaikat Gabriel ini diungkapkan tepat sebelum Maria menyatakan kesediaannya menjadi bunda Tuhan. Malaikat Gabriel meletakkan informasi perihal mengandungnya Elisabet, bersamaan dengan penjelasannya tentang kuasa Roh Kudus, saat Maria bertanya, “..Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami? (Luk 1: 4).” Dan ketika Maria juga tahu bahwa saudaranya, Elisabeth, sedang mengandung, padahal ia mandul, maka bertambahlah kegembiraan Maria.

Jadi, kesediaan Maria menjadi ibu Tuhan, pertama ditunjang oleh kepasrahan dan ketaatannya pada Kehendak Tuhan, dan kedua, karena Roh Tuhan juga sedang bekerja di dalam diri saudaranya. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1: 38). Maria tidak sendirian, saudaranya Elisabet juga saat ini sedang mengandung.

  Kabar gembira yang meluap-luap di dalam diri Maria, tepatnya kepada siapa disampaikan? Bisa dibayangkan, betapa rumitnya menyampaikan kabar gembira itu kepada keluarga dan para tetangga bahwa dirinya sedang mengandung, padahal ia belum bersuami? Secara sosial, masyarakat akan memberi reaksi negatif. Dan Maria memutuskan untuk mengunjungi Elisabet dan membagi sukacita yang besar ini.

Saat Maria tiba di rumah Elisabet, mulut Zakharia sedang terkunci, ia bisu sampai kelahiran Yohanes. Maria datang dan memberi salam. Ketika salam Maria terdengar, melonjak pula anak yang ada di dalam rahim Elisabet dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus. Elisabet adalah orang pertama yang menyebut Maria, ibu Tuhan. “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? (Lukas 1: 43). ” Elisabet menyadari bahwa mesias sedang hadir di situ, di dalam rahim Maria.  Dan begitu besar sukacita itu sehingga Elisabet tidak tanggung-tanggung menyebut Maria sebagai perempuan yang diberkati. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Lukas 1;42).

Dikisahkan bahwa Maria tinggal di rumah Elisabet sampai kira-kira tiga bulan lamanya. Itu berarti, sesudah Maria kembali, usia kehamilan Elisabet sudah masuk bulan kesembilan, saatnya melahirkan Yohanes. Jadi, sebelum Yohanes lahir, Yesus sudah terlebih dahulu mengunjunginya dan sesungguhnya bukan Yohanes yang menyiapkan jalan bagi Tuhan, tetapi Tuhan Yesuslah yang mempersiapkan jalan bagi kelahirannya.

Perjumpaan Maria dan Elisabet boleh dibahasakan sebagai perjumpaan rohani orang-orang sederhana dan rendah hati.  Mereka berbagi pengalaman keberlimpahan kasih Tuhan dan komunikasi antarpersonal yang mereka bangun adalah komunikasi yang dilandasi oleh sikap penghargaan yang luar biasa atas kasih Tuhan. Bukan sebaliknya, komunikasi yang menonjolkan kelebihan masing-masing pribadi: soal jabatan, status sosial, kekayaan, atau kehebatan masing-masing orang.

Sharing pengalaman Maria dan Elisabet justru dibangun di atas kesediaan untuk mengosongkan diri di hadapan Tuhan. Bahwa mereka tidak ada artinya di hadapan Tuhan, tetapi Tuhan menggunakan mereka sebagai sarana keselamatan. “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya…” (Luk 1: 1-48)

Perjumpaan Maria dan Elisabet ini idealnya memberi inspirasi bagi setiap kunjungan atau visitasi yang kita lakukan. Orang yang kita kunjungi harus merasa gembira menerima kehadiran kita, bukan sebaliknya, ia mengeluh dan kecewa. Apalagi, jika kehadiran kita justru memperumit persoalan yang sedang mereka hadapi.

Maria tinggal di rumah Elisabet selama tiga bulan mendampingi saudaranya, ketika Elizabet dan Zakaria sedang menghadapi satu persoalan yang agak rumit. Mulut Zakaria terkunci, sedangkan Elizabet sendiri membutuhkan perhatian lebih dari sang suami. Maria hadir dan melengkapi kebutuhan mereka, dan putra Elizabet, Yohanes pun, sejak dalam kandungan ibunya, ia sudah mendapat didikan dari dua orang ibu: Maria dan Elizabet. Tuhan tidak membiarkan Zakaria berbicara sedikit pun dengan Yohanes, ketika Yohanes masih dalam kandungan ibunya.

Kualitas rohani yang dimiliki Maria menjadi teladan bagi gereja. Sehingga pada tanggal 1 November 1950, Paus Pius XII, mengeluarkan doktrin Munificentimtissimus Deus, yang berisi penghargaan yang istimewa kepada Bunda Maria. Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru, tempat Sang Sabda hidup dan berkembang, telah disucikan dan setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu adalah konsekuensi dari dosa manusia. Untuk itu, pada hari ini juga gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria ‘diangkat’ ke surga.

Gereja menggunakan istilah ‘diangkat’ karena Maria adalah seorang manusia. Gereja yakin bahwa Allah senantiasa memberi hak-hak istimewa bagi mereka yang setia kepada-Nya. Maria, sering disandingkan dengan tokoh Hawa. Dahulu karena kesalahan satu orang, seluruh umat manusia jatuh dalam dosa, sedangkan ketaatan satu orang, Maria, umat manusia dibenarkan (Rom 5: 18-19). Hawa, dahulu mengambil bagian dalam ketidaktaatan Adam, sedangkan Maria, sebagai Hawa baru, mengambil bagian dari ketaatan Kristus. “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1 Kor 15: 22).

Mari kita belajar dari Bunda Maria. Sejak awal Bunda Maria sudah memutuskan untuk taat pada Tuhan, walaupun banyak hal yang tampaknya tak mungkin terjadi jika kita menggunakan ukuran manusia. Ketaatan bukan satu pilihan yang mudah untuk dijalankan. Untuk itu, Bunda Maria mengajarkan cara yang sangat mungkin kita lakukan, yakni mengosongkan diri, menyadarkan diri bahwa segala sesuatu yang kita miliki ini adalah bukti kebaikan Tuhan. Pertanyaan yang penting untuk kita renungkan, apakah ada hal tertentu dalam hidup ini yang membuat kita tidak sudi melepaskan ketergantungan kita pada harga, jabatan, atau kebanggaan akan kemapanan? Maria telah mengosongkan diri seperti tabut Perjanjian Baru agar Sang Sabda bisa hidup.

Dalam membangun komunikasi dengan Elisabet, Maria melibatkan seluruh diri, termasuk dengan seluruh kegembiraan rohani untuk membagi pengalaman akan kemurahan Tuhan dalam setiap jengkal hidup mereka. Hal ini mungkin terjadi, jika ada kesediaan untuk menyiapkan waktu hening, sehingga setiap pengalaman yang dialami selalu dimengerti sebagai satu kisah keselamatan yang sudah Tuhan rencanakan.

Seorang webmaster, beberapa waktu lalu mengisahkan kepada saya, rahasia yang memungkinkan dirinya bisa mendapat sekian banyak kemajuan dalam tugasnya sebagai seorang webmaster. “Hal paling penting bagi saya adalah menyiapkan waktu hening di pagi hari sebelum menjalankan seluruh aktivitas.“ Dalam keheningan Tuhan berkarya dan rahmatnya mengalir dalam seluruh rencana baik yang kita sudah bangun.

Bersama Bunda Maria kita yakin bahwa rahmat Tuhan tak pernah berhenti mengalir bagi mereka yang takut dan setia kepada-Nya. “Sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan namanya adlaah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takuat akan Dia” (Luk 1: 48-50). (Bill Halan)

sumber foto: https://paskalina.files.wordpress.com/2013/05/ring-mary.jpg

https://ramacristo999.files.wordpress.com/2014/08/3077_501871469895554_2142573173_n.jpg

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *